Sopian Tamrin

Menyoal Cinematografi Lokal Silariang

Oleh: Sopian Tamrin*

SOSIO-KOSMIK, EDUNEWS.ID – Silariang kembali diangkat dalam dunia cinematografi. Film lokal yang disutradarai oleh Wisnu Adi telah tayang perdana pada tanggal 18 Januari kemarin. Hemat saya ada beberapa hal yang mesti didiskusikan kembali.

Mengangkat tema lokal dalam dunia perfilman sedikit banyak menularkan kebanggaan. Hanya saja tidak ada salahnya jika memberikan tanggapan sekiranya bisa jadi proses dialektika dalam dunia perfilman.

Jika menggunakan pendekatan hermeneutika ketaksepahaman dari Bultmann dan Paul Ricoeur maka film sebagai teks juga tidak luput dari upaya propaganda yang patut dicurigai.

Tentu saya menerima dengan baik jika tema lokal ditampilkan dalam medium layar. Namun berkenaan dengan cara teks ditampilkan sekiranya kita lebih hati-hati agar tidak keliru meletakkan sejarah. Bukan apanya persoalan makna yang diproduksi film menjadi konsumsi masyarakat umum.

Beberapa Tanggapan
Petama, saya masih kurang memahami dimana makna budaya silariang bagi masyarakat Bugis Makassar yang ditampilkan dalam film? Perlu didudukkan posisinya dalam kategori budaya dan etika kebudayaan.

Ada kecenderungan makna yang dikonsumsi masyarakat menilai silariang sebagai kearifan lokal. Tentu itu lebih parah lagi. Silariang adalah kasus dalam fakta sejarah masyarakat Bugis tidak lain adalah aib keluarga. Terus arah darimana kita harus memberi apresiasi tentang kisah yang memantik kenangan pahit dan rasa malu keluarga.

Toh, silariang hanya kasuistik yang digeneralisasi atas nama masyarakat Bugis Makassar. Sehingga sejarah ini perlu tafsirkan kembali sebagaimana pertimbangan kehormatan dan tatanan masyarakat.

Kedua, apakah masih relevan? Mengutip penjelasan sutradara Wisnu Adi bahwa fenomena ini masih sering terjadi. Pertanyaannya apakah ada data yang menunjukkan demikian? Kalau maksudnya adalah cinta yang tak direstuinya mungkin ia tapi kalau silariang tentu perlu data. Kalaupun maksud relevansinya adalah cinta yang tak direstui, toh kenapa mengangkat judul silariang? Kenapa bukan “cinta tanpa restu” misalnya.

Memilih silariang sebagai judul sangat mempengaruhi cara penonton menafsirkan makna film. Sehingga makna yang terbangun cenderung bias negatif. Olehnya itu saya semakin curiga kalau film ini hanya memainkan tema sebagai jualan dibanding kedudukannya sebagai makna edukasi kebudayaan melalui cinema.

Dalam buku Zainuddin Tika, Silariang diartikan bilamana kedua pelaku silariang itu (laki-laki dan wanita) sepakat untuk kawin lari. Kalau defenisinya demikian bukankah film ini sedang membangun pola sugesti untuk kalangan muda-mudi agar melakukan tindakan silariang jika tak direstui. Meskipun standar merestui juga layak mendapat beberapa kritik. Tapi hal tersebut tidak dibahas dalam tulisan ini.

Kalaupun ingin menyampaikan konsekuensi silariang dengan memunculkan adegan penikaman atas nama siri sebagai makna budaya. Saya kira itu juga perlu dipertimbangkan. Karena tindakan semacam itu dipertanyakan relevansinya sebagai metodologi penyelesaian masalah.
Seyogyanya akan lebih baik jika film ini bisa menawarkan alternatif lain jika terjadi hal demikian.

Ketiga, Tema lokal Bugis Makassar dalam dunia perfilman sudah beberapa kali diangkat. Hanya saja Bugis Makassar selalu digambarkan sebagai masyarakat yang sering kali memperjuangkan kehormatannya melalui ujung badik. Ini mereproduksi makna dengan imajinasi teks bahwa masyarakat Bugis Makassar adalah suku yang keras dan bersumbu pendek.

Hemat saya masih banyak kearifan lokal yang mesti diangkat dan lebih filosofis. Misalnya saja filosofi tellu cappa. Atau kisah Lamellong sebagai diplomat ulung. Tema ini jauh lebih membanggakan sebagai kearifan lokal sekaligus sangat konteks dalam situasi sosial saat ini. Filosofi tellu cappa justru menunjukkan bahwa ujung badik adalah jalan terakhir setelah pendekatan dialog (cappa lila) dan perkawinan (cappa laso/kelaki-lakian) dalam menyelesaikan masalah.

Apalagi kalau Lamellong difilmkan sudah pasti itu dibutuhkan generasi. Dimana kelihaiannya memainkan kata menjadi teladan langkah dalam dunia diplomasi. Itu justru mengangkat derajat masyarakat Bugis sebagai suku yang hebat berdialog.

Kajian atas dasar etik amat dibutuhkan dibanding hanya pertimbangan human interes untuk kepentingan pangsa film semata. Tidak mesti ditampilkan sebagai mana fakta sejarahnya. Justru kadang kita perlu mereproduksi sejarah untuk kepentingan kemaslahatan masyarakat. toh tidak semua sejarah memberikan makna positif. Olehnya itu perlu menelusuri fenomena ini secara kritis agar kita bisa menempatkan makna sebagai pelajaran dan sumber hikmah.

Komodifikasi Tema Lokal
Saya hanya berharap film seperti ini tidak menelan makna luhur budayanya demi memenuhi pasar konsumsi film lokal. saya melihat besarnya pretensi ekonomi politik dunia perfilman. Termasuk tema kearifan lokal tak lebih dari bungkusan dari strategi pangsa film akhir-akhir ini. Inilah era dimana segala sesuatu dikomodifikasi demi kepentingan ekonomi.

Repoduksi kearifan lokal tentu bukan hal yang buruk namun mesti ditafsirkan seluruh konteks sejarahnya agar tidak bias negatif pada kehidupan saat ini. yang dibutuhkan adalah pendekatan dalam membaca fakta sejarah agar kita tidak melulu menampilkan narasi romantik semata. Semestinya dunia perfilman sebagai medium membangun kesadaran masyarakat.

Dari uraian di atas tentu membutuhkan respon agar perbincangan ini bermakna dialogis. Sekiranya bisa menjadi pendalaman makna film apatah lagi yang bertema lokal. Tentu dengan keterbatasan pembacaan penulis kiranya kritik tidak luput dengan kekurangan. Olehnya itu sekiranya bisa ditanggapi agar kita tercerahkan. Kritik ini sebagai sikap biasa dan manusiawi dalam menyampaikan ketaksepahaman atas suatu tema. Karena ketaksepahaman adalah salah satu jalan untuk memahami.

Sopian Tamrin, S.Pd., M.Pd., Staf Pengajar FIS UNM, Direktur Eksekutif Education Corner.

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!