Sopian Tamrin

Mappatappe, dan Bocornya Gawang Argentina

Oleh: Sopian Tamrin*

OPINI, EDUNEWS.ID – Tak seperti malam sebelumnya ikut nimbrung dengan warga sekampung untuk nonton bareng piala Dunia. Bukan karena malam jumat tapi saya sudah janji pada Ambo (panggilan saya ke bapakku) pagi-pagi akan bantu membongkar atap dapur untuk diperbaiki.

Pagi ini saya membantu Ambokku patappe atap bagian dapur. Mappatappe adalah istilah mengganti atau memasang atap rumah dari bakkaweng. Bakkaweng sendiri adalah atap rumah dari anyaman daun rumbia.

Mappatappe dilakukan dengan teliti jangan sampai ada bakkaweng yang terbalik. Hal itu dianggap mareng/tak ada sinar matahari dalam satu kampung. Belum lagi jaraknya diatur sedemikian rupa agar bisa bertahan dalam jangka lama.

Pengikat yang dijadikan tali terbuat dari kulit bambu yang disebut pa’jeppe. Tali pengikat ini sudah tentu kuat dan tahan dalam kondisi basah maupun panas.

Mappatappe memang perlu dikerja dengan hati-hati agar hasilnya maksimal. Namun pagi ini Ambokku dan sepupu saya terpaksa saling berburu dengan waktu karena awan memberi isyarat akan menurunkan hujan. Tentu akan menambah ribet pekerjaan hari ini jika harus bermandikan air hujan apabila langit menyiram sebelum semuanya rampung.

Sebenarnya aku sedikit khawatir menatap awan semakin menebal. Sekeliling pun terlihat gelap layaknya sore hari saat normal. Tapi kali ini saya harus mempercayai sense of feeling Ambo bahwa hujan tak turun jika ini belum selesai. Percayalah! Tegasnya.

Setidaknya pagi ini saya belajar bagaimana masyarakat kampung membangun pengetahuannya secara alami dengan alam. Bukan hanya Ambokku tapi hampir semua orang tua di kampung punya kemampuan membaca tanda-tanda alam.

Kemampuan itu tak lahir spontan namun melalui proses interaksi dengan alam bertahun-tahun. Mereka menyusun cara pandang berdasarkan kehidupannya bersama alam. Pembacaan alam terus berlangsung untuk mereka pahami dan sampai mereka pahami.

Bukan menjadi rahasia umum jika dikampung masyarakatnya punya kemampuan membaca langit, angin, tanah dan suara. Mengapa bisa demikian? Hemat saya karena mereka tak berjarak dengan alam (langit, tanah, angin, suara, dll.).

Dalam analisis ekofenomenologi mengapa kota teralienasi dengan alam karena mereka membangun menutup dirinya dari alam. Bangunan serba tertutup, langit semakin sulit dilihat karena masyarakatnya banyak beraktivitas dalam gedung. Tanah ditutupi beton, pohon ditebang dan laut ditimbun. Bukankah langit, angin dan laut adalah sumber ketakjuban kita terhadap alam dan Tuhan.

Selain itu Marleau Ponty menganasir bahwa subjek mengada adalah ia yang mengalami dunianya (alamnya). Ini juga yang dimaksud Heidegger pada konsep building, dwelling and thinking (membangun, bermukim dan berpikir).

Membangun untuk kepentingan bermukim agar kita terjaga dalam proses berpikir (mengada).

Krisis ekologi juga salah satu akibat dari konsep membangun yang tak satu nafas dengan pemukiman. Selain itu penggunaan teknologi modern berpotensi mencerabut akar eksistensi manusia (proses mengada).

Betapa tidak jika teknologi meredupkan kapasistas kreatif, daya imajinatif dan kemampuan memahami. Bersamaan dengan itu kehadiran teknologi biasanya menghidupkan naluri konsumsi dan jika berlangsung terus menerus maka subjek menjadi pasif.

Begitu penting manusia bersama dengan alam sebagai satu kesatuan dalam kosmik. Dalam fenomenologi memang subjek tak bisa dipisahkan dari alam. Sebagaimana teks populernya “In der welt sein” (aku-dalam-dunia). Tak ada aku yang berada di luar dunianya, ia selalu diliputi oleh dunianya.

Seorang sosiologi fenomenolog Alfred Scutz menganasir bahwa tak ada aktor yang bisa dipisahkan dari konteks sosialnya. Interpretasi (vertstehen) aktor tak dilihat sebagai kreasi yang melahirkan dirinya sendiri melainkan tumbuh dari konteks sosialnya.

Sebagai catatan, sekirannya penting untuk membangun keseimbangan kosmik. Tawaran metodologisnya adalah membangun paradigma kosmik. Melihat keterkaitan antara sosio-ekologi dalam satu padanan fenomena. Artinya cara pandang yang tidak memisahkan keberadaan manusia (aku) – alam (natural dan sosial) dalam satu kesatuan membangun-bermukim dan berpikir.

Aktivitas pagi ini adalah satu proses meng-ada yang tak memisahkan antara aku dengan alam. Bakkaweng adalah hasil kreativitas manusia yang mengada bersama alamnya. Produksinya sama sekali tak merusak alam malahan memberikan sensasi bersama alam. Pemakaian bakkaweng juga menjadikan ruangan lebih adem (hawa dingin) dan tak menimbulkan efek suara berlebih saat hujan.

Membantu Ambo mappatappe memang tidak bisa mengubah kebocoran gawang Argentina sebanyak 3 : 0 dari Krosia, tapi sudah cukup bisa mengatasi kebocoran atap dapur rumah hari ini. Ya, baiknya atap dapur maupun gawang Argentina seharusnya tak ada yang bocor. Tapi apa boleh buat, keduanya harus diperbaiki agar tak kehujanan…. Goool. Sekian.

Sopian Tamrin, S.Pd., M.Pd., Staf Pengajar FIS UNM, Direktur Eksekutif Education Corner.

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!