Sopian Tamrin

Gadget, Alienasi dan Matinya Realitas

Oleh: Sopian Tamrin*

SOSIO-KOSMIK, EDUNEWS.ID – Masyarakat abad 21 tentu sudah familiar dengan benda pintar yang biasa kita sebut gadget. Gadget sudah menjadi penanda baru pada titik perkembangan manusia. Ia adalah pencapaian atas kecakapan pengetahuan dalam bidang sains teknologi.

Sebagai benda pintar, gadget hampir mustahil dilepaskan bagi manusia modern. Bahkan gadget membangun keintiman dalam keseharian manusia saat ini. Ia seperti membentuk loyalitas kebendaan dan pada akhirnya menelan batas antara manusia dan gadget.

Relasi manusia dengan gadget telah menjungkirbalikkan posisi aktor dari yang berkesadaran menjadi kealpaan axiologis. Perlahan gadget mengalami proses mengada karena perlakuan manusia. Sedangkan manusia sebaliknya mengalami kekosongan dihadapan gadget. Gadget menjadi entitas yang memiliki karakter sendiri. Ia membentuk hidupnya sendiri dengan cara menghisap manusia masuk ke dalamnya.

Sebenarnya tulisan ini lanjutan dari ulasan penulis sebelumnya tentang Antara Gadget, Tasbih dan Tahun Baru. Jika sebelumnya penulis melihat gadget sebagai benda fetish yang disembah manusia layaknya berhala beberapa abad yang lalu. Maka kali ini penulis melihat ada lompatan dimana gadget menciptakan masalah baru yang akut bagi manusia modern yakni alienasi.

Erich Fromm menyebut manusia modern sedang mengidap penyakit mental yang ditandai oleh perasaan keterasingan atas segala sesuatu; sesama manusia, alam, Tuhan dan jati dirinya sendiri. Penyakit ini ternyata muncul karena kehadiran gadget telah mengambil alih peran realitas nyata.
Manusia tak lagi mengendalikan gadget sebagai benda melainkan sebagai entitas yang punya mekanisme tersendiri. Lambat laun manusia pun tunduk pada mekanisme tersebut. Situasi ini mereposisi manusia menjadi benda dan gadget menjadi entitas pengendali perilaku (aktor).

Kondisi inilah yang memasung manusia pada proses reifikasi. Yakni Kondisi dimana manusia perlahan mengalami objektivikasi (pembendaan). Kesadaran mulai menyusut hingga kehadirannya tak lebih dari seonggok daging, bertubuh tanpa pikiran.

Reifikasi demikian juga menciptakan praktik ketergantungan perilaku terhadap mekanisme gadget. Manusia tak lagi memiliki dirinya namun dimiliki oleh gadgetnya. Jika alienasi karena ketakmampuan seseorang memiliki sesuatu justru kali ini aleanasi itu tercipta saat kita memiliki sesuatu.

Ternyata kepemilikan belum menyelesaikan masalah manusia yang sejak lama dianasir oleh Marx tentang aleanasi manusia terhadap produknya. Saat ini terjadi hal sebaliknya dengan memiliki gadget telah menciptakan masalah keterasingan. Karena memiliki gadget kita dimungkinkan akan teraleanasi dari segala sesuatu di sekitar kita.

Tak heran jika gadget telah mengubur realitas nyata dan menggantinya dengan kesemuan mekanisme maya. Bersamaan dengan itu manusia tenggelam pada simulasi layar. Ironisnya manusia modern tak menyadari keterasingan tersebut. Mereka betul-betul telah hanyut pada gelombang ekstasi realitas maya. Lebih parahnya manusia justru menikmati keterasingannya.

Mungkin manusia telah mengalami sesuatu yang disebut Jacques Lacan sebagai jouissance yakni kepuasaan atau kenikmatan yang luar biasa. Dalam hal ini manusia sebenarnya sedang bersetubuh dengan gadget dan mengalami orgasme berklai-kali sehingga tak rela keluar dari kenikmatan tersebut.

Setiap aplikasi atau fitur memiliki sentuhan yang membawa fantasi tersendiri. Semakin banyak aplikasi dalam gadget seseorang maka semakin besar kemungkinan terjadi alienasi. Mengapa? Karena semakin banyak waktu yang kita habiskan terhadapnya. Semakin sibuk kita dengan gadget itu berarti semakin hilanglah kita pada realitas yang sebenanya (nyata). Sehingga terjadi kekosongan ruang nyata dan sebaliknya kepadatan terjadi pada ruang maya.

Jika biasanya manusia hanya bersengolan di pasar namun saat ini senggolan juga sudah terjadi pada realitas maya. Sebagaimana realitas nyata dalam gadget kita juga bisa memberikan respon atas senggolan dengan membalas dengan simbol (smile, like atau dislike).

Kematian Realitas
Manusia modern betul – betul mati dalam kehadiran. Terbunuh oleh produknya sendiri. Semua menjadi asing, anak tak lagi akrab dengan lingkungannya termasuk orang tuanya. Sosialisasi teman sepermainan mulai kehilangan posisi vital dalam perkembangan psikologi. Teman sekantor asik dengan layarnya sendiri, dan akhirnya lingkungan sekitar tak lagi bermakna sosial bagi kehidupan. Bukankah Bourdieu menempatkan lingkungan sosial sebagai arena produksi kultural yang teramat penting bagi setiap anggota masyarakat?

Terus haruskah kita mengeliminasi gadget dalam kehidupan kita sehari-hari? Tentu ini juga bukan solusi yang bersahabat. Bahkan mungkin sontak kita akan menolak dan tak rela. Menolak gadget itu berarti menolak kehadiran kita dalam sejarah di abad 21.
Tulisan ini tentu tak ingin menarik kita pada kesederhanaan dimasa lalu. Melainkan mencoba membangun alternatif yang lebih adaftif sebagai respon terhadap zaman.

Hemat penulis gadget harus diletakkan pada makna instrumental pada tatanan sosial. Ia tetap dibutuhkan sebagai penguatan eksistensi. Ruang maya juga harus dimaknai sama dengan arena sosial yang memproduksi praktif rasional. Kita harus melibatkan kesadaran di dalamnya, bukan menguburnya disana. Seyogyanya ia menjadi tempat persemaian pikiran di mana rasionalitas ditaburkan pada hamparan layar.

Tak ada jalan lain, kita harus berhadap-hadapan dengan realitas maya tanpa mencerabut realitas nyata. Sebisa mungkin kita mengisinya dengan konten produktif. perlu upaya mengsublimasi kebiasaan fasif nan konsumtif. Toh kita bisa memilih sebagai penikmat atau satu diantara orang yang memperjuangkan kesadaran melalui gadget.

Sopian Tamrin, S.Pd., M.Pd., Staf Pengajar FIS UNM, Direktur Eksekutif Education Corner.

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!