Puisi

Puisi-puisi Ahmad Arham

Rindu Yang Tak Pernah Tuntas

Sehelai bulu mata terjatuh menyentuh rindu pada hati yang mendaku,
Kenangan lalu
penuh tutur yang tak kan pernah luntur,
Sosok yang terbayang selalu hadir di anganangan,
Lalu cerita mendekapkanku penuh harap untuk ku rangkai pada titah penuh ratap

Kau adalah cerita
Namamu memantik air mataku
Tejatuh berlinang air mata darah
Kenangmu hanya luka yang terpendam
Lakumu tak kan pernah terlupakan
Sosokmu ingatkanku senja di ujung luka.

Adakah belain kala lalu
Adakah dongeng sebelum tidur
Adakah iman diwaktu subuh
Adakah sambut di gerbang sekolah
Adakah hangat di meja makan

Kau telah berlalu
Kau tinggal kenangan
Kau gengam kuntum yang penuh racun
Yang tak kan pernah mununtaskan rindu yang mendera.

Baca juga :  Warga Bali Tak Sudi

Kau memenjara luka
Secepat itu kau memilih wukuf
Namamu kau tuliskan di batu abadi
Tak kau sandingkan namaku di batu nisanmu, sesekalipun surgamu tak kau biarkan aku merasakanya.

 

Kitab Sudi

Orangorang pada kalang kabut
Berteriak atas nama kitab
Berjalan diatas sajadah
Berlari membawa belatih
Menuduh seenaknya memaki.

Jalanjalan kota semakin riuh
Pesta politik jadi tembikar
Berjejeran orangorang duduk bersilah menanti Setoran
Mulut sang kusir ditodongkan uanguang
Kuda berjibaku berlari menuju istana

Kodokkodok pada mati terpanggang diatas tungku.
Rusarusa berlari mencari perlindungan
Rerumputan layu memerah
Banteng banteng semakin romantis
Berkejaran romansa india ditaman istana.

Galak riuh tawa para penonton
Berteriak girang diberanda facebook
Berbisik nista di media cetak
Meraup untung di acara tayang milik event organizer.

Baca juga :  Harga Sebuah Kehormatan Bagi Lelaki Bugis

Serabut kata kudendangkan
Irama cinta temani temaram
Malam mulai larut
Membawa kita pada kemenangan yang atas nama ayatayat pada kitab sudi.

 

Penyamun Malam

Kala tibah subuh
Tak ada lagi suara ayam berkokok
Hanya ada puntungpuntung rokok yang berserakan di tinggal tidur para penyamun malam.

Di sudut jejeran bangunan kota
Tak kau dengar lagi suara hewanhewan yang beradu merdu pada secerca harapan untuk tuanya.

Kini kotakota menjadi tak ramah lagi
Kacakaca Jendela mulai dipenuhi debu
Loronglorong gedung berserakan sampah. Selokanselokan pada tersumbat dipenuhi air
Jalanjalan kota kembali sesak
Mentari mulai menyengat.

Esok aku kembali
Tak kulihat satupun para penyamun malam di kamar sesak penuh asap.

Baca juga :  Soal Puisi Sukmawati, MUI : Orang yang Bangga tidak tahu Syariat Islam adalah Kecelakan

Dia tidak di mall
Tak pula di jalan
Apalagi di kelas
Rupanya mereka di diperpustakaan
Mencuri bukubuku yang orang abai
Akan semua itu..

Ahmad Arham. Ketua Umum Lembaga Kajian Ilmiah Mahasiswa Bertakwa (LKIMB) Universitas Negeri Makassar.

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com