Sopian Tamrin

Pergumulan Sebagai Tanda Hidup dan Matinya Subyek

Sosiologi Kosmik Sebagai Alternatif Problem Dikotomi

Oleh: Sopian Tamrin*

SOSIO-KOSMIK, EDUNEWS.ID – Pergumulan dalam KKBI disepadankan dengan kata pergulatan. Pergulatan menunjukkan situasi bahwa ada subyek dan ada di luar subyek yang sedang bersitegang. Mengapa ada ketegangan? Terus siapa yang sedang mengendalikan ketegangan? Apa subyek secara mandiri yang mengendalikan ketegangan tersebut?

Ketegangan adalah proses hidup namun bukan sekedar hidup melainkan hadir dalam pengalaman keseharian. Hidup dalam ketegangan berarti hidup yang sedang dalam proses memiliki hidup. Jika tidak merasakan ketegangan dalam hidup berarti mungkin anda tidak sedang benar-benar hidup. Bukankah ia adalah situasi yang menandai kehadiran secara eksistensial. Ya, sederhananya bahwa ketegangan sudah semestinya hadir untuk merasakan bahwa kita memang sedang hidup.

Seorang logoterapy Victor Frankl menganggap kebermakanaan hidup diperoleh melalui pengalaman dari upaya memberikan respon terhadap lingkungan dan menjalani apa yang dialami sendiri. Sedangkan bagi bapak eksistensialisme Kirkegaard, berani menjalani hidup sehari-hari adalah jalan memahami keberadaan dan masuklah dalam kecemasan untuk memulai pencarian labirin kehidupan.

Bagi Heidegger dalam karyanya Being and Time (1960) bahwa hidup yang bermakna adalah bukan sekedar hidup namun hidup yang dihimpun dalam makna ontologis dan upaya menjadi (being) dalam bentangan ruang dan waktu. ketegangan adalah kebutuhan eksistensial yang tak boleh dihindari. Olehnya itu pergumulan hadir sebagai hamparan permadani bagi yang ingin masuk dalam kehidupan sejati. Namun hal ini tidak mudah bagi masyarakat hari ini.

Problem eksistensial montemporer yakni ketakutan masuk dalam penderitaan sebagai jalan memproleh kebahagiaan. Mungkin mereka sudah termakan sugesti psikoanalis Sigmund Freud bahwa hidup adalah pemenuhan kecenderungan ingstingtif yang selamanya membutuhkan kenikmatan sekaligus mengharuskan kemampuan individu menjauhi penderitaan. Asumsi yang dibangun Freud tentu berimplikasi pada praktik hidup sehari-hari. Mengapa tidak? Demi ketikamatan akan seksualitas, materi, kekuasaan, individu berupaya menghalakan segala cara meskipun harus melabrak nilai dan norma sebagai jalan pemenuhan hasrat tersebut.

Saya kira ini salah-satu ciri pergumulan Identitas yang menandai matinya moral. Karena konsep kebahagiaan selalu jatuh pada orientasi kenikmatan fisik-material. Ketidakmampuan memperoleh nikmat menurut Frankl membuat frustasi eksistensial dan pelarian diri dari problem kehidupan sehari-hari. Mungkin inilah yang dimaksud mati dalam hidupnya, yakni Ia yang sekedar ada (Sein) tapi tak mengada (Seinde).

Jika semakin hari kita semakin menjauhkan diri dari masalah itu bukan berarti kita membebaskan diri dari masalah justru itu menciptakan masalah yang sebenarnya. Ketakutan pada penderitaan dan konsep kebahagian fisik-material mengantarkan kita pada keterpurukan eksistensial. Ya, kebanyakan orang lebih senang mengubur hidupnya sendiri dengan beberapa istilah populer seperti nikmati aja hidup, ikut arus aja sebagaimana air. Mereka pasti belum rasa aja bahwa begitu menderita hidup seperti air yang tidak pernah memilih jalannya sendiri namun selalu ikut arus dan berakhir pada tempat yang landai.

Perkenankanlah penulis menggunakan analogi kosmik Eppa Sulapa bahwa menjadi air saja tidak cukup untuk bisa mengada melainkan perlu mengaktualkan semua unsur alam dalam diri. Sesekali hidup ini perlu tegas seperti api, sabar seperti tanah, tunduk seperti angin dan patuh seperti air. Elaborasi keempatnya bisa membawa pada pergumulan yang sesungguhnya.

Tegangan Subyek – Obyek
Apakah subyek hadir dan mengendalikan tegangan? Atau mungkin ia sekedar benda fasif yang tak bisa memilih? Tentu penulis mencoba untuk tidak terjebak pada dikotomis subyek – obyek ala konsep Dialektika Hegel maupun Marx. Hemat saya, keduanya terjadi bahkan hadir sebagai kesatuan fenomena. Artinya setiap tindakan dalam upaya mengendalikan tegangan adalah hasil elaborasi kekuatan individu sebagai aktor kreatif dan tendesi obyektivitas dari konteks sosialnya.

Sungguh sulit menerima jika keduanya terpisah dan masing-masing faktor sepenuhnya mengendalikan tegangan. Karena saat kita mengklaim bahwa sepenuhnya adalah daya kreativitas aktor maka saat itu kita menafikan kondisi obyektivitas dimana aktor membentuk kreativitasnya.

Sebaliknya saat kita menerima sepenuhnya kekuatan obyektif konteks sosial sebagai pengendali tegangan berarti kita telah membunuh subyektivitas dalam diri kita masing-masing. Bukankah setiap aktor memiliki keunikan dan daya kreativitas tersendiri? Jawabannya ia, tapi apakah ada aktor yang tidak terikat pada konteks ruang dan waktu? Jawabannya tentu tidak, karena tidak ada satupun yang bisa keluar dalam batasan ruang – waktu dan sejarah.

Jadi, keduanya bukanlah hal dikotomis melainkan sebagai sebuah realitas yang hadir pada setiap proses tegangan. Hanya saja kombinasi keduanya bersifat dinamis artinya pada setiap individu mungkin kreasi aktor lebih dominan dibanding konteks sosial di saat tertentu. Sebaliknya bisa saja dalam kondisi lain tendensi konteks lebih dominan dibanding aktornya dan tidak menutup kemungkinan tegangan keduanya juga seimbang.

Dalam kajian sosiologi kosmik konsep elaborasi subyek dan obyek kemudian ditawarkan sebagai alternatif dalam menjawab perdebatan sepanjang sejarah pengetahuan khususnya dalam ilmu sosiologi.

Sopian Tamrin, S.Pd., M.Pd., Staf Pengajar FIS UNM, Direktur Eksekutif Education Corner.

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!