SASTRA

Matahari Adalah Setan

Oleh: Darah Mimpi*

Jago milik tetanggamu telah berkokok. Fajar di angkasa sudah lenyap. Hadirnya diselingkuhi esoknya pagi. Semut yang berbaris di Pohon Nangka, sudah dari tadi menggayuh langkah untuk berjalan membalik arah, dengan saling bersalaman. Di rantingnya ada seekor burung berparuh tajam yang tengah jeli menebar pandang, ingin mematuk ulat hijau di depan wajahnya. Ulat itu pun menggeliat-geliat tertelan sampai ke pencernaan burung. Dedaunan di pedesaan bergesekan dengan napasnya Bumi. Hujan tidak turun di pagi hari, tentunya raut wajah hari itu berbinar sumringah.

CERPEN, EDUNEWS.ID – Seperti biasa penduduk yang menduduki kehidupan di kaki Gunung Sumbing itu telah menderapkan langkah menuju ladang. Jika esok datang, ladang adalah naungan, jika petang menjelang surau dan atap rumah adalah tempat mengadu perasaan. Rasa lelah seharian bekerja, rasa kesal karena peluh deras, kebutuhan keras. Andaikan hidup tanpa selembar kertas, mungkin paras penduduk itu tak akan melas. Matahari di atas sudah memanggang habis tubuh mereka, namun mereka tetap tidak takut. Cangkul dibacokkan di atas tanah hingga tanah itu menggembur. Keringat yang bercucuran hanya sekali diusap. Tak risau walau bau badan busuk seolah tidak mandi satu tahun.

Walaupun begitu, mereka para pecinta tanah pegunungan sejati itu, tidak akan pernah marah terhadap Matahari. Tanpanya tanaman mereka tidak akan hidup menjadi berarti. Kalau tidak hidup, anak dan istri mau diberi makan apa nanti? Tidak mungkin toh diberi nasi merah dari lempung pertiwi? Jadi menurut mereka peluh yang mengalir dari tubuh mereka karena sengatan terik mentari adalah sebuah anugerah Ilahi .

Yang tua membanting raga, yang muda kluyuran dan tongkrong di pinggiran desa. Itulah kau. Orangtuamu subuh tadi berangkat menimbun harta untuk masa depan. Sementara kau masih berbalut selimut tebal dengan lambaian tangan mimpi. Dengkuran kausiulkan, peta dunia kaulukiskan. Dari liurmu yang menjijikkan. Dasar kau manusia yang pandai bermalas-malasan.

Pagi itu kaubangun membuka selimut tebalmu. Tepat pukul sepuluh tentunya kaubangkit dari ranjang tua yang lusuh dan hampir setiap sudutnya dimakan rayap-rayap itu. Kamarmu kaubiarkan berantakan. Selimut, sepray, bantal, dan guling tak kaurapikan. Wajahmu saja yang lalu kaubasuh dengan air krans. Katanya agar nampak tampan walau tidak mandi. Ah kau memang konyol!

Semalam kaubegadang sampai pukul dua pagi. Katanya mau belajar menguras PR dari sekolahan, eh matamu malah kaulototkan untuk menonton bola. Alasan pagi kau masih terkantuk, dan ingin mengadudombakan kepalamu yang pening, agar tidak disuruh membantu orangtuamu di ladang, lantaran hari ini adalah hari Minggu. Dasar kau si empunya otak bulus.

Kaubangkit dan keluar. Jongkok di atas tanah basah yang memadat. Di terasmu banyak ragam tanaman hias, dari Mawar sampai Dahlia. Ke semuanya tertata rapi mengikuti jalan. Udara di terasmu pun menyejukkan tenggorokan. Lantas kau menjadi bangga karena hari ini kaubisa bersantai ria di teras rumahmu, tanpa adanya gangguan dari ke dua orangtuamu yang kini tengah sibuk di ladang.

Matahari sudah naik ke atas kepalamu. Sesekali kauberdiri untuk merenggangkan otot-ototmu. Sarung yang tadinya melilit punggungmu, kaulepas dan kautaruh di dalam rumah, sesudahnya kau keluar kembali menikmati panasnya bola angkasa yang melayang di atas kepalamu.

Baca juga :  Sajak-Sajak Nurwahidah Shaleh

Bersamaan itu datang kawanmu, Suparman. Lelaki berkepala duapuluh lima yang tak lain adalah tetanggamu. Dia memakai kaos hitam serasi dengan celana pendeknya. Menyapamu dengan senyuman, lalu merangkak langkah menujumu. Kau pun tersenyum kepadanya.

Lagi opo, Met?” Sapanya.

“Aku lagi kekareng Mas, nyari vitamin D,” balasmu dengan senyuman.

Kau lalu mengajaknya duduk di kursi yang tertata di depan rumahmu. Kursi tua yang berasal dari bambu itu berlapis cat cokelat sepadan dengan kulitmu. Pagi itu kaubuatkan secangkir kopi hangat di dapur. Gulanya tak kaularutkan di dalamnya, melainkan kauletakkan di gelas lain, supaya Suparman mengambilnya sendiri sesuai selera. Kau pun mengantarkan minuman itu kepadanya dengan nampan plastik hijau. Usainya kauikut duduk di sampingnya. Duduk memangku kaki rilek tanpa beban. Menatap tanah yang memadat dengan lumut hijau itu.

“Di mana ibu dan ayahmu?” Tanya Suparman mengawali pembicaraan.

Sampon tindak teng ngalas Mas, ada apa to kok bertanya tentang ke dua orangtua kulo, Mas?”

“Musim panen iki Met, kalau bisa bapak dan ibumu mau saya suruh manen singkong di ladang saya,” jelas Suparman.

O begitu, mangken kulo sanjangke Mas,”

Yah kuwi karepku, ngomong-ngomong dari tadi kamu berjemur di sini terus, opo nggak takut kulitmu ireng, Met?” Suparman mengalihkan pembicaraan.

Hahahaha… Mas, Mas… kalau saya takut sama Matahari, bagaimana saya hidup Mas. Wong seluruh makhluk di dunia ini membutuhkan sinarnya, nyatanya dia bisa memberikan vitamin D bagi kulit manusia, bisa juga sebagai pembantu proses fotosintesis, lahnopo juga takut sama tubuhnya,” katamu seolah sedang menjadi guru.

Aduh Slamet, kowe ki jan pinter tenan! Beruntung kamu bisa sekolah sampai tahap SMA, apalagi sekarang juga sudah ada bantuan dari pemerintah mengenai biaya pendidikannya, lahndisik awakku sekolah mung tamatan SD, Met.” Suparman berkata dengan iba. Sesekali dia menyeruput kopinya yang kental murni akan rasa pahitnya yang melekat di lidah. Biasanya Suparman lebih suka menikmati secangkir kopi hangat tanpa gula, beda dengan dirimu yang jika kopi itu tidak ada gulanya, kau pun tak akan meminumnya.

Ah, bantuan pendidikan macam apa, Mas? Saya saja masih dituntut bayar ini, bayar itu. Memang kadang ada bantuan, tapi entahlah saya kurang paham bantuan itu habisnya ke mana. Koknggak ada keterangannya yang jelas.”

“Mungkin dikorupsi Met,”

Ahnggak mungkin Mas kalau sampai dikorupsi. Guru itu kan berpendidikan Mas, masak bisa ada niat untuk mengorupsi bantuan dari pemerintah, tidak mungkin Mas.”

“Kata siapa tidak mungkin Met, orang para penjabat yang pendidikannya sampai mendapat gelar doktor, ada yang korupsi kok!” Suparman tetap bersikeras mempertahankan egonya.

Ah… tetap saja tidak mungkin Mas, mungkin Mas Suparman dapat berita yang tidak benar tentang korupsi, kalau menurut saya orang berpendidikan tidak akan pernah melakukan hal senaif itu,” katamu mantap.

Lah kabar nggak bener bagaimana? Wong aku yo lihat neng televisi,”

Hahahaha… itu wartawannya saja yang bodoh Mas, wartawannya mau cari sensasi agar pemerintah dimusuhi banyak rakyat. Sejelasnya di negara kita ini tidak ada yang korupsi, negara kita dipimpin oleh penjabat yang telah mendapatkan gelar-gelar tinggi dari universitas yang tidak sembarangan. Tentunya mereka tak akan melakukan hal itu, kan pendidikan adalah  suatu sarat sudut pandang seseorang dalam melakukan suatu tindakan to, Mas?”

Baca juga :  Anggota IGI Bantul Menangkan Lomba Menulis Cerpen Festival Geopark Gunung Sewu

Suparman bingung dengan laju pikirmu. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Diam tanpa mengungkap kalimat lagi.

“Pemerintah adalah Mataharinya rakyat jelata. Dia seharusnya bisa menyinari rakyatnya dengan kehangatan, agar hidup rakyatnya bisa tentram, damai, dan tentunya subur seperti tanaman yang aktif disinari Matahari. Kalau pemerintah tidak bisa melakukan hal itu, sama halnya pemerintah adalah Matahari yang menjadi setan bagi rakyatnya. Tentunya hadirnya akan membuat kerusuhan dan memakan banyak emosi jiwa rakyat. Akhirnya banyak gelandangan dan pengangguran serta demo di mana-mana. Tapi Mas bisa lihat to? Apakah ada pengangguran di desa kita?”

Seolah dirimu tidak sadar kalau saat ini kau sedang menganggur. Dari pagi belum jua tanganmu menyentuh pekerjaan, kecuali membasuh muka dan membuatkan secangkir kopi untuk Suparman.

“Ya banyaklah, nyatanya anak muda sepertimu kalau sore pada nongkrong di depan desa, kalau tidak ya lihat warga sebelah, pada banyak yang tidak punya pekerjaan.”

Ah Mas tidak jeli melihat pekerjaan mereka sehari-hari. Kalau anak muda seumuran saya, menonton bola dan begadang sudah menjadi pekerjaan, kerja kan tidak harus yang membuahkan uang. Kami nongkrong juga mendiskusikan sesuatu, tentang cewek misalnya, itu kan suatu pekerjaan mulut. Asal Mas tahu ya! Tidak ada pengangguran di desa atau pun di negara kita, kecuali pemerintah tidak bisa menangani rakyatnya dengan baik.”

Katamu bijak sok benar, padahal kau pun tidak tahu apakah itu benar atau salah. Suparman yang tamatan SD itu pun bingung, tak tahu kata apa yang tepat untuk diungkapkan.

“Saya yakin kalau pemerintah tahu banyak pengangguran di negaranya, dia pasti menyediakan lapangan pekerjaan,” tambah ucapanmu.

Yowes kamu pintar dan cerdik kalau begitu, o ya kok pikiranmu bisa seperti itu. Apa kamu tidak pernah lihat berita di televisi?”

“Boro-boro televisi Mas, radio saja tidak ada,” katamu PD. “Biasa saja Mas, nggak pintar kok, nyatanya saya rajin malas-malasan, setiap malam begadang!” serumu tanpa malu.

Hahahahaha, anak muda jaman sekarang,” seloroh Suparman dengan kekehan jago.

“Mas, bayangkan kalau di dunia ini tidak ada Matahari, apakah akan ada kehidupan?” kamu mengalihkan topik pembicaraan seraya menatap langit yang biru.

Lah, kowe ngomong opo to, Met? Mana bisa, itu berarti kiamat!” Suparman menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Itu berarti semua makhluk di dunia ini membutuhkan sinarnya,” terangmu. “Sebagaimana tanaman di ladang yang setiap hari kita makan, tanpa adanya Matahari mereka tak akan hidup subur, walau hujan terus turun. Hal itu akan membuat tanaman malah mati, kalau kebanyakan air yang masuk ke dalam tanah. Sama halnya dengan rakyat di negara kita, kalau tidak ada pemerintah, ya tidak mungkin ekonomi dan pendidikan bisa berjalan lancar, siapa yang mau mengurusi? Untuk itu tentunya Matahari sangat dibutuhkan bagi kehidupan,  sebagaimana halnya pemerintah yang dibutuhkan oleh rakyat,”

“Ya, bener omonganmu!”

“Semua makhluk di Bumi, dari hewan tak berotak, tumbuhan, sampai manusia memerlukan sinar Matahari. Dia yang selama ini menopang kehidupan,” lanjutmu.

Baca juga :  Cerpen: Tinta

“Ya. Tapi menurutku ada ki, makhluk yang menganggap Matahari adalah setan!” kata Suparman mengeluarkan pendapat.

“Mana mungkin Mas, nggak ada di dunia ini yang bisa hidup tanpa Matahari, walau terkadang panasnya membuat sekawan manusia berpeluh hebat,” sanggahmu dengan mantap.

“Tapi makhkuk iki, nak terkena sinar Matahari dia malah akan mati. Setahuku dia sangat takut dengan Matahari, hidupnya di tempat yang lembab, yang jarang ditembus Matahari.” Suparman berkata panjang lebar.

Kali ini keningmu berkerut. Kau tak yakin jika di dunia ini ada makhluk yang takut dengan Matahari. Memang sengatan teriknya seolah akan berkesan memanggang tubuh para makhluk. Tapi adakah kehidupan tanpa Matahari? Nampaknya itu mustahil. Gelap saja masih ada sinar Matahari yang membantu penerangan kepada Bumi dengan cahayanya yang memantul di tubuh rembulan. Itu belum seutuhnya Matahari lenyap, aktivitas di Bumi sudah terlelap. Apalagi kalau Matahari tidak ada. Menurutmu bodoh sekali makhluk yang takut kepada Matahari.

“Mana ada Mas, makhluk takut Matahari, kecuali dia telah mati,” kamu tetap tak percaya dengan ucapan Suparman.

“Itu,” Suparman menunjuk gundukan kotoran ayam yang berwarna hitam kehijau-hijauan. Kotoran ayam itu telah memadat karena tersengat Matahari. Di atasnya ada seekor makhluk berbadan lurus, sebesar mie bihun, warnanya putih mulus, sedikit kebening-beningan. Tubuhnya menggeliat-geliat karena tersengat sinar Matahari. Segunduk kotoran itu terdampar di depan terasmu. Makhluk itu telah dikeluarkan dari pencernaan ayam milik tetanggamu.

O… cacing! Iya juga yo?” kamu baru menyadarinya.

“Berarti tak selamanya Matahari memberikan naungan indah kepada makhluk di Bumi ini, sama halnya dengan pemerintah walau sudah berpendidikan. Belum tentu dia sudah menaungi seluruh rakyatnya dengan kemakmuran,” Suparman memutar balik kalimatmu. Kau pun mengangguk-anggukkan dagumu berusaha memahami.

“Matahari bisa menjadi setan bagi cacing, pemerintah pun bisa menjadi setan bagi rakyat jelata, jika dia pandai bersilat lidah. Apalagi kalau sampai korupsi.” Lanjut Suparman mantap. “Di televisi banyak berita tentang kasus penggelapan dana, banyak pula kasus kemiskinan yang merajalela, serta pengangguran berkluyuran di mana-mana hingga akhirnya memotivasi timbulnya kejahatan tragis. Seperti perampokan dan pembunuhan,”

Kali ini kau mati kutu. Kau tidak bisa berkata-kata lagi. Hanya diam seribu bahasa memangku pemahaman kalimat yang kaudengar. Akhirnya kau pun berkata,

“Dasar setan! Kurang ajar,” kau nampak seperti tak punya pendirian. Awalnya kaubela pemerintah, sekarang kaukata dia setan.

Azan duhur memekak telinga. Suparman mengakhiri obrolannya. Dia bangkit usai meneguk  kopinya. Meninggalkan kumpulan lumpur serbuk kopi yang masih mengendap di lantai cangkirmu. Dia berpamitan kepadamu, karena ingin sembahyang di surau sebelah. Kau pun tak mampu melarang kepergiannya. Suasana rumahmu kembali hening seperti esok tadi. Dibereskan cangkir bekas kecupan bibir Suparman itu, lalu mencucinya di dapurmu yang rapuh. Tak kauhiraukan lagi seekor cacing putih itu yang mati terkapar karena sengatan bola pijar angkasa.

04 Juni, 2014. Kala lamunanku bersama kekasihku cacing. Untuk kau yang singgah di atas sana! Omong kosong sudah tak pantas lagi berirama!!!

Darah Mimpi. Nama pena dari Titin Widyawati. Gadis yang gemar dengan pesona alam. Hari-harinya dihabiskan dengan tidur dan melamun.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!