Sopian Tamrin

Politik Dramaturgi Era Demokrasi Virtual

Oleh: Sopian Tamrin*

SOSIO-KOSMIK, EDUNEWS.ID – Orientasi perpolitikan kian hari semakin mendagradasi moralitas. Politik layaknya panggung sandiwara dimana setiap aktor menyembunyikan identitas yang sebenarnya. Politik meluluhlantahkan batasan antara yang sakral dengan yang profan. Arus ini kelihatannya mengarah pada pendangkalan subtansi politik (depthlessness). Politik sibuk mengatur eskterior (luaran/citra) dibandingkan interior (hakikat).

Politik seringkali meminjam kesakralan sebagai segmen merayu masyarakat. Politik akan dikawin-mawinkan dengan apa saja yang penting menguntungkan. Pola inilah yang mendesakralisasi agama demi meraup simpati. Akhirnya politik menjelma menjadi taktik mencuri perhatian. Meminjam tubuh olahragawan, agamawan sebagai patronase publik yang dimainkan dalam segmentasi marketing politik.

Politik bergerak cepat dan melompat dari satu skenario ke skenario selanjutnya. Tak jarang pikiran hanya dipergunakan untuk menyuguhkan berbagai ragam kejutan-kejutan demi elektabilitas. Politik tak lagi menisbahkan dirinya pada orientasi penyejahteraan melainkan menenggelamkan diri pada ekstasi yang banal dan penuh dengan ambisi personal.

Medsos, panggung dramaturgy politik.

Kehadiran media sosial betul-betul memberikan corak baru dalam dinamika politik. Medsos tidak sekadar ruang baru yang hampa melainkan begitu subur mereproduksi praktik politik. Ia menjelma menjadi panggung besar pertujukkan para politisi. Sebagaimana panggung, di mana perhatian publik akan tertuju pada lakon yang ditampilkan penuh dengan sandiwara oleh sang sutradara. Kita tahu itu bohong tapi kita kadang percaya sebagai sebuah kebenaran karena kelihaian aktor melakoni perannya.

Baca,   Belajar Pulang, Sebelum Pulang

Dramaturgi adalah konsep Erving Goffman yang menilik setiap individu memiliki dua identitas. Identitas ini memiliki dua panggung yang berbeda yakni panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage). Identitas yang dimainkan didepan layar adalah identitas yang direncanakan untuk menaikkan pamor (image).

Kondisi ini membuat politisi membela diri menjadi dua identitas. Jika sekarang lagi populer politisi sontoloyo dengan genderuwo maka fenomena ini cukup layak disebut politisi amoeba, yakni politisi yang membela diri menjadi dua wajah dalam satu posisi. Didepan selalu tampil layaknya dewa penyelamat atau malaikat, padahal dibelakang menyimpan identitas sesungguhnya dengan macam-macam kepentingannya.

Medsos sebagai penanda era cyberspace menjadi front sage (panggung depan). Jika soalan ini ditilik dari konsep dramaturgi Goofman maka dipastikan bahwa yang ditampilkan didepan hanyalah sandiwara. Kondisi sebenarnya bersembunyi di balik layar  bersama sang dalangnya.

Baca,   Sarkasme Bahasa Politik dan Kampanye

Sebagaimana cyberspace didefenisikan oleh Wiliam Gibson dalam neuromancer yaitu sebagai halusinasi yang dialami jutaan orang setiap hari. Yasraf Amir Piliang, dalam bukunya dunia yang berlari, “Ruang publik dalam cyberspace tak lain boks-boks terjadinya dialog antara inbox maupun outbox.” Anda harus bisa mengendalikan layar, agar bisa mengendalikan diri setelah itu selanjutnya anda bisa mengendalikan orang lain.

Medsos diharapkan menjadi ruang publik dengan percakapan yang fair. Medsos ibaratnya kota yang majemuk namun di dalamnya hidup rukun dan damai, Semacam polis agora di Yunani. Yakni tempat masyarakat Yunani bertemu untuk mempercakapkan berbagai soalan khususnya masalah politik kalah itu.

Demokrasi virtual

Penggunaan medsos yang masif juga menandai satu etape dinamika politik dalam sistem demokrasi. Kedaulatan rakyat atas ruang ternyata begitu kuat diproleh pada dunia layar. Perjumpaan sistem demokrasi dengan cyberspace melahirkan fusi sosial yang bisa kita sebut demokrasi virtual.

Meminjam konsep Timothy Leary tentang The Postpolitical Information Society dalam menganalisis fenomena cyberspace. Maka masyarakat saat ini bisa berkomentar, membangun opini sekaligus melakukan kritik tanpa takut akan dominasi kekuasaan sang pemilik media. Karena medsos adalah media ummat tanpa tuan. Inilah demokrasi tontonan yang minim tuntunan. benar anasir Frank Zappa bahwa politik adalah cabang industri hiburan.  Mungkin ini juga menjadi salah-satu sebab mengapa perpolitikan kita tidak pernah ideal karena orang yang ada di dalamnya menganggapnya sekedar hiburan.

Baca,   Pendeta Gerungan dan Masyumi

Medsos mestinya menjadi ruang percakapan publik yang edukatif. Timothy Leary, seorang ideolog cyberspace meyakini bahwa cyberspace adalah ruang publik yang mendorong masyarakat menjadi lebih demokratis. Dalam hal ini, Leary secara tidak langsung mengharapkan masyarakat tidak sekedar penikmat aksi politisi pada layar namun mereka mesti memberikan respon secara aktif. Sehingga medsos tidak semata panggung yang bersifat monolog melainkan ruang relasi aksi-reaksi dalam menciptakan dialog. Pada proses semacam inilah maka virtualitasp un akan jadi ruang yang demokratis.

Sopian Tamrin, S.Pd., M.Pd., Staf Pengajar FIS UNM, Direktur Eksekutif Education Corner.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!