Sopian Tamrin

Politik Dalam Pusaran Thumos dan Epithumia

Oleh: Sopian Tamrin*

SOSIO-KOSMIK, EDUNEWS.ID – Sesak riuhnya politik bak kemarau yang merindukan hujan. Kita begitu penat mengikuti arus perseteruan kubu politik yang berseberangan.

Seperti tak kehabisan episode layaknya drama tanpa akhir cerita. Dalam politik takkan pernah ada yang berakhir, jika episode perebutan kekuasaan selesai maka episode mempertahankan kekuasaan seketika dimainkan sebagai babak baru.

Hemat penulis, dinamika politik berada pada etafe yang senang memainkan afeksi publik. Kecenderungan skenario penghindaran rasionalitas publik menjadi cara politik ini digerakkan. Dalam sirah teks sederhana ini, penulis mencoba melihat geliat politik berdasarkan partisipasi politik dengan meminjam konsep thumos dan epithumia Plato.

Kedua corak partisipan ini yang cukup banyak memenuhi jagat perpolitikan tanah air saat ini. Bahkan tak jarang potensi keduanya ter-include pada satu pribadi politik. Artinya selain memiliki loyalitas pada patron sosialnya ia juga sedang mengupayakan kepentingan pribadinya.

Kecenderungan thumos adalah perilaku loyal dan pengabdian beradasarkan patron sosialnya. Sedangkan epithumia adalah aktivitas politik yang didorong oleh kecenderungan untuk memenuhi hasrat pribadi.

Partisipan thumos adalah orang-orang yang yang mengarahkan dukungan politiknya pada tokoh yang dikagumi karena kharisma, dan tendensi simbolik semisal kelompok atau golongan tertentu. Indonesia memiliki potensi partisipan politik thumos. Hal inilah yang membuat mengapa politik identitas tetap subur di tengah pertumbuhan demokrasi.

Tak sulit melacak partisipan politik yang berbasis thumos. Cukup kita mencermati patron sosial yang membentuk loyalitas pada anggota kelompoknya. Dalam kategori kajian politik bagian ini banyak ditemukan di infrastruktur politik. Seperti parpol, kelompok agama, paguyuban, ormas dan komunitas, kelompok etnik. Karena basisnya adalah loyalitas maka tak jarang anggota masyarakat hanya sekedar mengikut pada simbol kelompoknya.

Dalam kondisi semacam ini rasionalitas tak berarti karena apa yang dipilih hanyalah bagian dari pembuktian pada patronnya. Inilah penjarah politis bagi publik yang terjebak pada loyalitas semata.

Thumos bermain pada ranah diferensiasi sosial di mana setiap anggota masyarakat memiliki loyalitas tertentu. Pemimpin itu selalu merepresentasikan kualitas pemilihnya. Demokrasi hanya bisa melahirkan pemimpin yang berkualitas dari masyarakat bermentalitas tinggi.

Hal tersebut sulit terealisasi pada corak partisipasi masyarakat bebasis thumos semata. Masyarakat begitu mudah dibuat senang pada figur dan sebaliknya begitu mudah membenci figur tertentu. Nah pada tataran suka dan tidak suka inilah partisipan thumos dimainkan.

Bagaimana dengan partsipan epithumia? Ini lebih parah lagi karena kecenderungannya adalah pemenuhan aspek naluriah partisipan. Pada level elit maupun masyarakat bawah karakteristik partisipan ini sangat pragmatis. Ya, tak ada kawan yang abadi selain kepentingan.

Bagi si elit, mempertukarkan sikap politik dengan bargaining jabatan dan material. Sedangkan pada level grass root juga tak jarang mempertukarkan pilihannya dengan sekantong sembako. Bagi partisipan semacam ini proses politik hanyalah momentum pertukaran material dan struktural.

Hanya satu cara untuk keluar dari patron tersebut yakni ketika perpolitikan kita mulai memberikan daya nalar kita sebagai instrumen pengambilan sikap politik. Inilah segmen partisipan yang dibutuhkan. Partisipan logisticon, dengan logisticon-lah kita bisa mendobrak patronitas sekaligus melampaui simbol yang melekat dalam diri kita.

Partisipasi ini tak lagi bekerja demi kepentingan kelompok sosial politik maupun kulturalnya melainkan memainkan rasionalitas dalam sikap politik.

Bagi partisipan semacam ini tak ada lagi alasan memilih karena instruksi partai, karena satu komunitas, seagama atau segolongan, melainkan semua berdasar kapasitas kandidatnya. Beginilah cara memurnikan pilihan dari beragam kontaminasi politik yang mengaburkan rasionalitas.

Sungguh sulit diterima nalar jika semua arus diskursus politik dikelola semua anggota dari patron kepentingan. Hal tersebut hanya akan menciptakan kesemerautan percakapan publik. Mengapa? Karena bisa dipastikan mereka hanya menyampaikan sisi terbaik kandidat masing-masing. Sebaliknya akan menyembunyikan kebobrokan kandidatnya demi loyalitas dan ambisi kuasa.

Ketundukan logisticon pada thumos akan merelakan pilihan berdasar suka atau tidak suka. Sedangkan jika logisticon tunduk pada epithuma maka logisticon sekadar alat untuk memuluskan dorongan hasrat animalitasnya. Epithumia akan membawa kita pada derita naluri yang tak ada batasnya. Sedangkan thumos akan mengarahkan kita pada simpati dan empati pada tempat yang salah.

Olehnya itu, keduanya harus bisa dikanalisasi dengan baik oleh logisticon agar keseimbangan kebutuhan dan perasaan tak menjadi penghalangan melahirkan pemimpin berdasarkan kapasitasnya.

Dari kegelisahan inilah Plato amat mencita-citakan sebuah negara dipimpin oleh seorang filsuf. Pemimpin yang bisa mengatur perasaan (thumos) dan naluri (epithumia).

Ia yang banyak menggunakan akalnya adalah ia yang banyak mengarahkan keputusannya dan sikapnya pada kebaikan bersama. Maka logiticon harus ditempatkan pada struktur paling tinggi untuk memimpin guna membangun keseimbangan antara potensi thumos dan epithumia.

Sebagai catatan akhir, penulis menegaskan bahwa apa jadinya jika perpolitikan kita dipenuhi oleh aktor yang berlumuran hasrat dan aktor yang sekadar loyal terhadap kepentingan kelompoknya.

Jika demikian, maka makna zoon politicon tak lagi jadi pembeda antara kita sebagai manusia yang berakal dengan binatang sekedar bernaluriah. Mengapa? Karena kita gagal mendistribusi keadilan dan pemenuhan hak dasar rakyat melalui kuasa atas kewenangan perwakilan yang diemban para politisi.

Sopian Tamrin, S.Pd., M.Pd., Staf Pengajar FIS UNM, Direktur Eksekutif Education Corner.

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!