Sopian Tamrin

Ekofeminisme Balik Kampung

Oleh: Sopian Tamrin*

SOSIO-KOSMIK, EDUNEWS.ID – Libur kali ini saya memilih balik kampung bukan sekedar menyandarkan resah dan membuang sisa-sisa kelelahan atas rutinitas selama di kota. Balik kampung juga sebagai jalan kembali pada habitus sekaligus ritual romantisme berbagai kenangan indah di masa lalu. Tempat yang selalu dirindukan untuk mengingat dan berkhayal akan cita-cita setinggi langit dikala itu. Apapun bentuk kerinduannya jalan keluarnya hanya satu yakni ‘kembali’.

Kerinduan adalah nikmat berharga yang dianugrahkan pada setiap insan. Substansi kerinduan kampung halaman adalah fitrah ingin kembali pada pangkuan Ibu Pertiwi. Mengapa Ibu? Kok bukan ayah pertiwi? Hmm… mungkin begitu adanya, karena Bagi saya merindukan kampung, berarti merindu sosok Ibu.

Kampung selalu memiliki keterkaitan historis terhadap seseorang. Keterkaitan itu sama kuatnya dengan kedekatan geneologis terhadap ibu atau perempuan yang melahirkan kita. Kita berasal dari bumi, hidup di atas bumi dan mati kembali ke bumi. Bumi adalah perumpamaan yang sering digunakan dalam perbincangan ekofeminisme. Sebagaimana istilah feminisasi alam (bumi) yang merupakan kekhasan bagi pegiat ekofeminis.

Istilah ekofeminisme pertama kali dipopulerkan oleh Francoise d’Eoubone (1974). Dalam bukunya Le Feminisme Ou Lamort, bahwa perempuan dan alam memiliki banyak kesamaan. kerusakan alam dan perempuan yang memprihatinkan adalah ulah dari maskulinitas.

Hemat penulis, desa sebagai simbol feminitas dan kota disimbolkan sebagai maskulin. Kota identik dengan progressifitas, kecepatan yang melambangkan sosok ayah yang visioner sedangkan kampung identik dengan ketenangan dan kelembutan sebagai simbol feminis.

Kota adalah perempuan bersolek maskulin sedangkan desa adalah perempuan sederhana nan feminim. Argumentasi ini persis sama dengan kajian neurosains bahwa semua mamalia pada dasarnya perempuan namun dalam usia delapan minggu kromoson yang membawa hormon estrogen dan testosterone mengalami klimaks pada testosterone sehingga menjadi maskulin.

Pada awalnya semuanya adalah desa atau semuanya adalah perempuan, namun pada prosesnya perempuan (desa) senang bersolek, sehingga berubah rupa menjadi kota yang berlagak maskulin. Itulah sebabnya jumlah desa lebih banyak dengan kota, Sama halnya jumlah perempuan lebih banyak dengan laki-laki.
Saat ini kota yang bercorak maskulin cenderung mendominasi.

Relasi kota dengan desa cenderung memposisikan desa sebagai objek. Desa dilihat semata penyuplai bahan dasar pembangunan kota. Ini tidak bedanya dengan laki-laki yang melihat perempuan sekedar tubuh pemuas hasrat seksualitas laki-laki. Tendesi dan ambisi kota atas pembangunan memaksa desa melayani kebutuhan dasar kota.

Model relasi semacam itu biasanya lahir dari pandangan lingkungan androsentrisme yakni laki-laki (kota) selalu diletakkan sebagai pusat dari setiap pola dan sistem dalam kehidupan. Paradigma semacam ini tentu melihat kepentingan kota diatas segalanya.

Jangankan mengeksploitasi desa (perempuan), Tuhanpun harus tunduk pada kepentingan pembangunan kota.
Apabila desa tidak melayani maskulinitas kota maka desa tersebut hampir pasti terabaikan. Sehingga desa yang tidak memiliki potensi sumber daya alam tidak memdapatkan perhatian khusus dari pemerintah kota. Yah situasi ini mirip dengan perlakuan laki-laki terhadap wanita cantik kadang hanya dilihat dari paras dan seksinya tubuhnya.

Hasrat pembangunan kota menjadikan desa sebagai objek pelampiasan pemerkosaan sumber daya alam secara terus-menerus. Seorang feminis Rosemary Radford Ruether menegaskan bahwa, “Tidak akan ada pemecahan masalah ekologi apabila model relasi berbentuk Androsentris”. Artinya selama kota terus menerus menyedot sumber daya dari desa tanpa mempertimbangkan hak lingkungan dan masyarakat desa maka selama itu terjadi ketimpangan ekologis.

Situasi semacam ini sudah digambarkan dalam pernyataan singkat Karen J. Warren, bahwa ada keterkaitan penting antara opresi terhadap perempuan dan opresi terhadap alam. Rusaknya relasi terhadap perempuan menandakan rusaknya hubungan manusia dengan alam. Lebih parahnya lagi Kerusakan ekologis terhadap alam tentu tidak dirasakan semata oleh perempuan(Desa). Misalnya Eksploitasi hutan di pedesaan (perempuan) tentu juga berdampak pemanasan terhadap kota (laki-laki).

Jadi perempuan maupun laki-laki akan merasakan dampak karena relasi dominasi kota terhadap desa. Sehingga menjaga desa (perempuan) sebenarnya kita sedang menjaga alam karena ia adalah sumber kesejukan dan keseimbangan ekologis.

Masyarakat Bugis Makassar menjaga anak perempuannya artinya mereka sedang menjaga alamnya. Menjaga alam adalah menjaga sumber kehidupan, karena bumi tempat tumbuhnya segala jenis tanaman dan perempuan tempat lahir semua manusia. Menjaga tanaman artinya menjaga manusia. Olehnya itu Kesadaran ekologis itu berarti kesadaran manusia juga.

Sebelum menutup tulisan pendek ini penulis kembali menekankan bahwa dibalik kota yang maju pastinya ada desa yang bersumber daya alam luar biasa dibelakangnya. Persis ketika argument ini kita sematkan pada “Kesuksesan seorang laki-laki ada perempuan hebat di belakangnya”. Jadi sudah semestinya kita menilai bahwa desa sama pentingnya dengan kota.

Pada dasarnya balik kampung adalah moment reflektif terbaik untuk merasakan kedamaian bersama asrinya alam dan pemandangan desa. Karena kembali itu fitrah.

Sopian Tamrin, S.Pd., M.Pd., Staf Pengajar FIS UNM, Direktur Eksekutif Education Corner.

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!