Sopian Tamrin

Kesalehan Ramadan Dalam Paradigma Sosiologi

Oleh: Sopian Tamrin*

SOSIO-KOSMIK, EDUNEWS.ID – Euforia ramadan betul-betul menjadikan situasi sosial spontan berubah. Masyarakat begitu apresiatif menyambut bulan penuh berkah ini. Masjid-masjid terus bergema dengan berbagai tema ceramah. Ruas jalan kian padat setiap sorenya karena berburu makanan untuk berbuka puasa (pabuka). Sepintas melihat implikasi ramadhan begitu terasa dalam kehidupan sosial.

Fenomena sosial setiap bulan ramadan sebenarnya menarik untuk diurai secara sosiologis. Berbagai rupa fakta sosial yang khas ramadan bisa memperkaya khasanah objek kajian sosial khususnya sosiologi. Misalnya saja dinamika sosial pasar ramadan, sosiologi dakwah, sampai pada individu yang kebelet shaleh. Di ulasan kita kali ini penulis coba memilih fenomena kesalehan di bulan ramadan. Bagaimana kira–kira jika kesalehan diuraikan dalam paradigma sosiologi.

Penulis coba membatasi perspektif paradigma sosiologi dalam tiga paradigma; fakta sosial, defenisi sosial dan perilaku sosial.

Kesalehan dalam Paradigma fakta sosial
Fakta sosial sebagai paradigma berdiri atas argumentasi bahwa perilaku masyarakat adalah penggambaran dari struktur sosial, nilai dan pranata. Perilaku tak lebih dari penghambaan aktor pada mekanisne sistem sosialnya. Bagi Dhurkeim, Fakta sosial sifatnya mengikat sekaligus memaksa individu bertindak sesuai dengan nilai dan norma.

Kesalehan sebagai perilaku dalam paradigma ini dilihat sebagai normatifitas atas tekanan nilai-nilai agama. Karena paradigma ini menekankan pengaruh eksternal (agama) sebagai rujukan. Kesalehan tak lain perilaku kepatuhan atas nilai-nilai yang telah diajarkan. Bisa juga dinilai bahwa Kesalehan dalam fakta sosial semata bermakna tekstualitas.

Cara kerja agama dalam paradigma fakta sosial tentu saja dogmatik. Olehnya itu bagi penganut yang tidak mengikuti ajaran agama digolongkan menyimpang. Sehingga kesalehan dalam paradigma ini tidak tumbuh dari dalam diri seseorang melainkan faktor kepatuhan atas ajaran.

Tentu kesalehan yang penulis maksud disini sebatas ritual yang bersifat normatifitas. Seperti puasa, tarawih, ngaji dan berbagai amalan lainnya yang dianjurkan.

Kesalehan dalam paradigma defenisi
Dalam kerangka Weberian bahwa individu punya kendali atas perilakunya. Perilaku itu tidak spontan melainkan melalui proses interpretasi atas fakta yang ada.

Model kesalehan ini adalah melalui proses pemaknaan yang dipilih atas realitas yang ada ditengah masyarakat. Ia lahir atas pertimbangan aktor bukan sekedar mengikuti fakta (agama).

Masyarakat sebenarnya bisa saja memilih untuk tidak saleh. Artinya individu yang shaleh adalah pilihan rasional. Mengapa demikian toh ada banyak muslim dibulan ramadan tapi tidak berpuasa, dan tidak menjalankan amalan yang dianjurkan. Itu dikarenakan kesalehan tak bermakna baginya. Olehnya itu dalam paradigma ini pandangan mendasar individu amat menentukan proses defenitifnya.

Paradigma defenisi melihat kesalehan sangat personal tergantung keputusan proses interpretatif. Kesalehan adalah proses kreativitas aktor. Meskipun tak menafikan bahwa ada realitas berupa fakta sosial(agama) namun kembali pada kemampuan individunya mendefenisikan kesalehan. Jika dianggap rasional dan bermakna dalam kehidupan sosialnya maka individu itu akan memilih untuk shaleh.

Paradigma Perilaku Sosial
Jika kedua paradigma diatas melihat bahwa kesalehan antara kekuatan eksternal oleh fakta berupa nilai dan norma dan kreativitas aktor dalam praktik kesalehan. Justru paradigma ini melihat kesalehan sebagai perilaku mekanis atas dasar bekerjanya proses stimulus – respon. Kesalehan tak lebih dari perulangan perilaku karena situasi dan kondisi dibulan ramadan.

Dalam paradigma ini jelas bahwa kesalehan hanyalah perilaku yang terkondisikan karena suasana ramadhan. Hal ini kita lihat perilaku masyarakat setelah lebaran akan kembali pada aktivitas seperti biasanya. Olehnya dalam paradigma ini sangat menekankan bahwa kesalehan hanyalah perulangan perilaku yang dilakukan setiap kali bulan ramadhan datang dan menjadi tidak shaleh lagi setelah bulan ramadhan juga berlalu.

Dari uraian di atas sedikit banyak memetakan perilaku kesalehan dari asumsi dasar yang berbeda. Tentu kita bisa memverifikasi kebenarannya pada saat kita melakukan penelitian tentang tema tersebut. selain tiga paradigma tersebut sebenarnya penulis memiliki alternatif dalam menjelaskan kesalehan dalam paradigma kosmik.

Sebenarnya paradigma ini sudah kita ulas proposisi dan argumentasi dasarna dalam beberapa waktu lalu. Olehnya itu penulis langsung seja mengaplikasikannya fenomena diatas. Paradigma kosmik melihat perilaku masyarakat itu kompleks dan dinamis.

Hemat penulis bahwa perilaku masyarakat adalah hasil kombinasi ketiga paradigma diatas yang bergerak dinamis pada struktur mikro-makro objektif. Artinya karena perilaku kombinatif maka satu perilaku berisi daya fakta sebagai realitas yang memaksa, daya kreasi atas fakta dan pengaruh stimulus respon pada saat tindakan berlangsung.

Keberadaan ketiga paradigma didalamnya tidak bersifat statis. Kapan saja bisa berubah-ubah sangat tergantung daya ketiga kondisi dalam tiga paradigma tersebut. misalkan bisa saja ada individu daya kreasinya lebih dominan, atau tekanan fakta lebih dominan serta tak menutup kemungkinan justru akan didominasi oleh situasi dan kondisi (S=R).

Kondisi aktor juga tidak monoton dan berlaku stabil. Sangat memungkinkan perilaku itu sama tapi daya yang bekerja akan berubah dominasi. Sehingga kombinasi ketiga paradigma tersebut terus berproses mengatur keseimbangannya sendiri (kosmik). Itulah sebebnya penulis menyebutnya sebagai pardigma kosmik.

Kesimpulannya Kesalehan dalam paradigma kosmik adalah perilaku yang diproses melalui kombinasi ketiga paradigma tersebut secara bersamaan. Dengan penjelasan singkat ini sekiranya masih prematur untuk bisa meyakinkan pembaca. Dalam kesempatan yang lain kita akan ulas lebih lanjut paradigma kosmik dan yang paling penting setelah membaca ulasan ini kita bisa memahami bagaimana model kesalehan yang sedang kita praktikkan di bulan ramadan. Selamat berpuasa.

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!