Sopian Tamrin

Bencana dan Konstalasi Pasca Bangsa; Refleksi Sosiologi Kosmik Atas Realitas Bencana

Oleh: Sopian Tamrin*

SOSIO-KOSMIK, EDUNEWS.ID – Seorang oseanografi, Wally Broecker menyebutkan planet ini sebagai binatang buas juga mesin perang yang tiap hari kita justru mempersenjatainya. Sebagai mesin maka planet ini akan mengarahkan serangan perubahan iklim yang menghasilkan kekerasan berantai jenis baru, longsor, badai dan yang lain.

Dalam catatan sejarah, sebagiamana disinyalir Harari dalam Sapiens, planet paling kuat memusnakan populasi. Kecenderungan perubahan iklim yang makin lama makin kuat perlahan merusak kesanggupan kita untuk menanggapi.

Bedasarkan kajian klimatologi, naiknya derajat iklim yang meningkatkan pemanasan global akan berdampak pada kekeringan. Hal tersebut dengan mudah berimplikasi pada kebakaran hutan. Hutan yang terbakar akan mengurangi daya serap air dan daya tahan tanah yang berpotensi terjadi longsor. Longsor menggangu ladang-ladang dan jalan di sekitaran pegunungan. Longsor yang parah mengharusan arus pengungsian dan evakuasi, maka tentu terjadi pemadatan populasi penduduk di daerah tertentu.

Baca juga :  Rumah dan Nasib Generasi Milenial

Menurut Wallace, bahkan kondisi itu bisa memicu kecemasan pada komunitas glamour yang ada di kota termaju di dunia karena kebun anggur terganggu sehingga tidak lagi bisa berpesta seperti biasanya. Banjir akan menyusul karena beberapa saluran air akan terganggu dan volume air yang begitu tinggi akan menghambat moda trasnportasi sehingga aktivitas sekitaran kota akan terjeda.

Detail-detail peristiwa alam yang diurai oleh Wallace menjadi lebih konkret dari sekadar teori butterfly effect ala analisis chaosmotik.

Berdasarkan analisis banyak pakar bahwa pemanasan yang berkepanjangan membuat planet ini menghangat dan es abadi yang berada di Arktika meleleh. Parahnya, kandungan 1,8 triliun karbon akan keluar dan sebagian dalam wujud metana. Jumlah ini ternyata lebih dari dua kali lipat yang ada pada atmosfer bumi saat ini (Wallace, 2020).

Baca juga :  Pergi Untuk Kembali

Tentu ini masalah besar, karena karbon bertambah di saat bumi kehilangan banyak hutan sebagai filter dan daya serapnya yang akan mengubah karbon menjadi oksigen. Jika siklus itu berlanjut maka potensi buruk untuk planet ini akan semakin besar. Planet ini akan secara terus menerus dilanda masalah sedangkan ketahanannya mulai melemah.

Dunia akan masuk pada satu jenis sistem ‘umpan balik’ yang akan menjadi pelemahan secara terus menerus. Pendeknya alam juga sebagai sebuah sistem yang memiliki mekanisme dan kompleksitasnya seperti sistem masyarakat.

Dalam masyarakat, jika pendidikan bermasalah maka berpengaruh pada aspek mentalitas dan moralitas. Jika moralitas bermasalah maka kekacauan pada sistem sosial karena ramainya kriminalitas, korupsi, pelecehan, dan lain-lain. Demikianlah juga alam, sebagaimana penjelasan alur di atas bahwa sebuah sistem, ia akan berentetan secara terus menerus.

Baca juga :  Politik Dramaturgi Era Demokrasi Virtual
Advertisement

Dari gambaran di atas itu juga berarti bahwa kemudian hari kita lebih banyak menghirup udara yang minim oksigen dan kaya akan karbon belum lagi meningkatnya efek rumah kaca. Tentu ini sangat berbahaya untuk kesehatan tubuh, itu artinya kita akan semakin lemah dan semakin rentan untuk hidup ditengah serangan berbagai macam penyakit.

Ironinya, penyakit silih berganti dengan cepat, namun tak banyak yang bisa kita temukan obatnya. Corona bisa menjadi satu kode yang menguatkan catatan seleksi alam tiap-tiap tubuh yang lemah dan rentan.

Jika kita mencermati gerak perubahan iklim ini, maka perlambatan adalah satu jalan yang akan memperpanjang masa planet. Ada baiknya kita mengintrospeksi ulang cara kita mengelola kehidupan di permukaan bumi ini. Sebagaimana disampaikan berulang-ulang oleh Wallace, bahwa apa yang kita pilih untuk lakukan saat ini akan menjadi penentu apa yang akan terjadi pada kemudian hari.

Pernyataan ini sangatlah tepat dan realistis, inilah kesempatan untuk membuktikan bahwa kita punya pilihan menjadi bagian mempercepat laju kerusakan atau sebaliknya. Inilah harapan planet ini pada satu mahkluk bernama manusia yang digambarkan oleh Mary Belknap dalam bukunya Homo Deva.

Demikianlah kita membaca titik singkap dari berbagai serpihan peristiwa saat ini. Masalah yang melanda seluruh dunia adalah jalan untuk memahami bahwa kehidupan sebagai satu kesatuan warga global (global village ala McLuhan). Manusia tidak hanya perlu menyadari bahwa manusia itu satu genus makhluk hidup melainkan kita adalah bagian dari satu sistem besar yang bernama jagat semesta.

Mungkin sudah saatnya kita mengusung konstalasi pasca bangsa, membangun persahabatan sejati internasional. Saatnya menghentikan persekutuan dan ego nasionalistik yang menjauhkan kita dari tanggung jawab bersama. Jika meminjam istilah Harari, yang kita butuhkan dalam menghadapi masalah bencana saat ini adalah solidaritas global. Ini sangat penting karena kerapuhan ikatan sosial tak baik dalam situasi bencana, sedangkan keruntuhan rasa saling percaya adalah satu rentetan bencana antara lainya.

Sopian Tamrin, S.Pd., M.Pd., Staf Pengajar FIS UNM, Direktur Eksekutif Education Corner.

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com