Sopian Tamrin

Antara Gadget, Tasbih dan Tahun Baru

Oleh: Sopian Tamrin*

SOSIO-KOSMIK, EDUNEWS.ID – Kemarin sore sepintas saya mendengar keluh dosen bahwa ia lebih sering memegang handphone dibanding tasbihnya. Dosen yang biasa disapa bunda di kampus orange tiba-tiba curhat mengenai gangguan handphone dengan aktivitas wiridnya. Jemarinya yang biasa sibuk mengelus tasbih sekarang mulai banyak ia pakai mengelus layar pada smartphonenya.

Hidup pada abad 21 memang sulit bila tak ramah dengan teknologi informasi. McQuail seorang profesor komunikasi menilai telepon seluler sebagai intrumen paling penting untuk masuk dalam jejaring komunikasi massa era ini. Keseharian kita hampir mustahil bisa berjarak dengan handphone. Ia seakan punya hubungan emosial dengan pemiliknya. Bahkan bisa lebih intim dari pada ibu kandung anda.
Sebagai anak rantau anda sudah pasti terbiasa tanpa kehadiran keluarga namun apakah anda bisa lakukan itu dengan smartphone anda?

Baca juga :  Politik; Anomali dan Rekayasa Rasionalitas

Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2013 jumlah pengguna handphone mencapai 63 juta dan 95% tergolong pengguna aktif. Sedangkan data terakhir KOMINFO pengguna internet sudah mencapai 88,1 juta jiwa dan 79% yang aktif. Angka ini termasuk pengguna terbesar medsos di dunia.
Kehadiran smartphone sebagai alat komunikasi ternyata membawa masalah tersendiri bagi aktivitas spritualitas individu.

Smartphone juga mulai menghegemoni otoritas tasbih pada ruang spritual. Masyarakat berangsur-angsur bergerombol masuk ke dalam dunia maya. Bukan sekedar membangun relasi terhadap manusia bahkan mereka mencoba membangun ritual spiritual lewat media sosial.

Bagi masyarakat digital, menggunakan gadget hukumnya setara dengan fardu ain dalam agama. Jika tidak menggunakannya anda bersiap menanggung dosa berupa penyakit nomophobia. Penyakit ini memberikan gejala psikis dan rasa takut dijauhkan dari gadget. Jika tasbih membuat anda katarsis (penyucian jiwa) karena merasa dekat dengan Tuhan, bagi kaum “Gadgetian” ia mengklaim sedang menjalankan fantasi spritual modern.

Baca juga :  Anak dan Sekolah

Bukankah Tuhan ada dimana-mana? Berarti Tuhan juga ada dalam dunia maya? Hmm… Mungkin ini yang membuat masyarakat dari kaum “Gadgetian” memilih berdoa di dunia maya dan menganggap bahwa Tuhan lebih cepat menerima doa karena berbasis sistem apalagi menggunakan jaringan 4G.

Secara instingtif manusia memiliki kecenderungan yang dibawa sejak lahir. Kecenderungan tersebut yang menjadi titik gerak subjek dalam membangun relasi dengan yang lainnya (The Others). Pertama – tama ia mencari sesuatu yang bisa membuat dirinya merasa eksis. Ia mencari sesama manusia sebagai pemenuhan kecenderungan sosialnya. Kecenderungan terus berlanjut dan dirasa belum lengkap. Melalui kemampuan cipta, rasa dan karsanya ia mulai menemukan hal lain dari kreasinya sendiri sampai karya tercanggih berupa teknologi.

Baca juga :  Ahok dan Polemik Persentuhan Agama-Politik
Advertisement

Kemudian hari, teknologi seakan telah memiliki otoritasnya sendiri. Ia terbalik menciptakan ketergantungan pada manusia dan hilang kendali terhadap ciptaannya. Inilah implikasi penciptaan yang tak terhindarkan. Keberadaan teknologi secara perlahan menjadi subjek bagi kehidupan manusia.

Mungkin kita tidak sadar bahwa kembali menciptakan benda baru yang nantinya akan kita sembah kemudian hari. Bukankah hal semacam ini pernah terjadi pada 2000 SM. Saat Nabi Ibrahim mendapati zaman penyembahan berhala yang dibuat oleh masyarakat saat itu. Memang benda dan konteksnya berbeda namun subtansinya sama saja. Keduanya menggambarkan gejala yang sama yakni manusia menyembah apa yang diciptakannya sendiri. Pada akhirnya kedua benda tersebut melahirkan ketergantungan psikologis.

Dalam konteks kekinian artinya gadget adalah reinkarnasi berhala ribuan tahun sebelum Masehi. Dari ilustrasi ini sedikit banyak membawa kita pada pahaman bahwa sejarah kehidupan manusia adalah sejarah relasi terhadap dirinya – alamnya dan Tuhannya. Sejarah manusia hadir dan bersitegang dengan problem ketiganya. Hanya saja persoalan yang harus dijawab adalah bagaimana relasi kita dengan diri, bagaimana kaitan kita dengan alam dan pada siapa kita harus bertuhan.

Fenomena ini dalam terminologi sosiologi kritis mazhab Frankfurt dikenal dengan istilah fetish. Fetisisme adalah cara individu menunjukkan pengkultusan diri terhadap benda-benda. Bagi beberapa orang mungkin sudah dijadikan Dewa bahkan Tuhan baru. Hampir saja aku menulis Tahun Baru… Mungkin karena ini ditulis pada penghujung tahun 2017.

Perjalanan pulang dari kampus aku berpapasan dengan bapak Dr. Muhammad Syukur di lantai tiga. Beliau adalah ketua Jurusan Pendidikan Sosiologi di kampus orange. Beliau mengajakku ke ruangannya, kebetulan beliau baru saja balik melaksanakan umroh, perlahan beliau membuka tasnya dan mengambil kotak persegi empat dan mengulurkan padaku. Ahh… spontan instingku bergejolak dan bertanya apakah ini kebetulan? Ternyata beliau memberiku oleh-oleh berupa tasbih. Bukankah baru saja aku membincangkan benda ini? Tanyaku dalam hati.

Sepertinya peristiwa ini isyarat akhir tahun untuk memperbanyak wirid dan mengurangi medsos. Jika anda mendapat oleh-oleh yang sama maka siap-siap memegang tasbih lebih lama daripada handphone. Semoga tahun 2018 mendatang kita lebih banyak meluangkan berdoa dan berkontemplasi. Oh ya, semoga saja handphone pintarku tidak cemburu.

Sopian Tamrin, S.Pd., M.Pd., Staf Pengajar FIS UNM, Direktur Eksekutif Education Corner.

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com