Puisi

Puisi : Aku Secangkir Kopi

Aku secangkir kopi di rembulan matamu, mengadu nasib disetiap desah nafasmu.

 Aku cawan menatapmu berpeluk asa menatap kasihmu.

Aku tak pernah tersentuh bibir cintamu.

Aku diseduh mengerang lara. Menubuh merasai tubuh, lagi tenggelam dalam asma legit tubuhmu.

Aku memandangmu, berpacu nafas di selah aroma dukaku. Lingkar tubuhmu, dibelai lembut. Mengecup hening malam. Kuingin pinjam senyummu, mengeja bilur luka yang jatuh.

Aku duduk berlapang, mengelih renyutmu.

 Aku takut, esok tiada lagi senyum mengarak mataku. Menasbih luka yang tenggelam di bunga bibirmu. Katamu “Besok aku sudah bermakan dilantunan hujan tanpa nisan”.

Aku mengepul sendu, merintih aroma apak, aku berlumur sepat malam, menyurat takdir. Air mataku jatuh di pintu sakitku, tak menemukan orang-orang diperjalananku pulang.

Aku ingin merengek pilu bersandar di bahu seorang, rintihan hujan menyambutku doa-doa kematian.

Advertisement

Aku ingin memanggil namamu; lekas kamu tempias “Aku milik lelakiku, beranjaklah ke meja lain. Jangan menantiku di sini. Kamu hanya secangkir kopi”

Lekas aku pergi, pucut katamu terus menghujam tubuhku. Perasaanku kusimpan dalam seka. Kuingin membara di langit kesedihan.

Menetes menghitung waktu penantian malam terakhir. Sungguh pahit kenangan itu, beranjak tak pernah pergi. Disetiap desah nafasku mengenang malam-malammu berlalu, penuh cinta dan birahi kehidupan.

Aku hanya menggenggam kenangan. Ketika pintu ingatan berdecit, nanar luka berjatuhan. Namamu tak dapat kusangkal. Getir secangkir kopi, mengepul kesedihan masa silam. Ingatanku yang pahit, hadiaku dari sesak mencintamu.

 

Widia Pangestu

Perempuan Pecinta Puisi

 

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com