Sopian Tamrin

Citra; Kenikmatan dan Derita Manusia Modern

Oleh: Sopian Tamrin*

SOSIO-KOSMIK, EDUNEWS.ID – Aku pencitraan maka aku ada (being for image). Begitulah sekiranya adagium baru yang menggantikan adagium sebelumnya cogito ergu sum (aku berpikir maka aku ada) oleh Rene Descartes.

Heidegger dalam Discourse on Thinking, menyebut manusia yang tidak mampu lagi menggunakan akal sehatnya sebagai manusia yang terjerat dalam ketidakberpikiran (thoughtlessness). Kita merasa cacat dalam realitas nyata sehingga menambalnya dengan simulasi layar.

Alih-alih menyembuhkan perasaan ketaksempurnaan dalam realitas nyata, diaspora ke media layar ternyata menimbulkan derita baru. Derita atas bayang-bayang citra yang sedang menggerogoti kesadaran.

Kita sedang dijajah oleh kuasa citra-citra yang berkelindang sebagai patron populer dalam dunia kehidupan (lifeword). Misalnya citra sebagai orang kaya, sukses dan bahagia, gaya hidup dan berbagai macam citra yang pada umunya orang harapkan.

Erich fromm dalam The Anatomy of Human Destructiveness melihat citra sebagai ekstasi penghancuran eksistensi/realitas. Kita semacam mengalami sindrom of reality, takut pada diri yang otentik dan cenderung melakukan kekerasan pada diri sendiri dengan menciptakan diri yang lain dan akhirnya kita puja-puji sendiri.

Pada akhirnya kita menjadi penggemar bagi diri kita yang lain. Lebih ironi lagi pada puncaknya kita menyembah sesuatu yang diciptakan sendiri.

Mungkinkah kita telah menciptakan sejenis satu libido baru? Ya, libido virtual. Tiada hari tanpa postingan medsos. Setidaknya berkembang arus memahami realitas dengan patafisika yakni di mana rujukan perilaku berasal dari kekuatan citra.

Citra menjadi mesin hasrat (desiring machine) yang menggiring psikologi masyarakat modern. Inilah yang dimaksud Yasraf dalam Postrealitas Sebagai Era Posmedia, di mana citra terputus dari realitas yang direpresentasikan. Melalui sentuhan teknologi media dan bahasa maka simulasi dan pencitraan betul-betul berubah dari keasliannya.

Kedalaman fantasi dalam citraan medium layar adalah penanda kedalaman kuburan kita gali terhadap dunia kita yang sebenarnya. Inilah masa di mana kita mengubur diri dengan menikmatinya sendiri.

Menjamurnya simulasi mengisyaratkan pesan pada kita begitu rendahnya kualitas kemanusiaan era ini. Pelacuran identitas, penipuan (deception) image sebagai jalan menyenangkan diri yang sedang mengalami penderitaan di dunia nyata.

Ya, penderitaan yang ditawarkan mesin produksi hasrat perihal gaya hidup. Mengapa tidak menderita jika saat kita mencapai satu macam citra maka saat itu juga kita disuguhkan dengan citraan baru.

Pencapaian citraan itu seringkali ingin disampaikan pada orang banyak maka konsekuensinya harus mempublikasi pada media layar. Semakin banyak yang memberikan respon berupa komentar ataupun emotion maka semakin nikmat kepuasaan yang diperoleh.

Jika meminjam istilah Jacques Lacan, maka sepertinya manusia citra mengalami jouissance (puncak kenikmatan luar biasa). Namun saat mengalami jouissance pada saat itu juga kita telah bereforia dengan kekerasan.

Saat kita mempertontonlan kesenangan pada dunia maya, sebenarnya kita sedang melawan sakitnya realitas nyata. Mengapa demikian, karena kita melengkapinya dengan sentuhan teknologi dan bumbu kata pemanis agar terlihat kondisinya sempurna.

Olehnya itu, memposting tampilan kebahagiaan bisa jadi kita sedang menunjukkan penderitaan atas keterbatasan.

Saat ini kita terjebak dalam fantasmogaria citra. Kecerdasan imagologi citraan telah memain-mainkan hasrat di atas layar. Imaginasi manusia modern sementara terfragmentasi pada lebarnya layar. Penandanya adalah segala sesuatunya akan rujuk dari informasi layar.

Jika dulu masyarakat minta petunjuk pada nabi (prophet) maka sekarang semua berbondong-bondong minta pada “nabi digital” yakni om google. Ya, inilah era manusia digital (homo digitalis) sehingga nabinya pun digital.

Citraan pada awalnya adalah produk kecerdasan, namun lambat laun ia telah menjadi dirinya sendiri dan memiliki daya sistemnya sendiri. Sebagaimana analisis seorang sosiolog Peter L Berger bahwa realitas sosial adalah proses konstruksi.

Pola konstruksi melalui kemampuan kreativitas yang membentuk konsensus kemudian individu kembali mengadaptasikan diri sistem yang dibentuknya sendiri.

Pada dasarnya, tidak ada masalah soal citra jika manifestasi/repreresentasi dirinya yang sebenarnya. Hanya saja dalam perkembangannya, ternyata citra telah berjarak dengan keasliannya. Bahkan telah melampaui dirinya sendiri dan menjadi yang lain.

Sebenarnya maksud penulis yang bersoal adalah jika seorang pengemis mencitraakan dirinya sebagai dermawan, atau politikus korup menciptakan dirinya religius, amanah dan seabrek hal yang tidak ada dalam dirinya.

Akhirnya, kita hidup dalam kepura-puraan sehingga yang tumbuh hanyalah dusta dan penderitaan. Ini kan musim nyaleg, jadi tak sanggup jika diriku mengenal keaslianmu hanya selebar layar HP.

Kita hanyut dalam satu jenis kegilaan virtual, tiada hari tanpa intensi citraan demi memenuhi dorongan libido space. Kegilaan virtual adalah pengingkaran atas realitas nyata di mana kita merayakan halusinasi. Halusinasi yang dibangun atas dasar citra yang dikonsumsi sebagai gaya hidup.

Olehnya itu, jika anda ingin dianggap hidup/ ada maka anda perlu bergaya. Jika normalnya, “Hidup dulu baru bergaya, maka tidak berlaku bagi masyarakat citra, anda perlu bergaya dulu baru dianggap hidup/ada”.

Beginilah kira-kira geliat masyarakat modern di abad 21 yang semakin membingungkan kita untuk memahami mana sih realitas asli, mana rekayasa citraan. Salamakki’.

Sopian Tamrin, S.Pd., M.Pd., Staf Pengajar FIS UNM, Direktur Eksekutif Education Corner.

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!