SASTRA

Cerpen: Tengadah Jemariku, Uapkanlah Bagai Embun

Oleh: Andi As(Nima)Fatimah

Saya benar-benar tidak tau, jenis apakah rasa (mu) dan rasa(ku)itu…?

Apa kabar keinginan hatimu?? Samakah keinginan hatiku??

Apa kabar rindumu?? Samakah rinduku??

Saya tidak benar-benar tau, apakah rasamu sama dengan rasaku…?

*     *     *     *     *

Rabbi…ampuni aku dan rasaku, telah lancang mendahului garis takdirmu.Entahlah… apakahDia untukku.Aku hanya mulai menyukainya.Entah ini tumbuh di waktu dan tempat yang belum seharusnya.Aku hanya menyukainya.Maafkan aku…maafkan aku, tapi bukankah “rasa” juga berasal dariMu?

Tugaskulah yang menempatkannya_baik

*     *     *     *     *

Aku kebingungan mencari-cari diriku yang terbawa arus tiba-tiba.Tiba-tiba saja kau menghubungiku ketika sibuk-sibuknya diriku menggandakan tesis untuk memenuhi berkas persyaratan wisuda magisterku.Tiba-tiba saja kau bertanya rencana hidupku, “Mau apa setelah ini?” Kontan saja aku tertawa, dan menjawab asal, “Melanjutkan hidup seperti kebanyakan orang”.

Entah ke mana arah pertanyaanmu, saya mulai tidak nyaman dengan percakapan ini.Lalu tiba-tiba juga tanpa kuminta dengan lugasnya kau bercerita tentang rencana-rencanamu. Bagiku tak lazimnya dua orang yang jarang berinteraksi, bertemu, bahkan berbicara, tiba-tiba terlibat pembicaraan tentang masa depan. Saya mulai kehabisan bahan, bertanya sekenanya, namun teta pmembalas setiap candaamu agar perbincangan ini tidak canggung. Hatiku mulai bertanya. Kenapa? Insting kewanitaanku mulai berjalan detik itu juga sampai detik-detik berikutnya.

Besoknya… Besoknya lagi… Hatiku mulai diliputi tanda tanya besar yang banyak. Kenapa? Ada apa? Hingga kau tiba-tiba sering menghadirkan dirimu dalam suara dan kata, tak biasanya. Bagiku tidaklah wajar.

Tapi tanpa seizin seluruh ragaku, ternyata beranjaknya waktu dari sepersekian jam sehari aku mulai menikmati deringan teleponmu, melompat meraih ponsel ketika terdengar bunyi pesan, meski ternyata aku salah. Itu dari orang lain. Meringsut, lalu melempar kembali ponsel ke tempat tidur. Entah kapan tepatnya senyumku merekah ketika membuka pesan dan itu darimu. Aku, diriku… Menjadi dua. Satunya girang, satunya lagi mewanti-wanti. Itu pertarungan. Kau telah mengacaukan warasku. Membanting-banting harga diriku karena kau telah menyedot perhatianku sedemikian cepatnya. Aku tidak suka itu.

Berawal dari obrolan angin dengan seorang teman lama yang serta-merta menyandingkanmu denganku. Hal yang tak pernah seujung kukupun terlintas di kepalaku. Dari sanalah bermula namamu sering tiba-tiba muncul dalam bawah sadarku. Lalu saya menghalaunya, tapi datang lagi. Berkali-kali. Padahal kita tak saling melihat, tak saling tahu menahu kabar.

Lalu pikirku menjadi akut karena tiba-tiba saja kau selalu menghubungiku. Nyata, sesuatu yang tidak kuinginkan.Tiba-tiba menelponku hanya sekedar bertanya kabar, bertanya aktivitas, saya tidak suka tapi juga luwes saja bercerita. Dalam waktu sesingkat itu kau menyedot energiku memikirkanmu. Semua serba menjadi tiba-tiba. Tiba-tiba mengubah semua sudut pandangku tentangmu.

Saya suka caramu bercanda meskipun kadang-kadang membuat tidak enak, saya suka cuek-cueknya dirimu tapi sebenarnya kau peduli, saya suka caramu menganalisa di luar kebanyakan cara pandang orang lain, saya suka kemerdekaan berpikirmu tak membiarkan intervensi siapapun menguasai tanpa nalar berpikirmu, saya suka merendahnya dirimu demi meninggikan orang lain, saya mulai suka bacaanmu yang membawa liar berpikir kritis, saya suka hanif-hanif terselubungnya dirimu yang mengecoh banyak mata karena saya tidak memandangmu verbal, saya suka caramu mencitrakan dirimu sebagai bad boy keren yang berkarakter namun entah kepercayaan darimana saya selalu percaya-percaya saja bahwa sebenarnya kau ini baik, saya suka lembutnya hatimu ketika bercerita tentang ibumu, saya suka keterbukaan dirimu dan…sangat suka karena kau ternyata jago memetik gitar. Mungkin juga kau jago menyanyi lagu romantis. Dan (semoga) kau juga jago dalam urusan akidah ad dien-mu. Sesaat aku menikmati itu.Sekelebat pikiran-pikiran liar terlintas. “Bangun oiiii…!” Begitu nalar sehatku membangunkan aku dari lamunan. “Hei… ini bukan aku”.

Akhirnya aku mulai ketakutan sendiri, tak biasanya membiarkan diriku meladeni seseorang bahkan untuk perbincangan yang tidak jelas ujung pangkalnya, yang menurutku tidak ada penting-pentingnya untuk dibahas.Tapi tak bisa menghentikanmu terus bertanya tentangku, meski hal yang itu-itu saja. Aku khawatir dengan diriku sendiri yang tak bisa juga mengontrol diri untuk tidak meladenimu.Aku takut terjebak oleh perasaanku. Sendirian. Tidak! Ini tidak boleh dibiarkan. Bukankah selama ini saya begitu terlatih menjaga diri.

Maka kupasanglah pagar pertahanan diri di sekelilingku. Memberimu warning, mengintrogasimu bagai singa kelaparan, disenggol sedikit ngamuk. Ada apa??? Kenapa??? Sampai kau bergidik ketakutan waktu itu. Lalu keluarlah pisau pertamamu yang sedikit mengiris hatiku. “Tidak…tidak ada apa-apa. Saya hanya ingin mengenal. Mengenal kembali. Lagian bukankah kita akrab dari dulu??? Apa salahnya menjalin komunikasi?

Dadaku sesak, itu sedikit menyakitkan. Sepertinya bukan seperti itu yang kutunggu. Ada irama kecewa dalam nadiku. Semula kuyakini, bahwa kau tengah menujuku. Bermaksud baik dan akan menawarkan masa depan bersama. Entah cepat atau lambat. Itu kuyakini. Jika itu baik, mengapa tidak ada salahnya kuberi sedikit ruang. Begitulah saya pernah dinasehati, jangan terlalu menutup diri. Tapi ternyata jika membuka diri bukan diawali dari niat baik dari kedua bela pihak, itu bisa menjadi bencana. Maka jangan sekali-kali membiarkan sedikit celah membawa diri pada pemakluman-pemakluman, sebab standar Allah selalu berlaku. Kapanpun. Di manapun. Siapapun.

Baca juga :  Puisi-Puisi Hafiz Darmawan

Nyatanya diri saya terdominasi oleh rasa asa asing menggebu yang meski kutekan masuk ke dalam, sedalam dalamnya rasaku yang timbul tenggelam selalu saja ingin muncul kepermukaan. Dan itu bagai mengangkat batu di dasar perairan yang dalam, terangkat sedikit lalu terjerembab lagi ke bawah, tepat di dasar. Kaulah batunya itu.

Setiap kau menghilang, tenggelam jugalah riak-riaknya. Aku tenang lagi, “Oh…tidak, ini hanya sesaat, terlampau terbawa perasaan saja”. Kupegangi dadaku dan kurasakan. Benar. Hanya sekilas. Ok, bisa diatasi.

Namun ternyata hatiku tidak ada komprominya ketika kau tiba-tiba muncul lagi mengajakku bercerita renyah. Catat..!! Inilah saat-saat tangan saya gatal rasanya ingin menamparmu. Saat di mana kau datang (lagi) tiba-tiba seolah dunia dan kehidupan ini semuanya dalam genggamanmu, bebas kau atur. Termasuk juga perasaanku. Dan tak berselang kau hilang lagi. Damnn!!!

Kau meruntuhkan lagi segala pertahanan diriku yang kubangun dengan sisa kewarasanku untuk mendindingi hatiku darimu yang liar mengaduk-aduk nalar berpikirku, juga emosiku, juga energiku. Itu tidak mudah. Itulah pisau yang kesekian yang mengiris sedikit-sedikit. Perih.

Kau bisa bayangkan bagaimana rasanya membalas candaan ketika hati rasanya mendidih marah. ”Kalau kau benar-benar tidak punya maksud kenapa selalu saja mendatangiku dengan pertanyaan-pertanyaan konyolmu?

Kita bukan lagi anak SMA yang akan berbunga dengan pertanyaan, “Hei… Apa kabar??, Hei… Di mana??, Hei… Lagi mengerjakan apa??,Hei.. .Kok pesanku tidak dibalas??, Hei… Kau marah???, Hei.. . Sekarang kau sombong”.

Lantas… Kenapa kau tak berhenti? Terus membawa isi kepalaku berpikir bahwa kau tengah mencari-cari celah untuk tetap terhubung denganku entah dengan cerita apapun. Sayangnya itu menyakitkan bagiku, entah bagimu. Mungkin begitu menyenangkan mendengarku bercerita seolah riang membalas celotehanmu padahal aku rasanya seperti tak berpijak di mana-mana. Andai bisa tergambar mungkin sudah ada tanduk badak yang bercokol di kepalaku dan mukaku bersemu merah. Bukan malu. Tapi marah!!

Setengah hatiku berharap kebaikan, setengah hatiku mencacimu atas perlakuan semaumu datang dan pergi meninggalkan tanda tanya seolah aku ini buku bacaan yang semaunya dibuka, lalu dibaca, lalu ditutup kembali. Setengahnya lagi kusisakan datar tak berasa. Kupersiapkan jikalau harapan baik itu hanya harapan saja tak mewujud. Karena sekali saja lancang menggariskan harapan akan sesuatu maka 10 ruang kecewa harus disiapkan. Apapun itu. Dan saya menerapkan itu sekarang. Alhamdulillah, aku masih waras sedikit.

*     *     *     *     *

Tolong jelaskan padaku apa namanya usahamu mencari-cari bahan untuk bercerita denganku meski dalam waktu yang tidak seharusnya. Yah bagiku, tidak seharusnya seorang lelaki menghubungi seorang perempuan di tengah malam, tepatnya dini hari yang bukan apa-apanya hanya sekedar bertanya hal-hal remeh temeh, apalagi telah mengakui tidak punya maksud apa-apa dan ini momen ramadan.

Ampuni aku Rabbii… Inilah celah yang membawaku pada kejatuhan, saya tidak memakai standarmu. Tepatnya khilaf.

Mungkin bagimu biasa-biasa saja.Tapi kuyakini itu sebenarnya tidaklah baik, tapi saya berusaha merespon demi menjaga agar kau tak merasa diabaikan seperti sekian kali kau tuduhkan padaku ‘mengabaikan. Kuabaikan-pun tidak ada hal yang mengharuskan aku peduli selain menjaga harga dirimu sebagai lelaki. Itulah bentuk penghargaanku atas usahamu menggapaiku (Jikapun kau sungguh-sungguh).

Tolong jelaskan padaku apa namanya ketika tiba-tiba meneleponku penuh keheranan dan terus-terusan mempertanyakan kenapa aku pergi meninggalkan kota yang kita sama tempati (saat itu). Dan kita akhirnya tak sekota lagi. Drama sajakah?? Atau satu celah lagi agar ada bahan untuk diperbincangkan? Atau demi menunjukkan perhatian? Perhatian-pun… Tidak ada yang mengharuskan bahwa kau harus peduli.

Entah apa di pikiranmu. Yang jelas di kepala dan pikiranku, aku ingin meluahkan banyak pertanyaan yang berlompatan keluar, bercokol di kerongkongan dan ingin sekali keluar dalam kata. “Jika kau menginginkanku kenapa tidak menjemputku baik-baik. Pun jika ternyata kau tidak menginginkanku tak usahlah kita terhubung dengan percakapan-percakapan tak berujung dengan mengatasnamakan silatuhrahim. Bukannya dari dulu-dulunya kita ini saling tahu. Kenapa justru sekarang baru merasa (harus) saling mengabari.

Semakin ke sini, kau makin menambah keyakinanku bahwa kau sebenarnya menujuku, kupastikan instingku tidak meleset. Semua orang memiliki naluri ini, mengerti meski tak dijelaskan, tahu meski tak melihat, namun entah karena apa kau masih jalan di tempat. Tak mundur. Tak juga maju. Maaf…aku tak tau apa maumu.

*     *     *     *     *

Sekali waktu saya mencoba memutar memori ke belakang, untuk menemukan apakah kita memang saling kenal dari dulu sampai kau bilang ingin mengenalku “kembali. Adakah beberapa hal yang menghubungkan kita??

Setelah kugali ingatanku, ternyata itu hanyalah interaksi yang telah lama pudar dalam memoriku. Hilang. Sampai kau bilang, “Bukankah dari dulu kita akrab?” Waktu itu aku tertawa sendiri, “Dari dulu kapan??. Saya tak pernah sekalipun merasa ‘akrab’ ataupun ‘dekat’ denganmu. Seujung kukupun. Tidak. Biasa saja.. Karena kita aktif dalam organisasi yang sama yang membesarkan namamu. Lalu saya menghilang dari sana.

Baca juga :  Kucing Buta

Bahkan saya tidak tau kalau kamulah salah seorang seksi sibuk dalam acara pernikahan kakakku, dan ternyata kau juga kenal baik dengan saudaraku yang lainnya.

*     *     *     *     *

Ini aneh, kapal itu berputar-putar bagai tak mengerti arah

Datang dari pelayaran panjang, hanya mengitari dermaga lalu pergi (lagi)

Selalu begitu. Meninggalkan desingan mesin, segumpal uap juga ombak memutar

Tak bertanggal datangnya. Namun bila datang, hanya pergi (lagi)

*     *     *     *     *

Saya ingin marah.. Marah sekali padamu. Ketika suatu waktu kau mengatakan begitu respect dengan semua saudara-saudaraku, tidak mungkin berani menyakitiku. Jika saja kau di depanku saat itu, saya akan menghelamu, bahkan mungkin akan menamparmu. Memukulmu dengan jurus taekwondo, menendangmu dengan tendangan up chagi dengan sangat keras!! Agar kau tahu rasa sakitnya hatiku tidak sebanding dengan rasa sakit akibat pukulanku. Bisa-bisanya kau bermain-main dengan rasa perempuan!!. Pergi.. Pergilah jauh-sejauhnya, jangan menggangguku dengan berbagai candamu yang sama sekali tidak lucu. Rasanya seperti diangkat lalu lepas kembali, terjatuh. Itu sangat tak mengenakkan.

Tapi kau tetap merasa saya baik-baik saja dengan perhatian-perhatian kecil yang kau isyaratkan, entah apa maksudnya. Muncul. Menghilang lagi. Lalu mesra lagi bercerita. “I hate it!!” Saya merasa dipermainkan. Dan itu rasanya sakit. Berkali-kali. Sadarkah? Kau tengah menunjukkan pintu harapan namun pada saat yang sama menggali luka untukku. Dalam. Begitu kau bilang tidak berani???

Apa yang kau mau dariku?? Menuntutku, meresponmu, membalas setiap pesanmu, meladeni candamu. Apa ada sesuatu yang melegitimasi sampai saya harus mengikuti maumu? Saya membuka hatiku untukmu, menunggumu datang dengan cara yang lebih ahsan. Bukan dengan cara intens mengubungiku, memaksakan cerita-cerita konyol meskipun tak penting dibahas, menanyakan hal remeh-temeh yang membuatku berkerut apa kepentingannya sampai saya harus laporan padamu tentang aktivitasku. Padahal kau sangat tahu bagaimana aku sangat menjaga diriku. Begitu kau bilang tidak berani???

Please..tolonglah!!! kita saling membantu. Saling menjaga agar hati kita tidak terjebak pada sesuatu yang tidak pada waktu dan tempatnya. Tapi tak juga kau pahami. Ataukah pura-pura tak mengerti. Haruskah saya datang ke hadapanmu dan mengakui bahwa aku menyukaimu.. Damn!! Kau membuatku gila.

Ini hati man! Bukan kertas yang seenaknya bisa kau remukkan lalu melemparnya ke tempat sampah. Lalu berbalik pergi begitu saja seolah tak terjadi apa-apa.

*     *     *     *     *

Mundur???

Berhenti???

Mental kacang!!!

Lantas mengapa kau mencoba-coba mengetuk hatiku jika ternyata kau tidak siap dengan segala terpaan ketika pintu itu terbuka. Nonsens!!

Jangan-jangan memang dari awal kau hanya ingin mencobaku, menguji pertahanan diriku. Atau jangan-jangan kau tengah bertaruh dengan seseorang untuk menaklukkanku sebagai perempuan? Dan setelah kau berhasil lantas pergi begitu saja. Jika begitu. Kau telah berhasil permainkan rasa terdalam yang kumiliki. Bisa jadi kau juga tengah mempermainkan harga diriku. Entahlah… Kaulah makhluk paling abstrak yang pernah kukenal. Burung saja tahu arah mana yang harus dia tempuh setiap kali senja datang. Namun jangan salah, meski kuakui kau telah mencuri perhatianku, namun saya masih punya nurani yang mengontrolku. Taukah kau nurani itu? Itu suara Tuhan yang suci.

Hatiku berkecamuk pada rasa sedih yang mendalam, bisa-bisanya kau tega memantik api lalu tiba-tiba menyiramnya dengan bongkahan es batu yang besar…berat. Saya bukannya bodoh tidak bisa membaca kondisi. Dan bila itu benar, saya hanya ingin melihat keberanian dan kesungguhanmu mengatakan dan melakukannya dengan cara baik, sebagaimana dien kita mengajari. Namun  mungkin saja aku yang salah menilai. Jikapun saya salah, alangkah kurang ajarnya dirimu tetap asyik bermain-main pada wilayah privasiku.

Aku mencarimu… Selalu mencarimu d itempat yang seharusnya kau berdiri dengan kuda putihmu. Betapa ingin kau mengambil jalan yang seharusnya ditempuh oleh seorang perkasa dari timur yang tidak hanya kritis bacaannya, tajam singgungan sosialnya, jago retorikanya, menamatkan berbagai macam buku filsafat namun tak kutemui keberaniannya berdiri gagah dan mengatakan, “Hei akulah lelaki!!

Bukan main kucing-kucingan dengan perhatian terselubung, samar tidak jelas. Kau menginginkan direspon namun tak gamblang menyatakan maksudmu, bagaimana aku mengerti maumu.. Aku, ya dengan pikiranku sendiri.

Aku perempuan,dan mungkin berbeda dengan lainnya karena sejatinya tiada satupun sama dengan lainnya. Aku dengan diriku ini. Jika saja selama ini kau verbal menilaiku, maka saya ke kanan, dan kamu ke kiri. Memang selamanya tak akan pernah bertemu. Bisa jadi justru akulah yang paling menginginkanmu saat ini. Tapi aku menginginkan cara yang lebih anggun, sesuai garis yang telah dinisbahkan pada perempuan agar tetap mulia. Alhamdulillah… Aku bersyukur, di balik debar-debarnya hatiku, masih ada Dia yang menjadi peganganku, yang menjadi muasal ketakutanku melangkahi kodratku.

Melibatkan orang ketiga untuk mempertemukan isi kepalamu dan juga isi kepalaku, menengahi persoalan pelik yang melanda diriku dan juga dirimu agar kau melihat bahwa sebenarnya hatiku menyilahkanmu masuk ke dalam kehidupanku, tapi dengan jalan yang lebih baik, jalan yang seharusnya kau tempuh dari awal. Namun sama saja, ujungnya tidak kelihatan. Itulah usaha terbaik menurutku yang telah kuusahakan. Namun kau memilih berlama-lama berdiri di tempat dan tak tegas menunjukkan sikap. Aku tidak sudi berlama-lama pada ketidakjelasan, diriku sendirilah yang harus memilih untuk menjauh dari berputar-putar tanpa arah.

Baca juga :  Ayam yang Serakah

Jika begitu, telah kunilai kau hanya secuil penasaran tentang aku dan hidupku yang hampir ratusan kali bertanya, Apa kabar? Bikin apa? Di mana? Sama sapa? Hari ini tidak ngajar?Huuuff….maaf, saya gerah. “Pergi sajalah kalau begitu, jangan kembali lagi mengetuk hatiku kecuali dengan sepenuh hati keyakinamu memasukinya.

Kini kupercayai kata petuah bijak yang mengatakan bahwa terkadang dalam sepersekian jalan hidup yang kita tempuh akan dipertemukan dengan orang-orang yang (dianggap) tepat. Namun ia hanya dikirim untuk kita mengambil pelajaran darinya.

Jika kemarin doa-doaku mengalir agar hatimu diberi kenyakinan untuk mengambil sikap, agar aku tak lagi diliputi tanda tanya. Kini mengalir deras doaku agar hatiku di lapangkan, memohon segala debaran di hatiku diuapkan bagai embun tak bersisa.Tak peduli jika saya harus menahan nafas berkali lipat lebih lama untuk mengangkat bongkahan batu dari dasar perairan dalam. Tak peduli berapa kali aku harus terjerembab kembali ke tempat semula. Aku hanya minta dikuatkan. Sebab kupercaya waktu selalu mampu menyembuhkan rasa sakit. Saya hanya butuh bertahan sampai waktu selesai mengerjakan perannya. Semoga jalanmu dimudahkan. Ke manapun itu kau melangkah, jadilah lelaki perkasa, tegas dan berani berdiri “Inilah aku”.

Dialah pemilik segalanya. Dia jugalah yang membolak balikkan perasaan. Selepas kesulitan selalu ada kemudahan dan kabar gembira. J Aku percaya itu. Biarkan tangan Tuhan bekerja.

*     *     *     *     *

Kini sebagian hatiku yang datar tak berasa itu, mulai aktif… Aku di sana sekarang, duduk bersila menghadap ke notebook, jemariku bergantian dari tuts keyboard, berpindah lagi ke kursor. Tolong jangan ganggu (lagi), aku tengah sibuk mengerjakan kerjaan yang deadline beberapa hari lagi.

*     *     *     *     *

Aku hari ini….

Menemukan, entah apa namanya. Hatiku lengang.

Aku kemarin….

Menemukan, entah apa namanya. Hatiku berkecamuk.

Aku besok….

Ntahlah, belum kutemukan. Hatiku bertanya.

*     *     *     *     *

Sekarang. Menerawang mendidihkan titik tenang di nadiku. Berdegup lemah lalu kencang seketika lalu berirama. Pelan… Pelan. Begitulah perasaan memainkan nalar liar kita. Baru semalam kumeradang, terisak-isak rasa sakit yang abstrak. Memohon-mohon pada yang membolak-balikkan hati agar menguapkan segala harapan-harapan yang abstrak. Diberi kekuatan melawan serangan abu-abu hatiku terhadap secercah titik yang kelihatannya (akan) cerah. Belum tentu. Bisa jadi itulah keburukan untukku. Maka dilepas saja.

Sekarang. Gemuruh dadaku berkurang, tak segaduh kemarin. Saluran nafasku mulai lancar tak lagi tersendat mencari udara. Semoga ini pertanda bahwa Tuhan telah mengabulkan doaku. Menguap bagai empun. Perlahan habis.

*     *     *     *     *

meRajut tak Menyulam

 

Ntah di mana bermula rajutan ini, tiba-tiba saja kusut tak berpola (lagi)

Menyisakan segumpal benang sulam tak berbentuk.

Tergerai. Menjuntai saja di ujung meja rias

Ntah di mana ujung pangkalnya.

Tolong berhentilah menariknya!!

Itu makin mengerat-saling mengikat mati.

Biarkan saja di situ.

Jangan menyentuhnya lagi.

Akan mengurai sendiri meski lama.

Polanya telah terhapus, pelan…

Seiring jatuhnya jarum sulam pada gundukan pasir pinggir pantai

Lalu datanglah ombak, menyapu bersih

Ntah di mana kini.

Biarkan saja begitu.

Jangan mengais-ngais lagi.

Bisa jadi jemarimu tertusuk

Dan kau akan meringis kesakitan.

Kau hanya perlu kembali ke meja rias.

Bukan menyulam rajutan (lagi).

Tapi memastikan bahwa gumpalan benangnya telah mengurai.

Tak kusut lagi. Itu saja.

Pintu di belakangmu itu akan dibuka (nanti)

Dan seseorang akan membawakanmu sesuatu.

Dan pastikan itu bukan jarum.

Rajutanmu akan tetap indah meski tak disulam (lagi)

Kau hanya butuh mengasah nalarmu.

Bahwa perekatlah yang kau butuhkan.

Dan sedikit kembang sewarna untuk mempermanis.

Indah bukan?? Memang begitu…maka percaya sajalah

*     *     *     *     *

Semalam hujan tak menderas. Berharap pagi ini, embun itu menguap tak bersisa”, dan benar saja, seharian ini cerah tak mendung-mendung, entah embunnya menguap ke mana……

[20 Agustus 2015 di pinggiran Kota Hujan ini]

Andi As(Nima)Fatimah Lebih familiar disapa “Bu Andi” oleh mahasiswanya. Menyebut dirinya seorang dosen “magang” yang terdampar di antah berantah Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor entah sampai kapan. Yang masih berlomba dengan waktu mempersiapkan bahan ajarnya, masih berdegup kencang jantungnya ketika mahasiswanya bertanya, tapi tidak pernah takut mengakui jikalau pertanyaan itu tidak mampu ia jawab. Yang bisa santai sekaligus serius ketika dikelas, tapi mengobrolkan film Korea dengan mahasiswanya di lorong-lorong antar ruangan di luar kelas dan juga sering ditawari hiking dan rafing bahkan nonton bersama oleh mahasiswanya.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!