Sopian Tamrin

Imagologi Politik Layar

Oleh: Sopian Tamrin*

SOSIO-KOSMIK, EDUNEWS.ID – Perkembangan teknologi kian hari memperlihatkan keterlibatannya dalam setiap aspek kehidupan. Dalam dunia politik teknologi telah menciptakan ruang komunikasi berbasis massal dengan kecepatan tinggi.

kegiatan kandidat di kelurahan tertentu akan diketahui seluruh kelurahan lain dalam waktu singkat. Bahkan beberapa aplikasi media sosial bisa melakukan tayangan langsung sehingga jarak waktu kegiatan dengan publikasi menjadi hilang.

Lalu-lalang politikus ternyata tidak lagi semata di dunia nyata namun juga berkelindan di dunia maya. Intensitas maya justru jauh lebih sibuk dibanding dengan aktor sesungguhnya. Jangan heran jika saat ini mereka lebih banyak blusukan di medsos dibanding turun langsung ke lapangan.

Saat ini tidak ada lagi kata merindu kandidatnya karena setiap saat ia menyapa anda di berbagai layar. Sepintas kita menilai begitu besar konstribusi teknologi layar dalam komunikasi politik.

Tapi pernahkah kita berpikir bahwa ini juga persoalan. Apakah seseorang figur yang disaksikan dalam media itu sama dengan diri mereka sesungguhnya.

Kondisi ini perlu ditelisik lebih jauh. Mengapa? Karena bisa saja gambar dan kata direkayasa sedimikian rupa agar kita tertarik. Kondisi politik saat ini telah melewati gerbang virtual. Inilah yang dimaksud Jeand Baudrillard hiperealitas.

Kondisi semacam ini mematikan realitas dan kenyataan kemudian dibuat kabur melalui produksi berbagai macam model buatan; simulasi, pencitraan, imajinasi. Sehinga realitas maya menjadi nyata dan yang nyata menjadi maya.

Perlombaan eksis di jagat layar membuka kemungkinan para tim kandidat melakukan perlokusi imagologi. Istilah ini diartikan sebagai upaya menghadirkan efek politik citra dalam menggiring opini masyarakat kepada sesuatu yang diharapkan. Memproduksi simpati sebanyak mungkin melalui gambar dan kata yang disebar di media.

Besarnya kebutuhan akan gambar pada proses imagologi politik di dunia layar mengaharuskan mereka menampilkan gambar seolah-olah. Hemat saya mereka sedang memainkan identitas pseudo empatic yakni permainan identitas keseolah-olahan.

Misalnya seolah empati, seolah religius dan seabreg gaya seolah-olah lainnya sesuai dengan konteks sosialnya. Tentu keseolah-olahan tidak bisa dijadikan rujukan dalam memahami realitas.

Sehingga masyarakat sulit untuk menguraikan mana fakta mana ilusi rekaan. Ruang virtual memberikan ruang maksimal politik pencitraan. Seorang figur tidak mesti dermawan hanya membutuhkan sedikit sentuhan bahasa imagologi maka ia akan kelihatan dermawan.

Satu foto sedang memberi bantuan sudah cukup dipredikasi seorang pemimpin peduli. Produksi imagologi terus menerus berpotensi mempersempit jarak antara realitas dan ilusi.

Hemat saya, bahasa politik tak bisa merepresentasikan makna bahasa sebenarnya (an sich) karena bahasa tersebut tersandera oleh motif politik.

Saat politikus menyapa anda bagaimana kabar, bisa saja tujuannya bukan untuk mengetahui kondisi anda tetapi itu berarti menciptakan kesan bahwa ia betul-betul ramah. Yah ini salah-satu corak bahasa politis di era virtual.

Saat ini layar menjadi ruang terpenting bagi politisi mempublikasikan dirinya. Karena masyarakat sudah terbiasa mengakses informasi dari media tersebut.

Marshal McLuhan, menilai bahasa bagi politis bukan mengutamakan isu ataupun kontennya melainkan bagaimana mereka dapat numpang masuk dalam dunia layar.

Politik layar tidak hanya menampilkan bagian luaran figur saja bahkan cenderung memanipulasi kesadaran masyarakat dengan berbagai simulasi tanda pencitraan yang berlebih.

Geliat politik layar tidak semata menciptakan politikus absurd melainkan masyarakat juga ikut absurd. Bagi masyarakat mengalami kesulitan membedakan mana figur asli mana figur rekaan.

Sebaliknya politikus juga terkadang sulit membedakan mana pendukung mana bukan. Karena tidak ada yang bisa menjamin bahasa layar mereferesentasikan sikap yang otentik.

Tulisan ini bukan bermaksud menciptakan pesimistis dan alergi politik tetapi mencoba mengambil posisi kritis sebagai penyeimbang situasi. Proses kritik namun dibarengi tawaran pendekatan dalam menyikapi fenomena politik layar.

Selain itu saya berharap masyarakat tidak terjebak pada hitam putihnya sikap politik. Lantaran memilih kandidat ‘A’ kemudian menilai yang lain penuh dengan keburukan.

Tidak bisa dinafikan bahwa sebagaian besar politikus terbiasa bekerja mempublikasi diri sebagai figur yang baik-baik saja dan sebaliknya menutup – nutupi riwayat buruknya. Meskipun dipahami bahwa seperti itulah cara mereka membentuk common people (pengetahuan umum masyarakat) terhadap dirinya.

Agar masyarakat tidak mudah menjatuhkan pilihan hanya karena gambar dan kata di dunia layar. Menyikapi fenomena poltik layar masyarakat tidak perlu terburu menentukan sikap.

Kalau perlu masyarakat melakukan Epoche yakni penangguhan sikap untuk mengambil keputusan. Sikap seperti ini penting untuk meminimalisir kesalahan pengambilan keputusan. Sekaligus langkah cermat masyarakat dalam memilah informasi yang bersaliweran di jagat layar.

Sebagai penutup bahwa teknologi memang diciptakan untuk mempermudah segala aktivitas hanya saja terkadang masih berfungsi ganda.

Olehnya itu sebaik-baiknya pengguna layar adalah ia yang memanfaatkan untuk kebenaran. Menampilkan kejujuran dan menghidari pembodohan publik. Selamat memulai politik layar tanpa hoax.

Sopian Tamrin, S.Pd., M.Pd., Staf Pengajar FIS UNM, Direktur Eksekutif Education Corner.

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!