Sopian Tamrin

Reproduksi Konsumerisme Ala Kampung

Oleh: Sopian Tamrin*

SOSIO-KOSMIK, EDUNEWS.ID – Beberapa waktu lalu saya mencoba menulis ekofeminisme balik kampung. Sebagai analogi desa dan kota sebagai perempuan dan laki-laki. Kali ini saya mencoba membaca fenomena sosial konsumsi yang bercorak kampung.

Siapa bilang aktivitas konsumsi intensif hanya terjadi di perkotaan. Dalam kesenyapan ternyata kampung mereproduksi pola konsumsi yang tak kalah masif. Jika konsumsi di perkotaan dilakukan karena gaya hidup dan ketersediaan ruang konsumsi. Tapi di kampung justru perilaku konsumsi berawal dari relasi nenek dengan cucu.

Kecintaan nenek pada cucu menunjukkan loyalitas dan kasih sayang teramat mendalam. Cinta memang menjadi kekuatan penting untuk mengukur bagaimana loyalitas kita terhadap seseorang. Nenek dan cucu adalah relasi yang saling menguatkan eksistensi. Tanpa cucu tentu tak bisa dikatakan nenek sebaliknya dikatakan cucu bila dimaksudkan relasinya terhadap nenek.

Bukan nenek jika tak mendambakan seorang cucu. Dalam beberapa kasus, malah yang lebih berharap menimang momongan biasanya adalah nenek. Kehadiran cucu menjadi penanda diri yang mengukuhkan kehadiran nenek.

Secara psikologis usia lanjut berbanding lurus dengan potensi kasih sayang seseorang. Seorang lansia hasrat penyayang justru semakin meningkat. Dalam kondisi seperti ini ia tentu membutuhkan teman dalam mengaktualkan hasrat.

Seperti yang dikemukakan Jacques Lacan bahwa hasrat adalah perasaan dalam kondisi yang merasa kekurangan. Bagi nenek, kekurangan tersebut bermakna secara ontologis. Ia tidak akan pernah merasa lengkap tanpa seorang cucu. Perasaan seperti ini terus melingkupi dan membuatnya merasa kosong. Itulah sebabnya kehadiran cucu menjadi sangat bermakna bagi kehidupannya sehari-hari.

Cucu sangat dibutuhkan sebagai teman bermain dan saluran hasrat. Secara psikologis pada usia lansia akan banyak kesamaan dengan anak kecil yang manja dan senang bermain. Kecenderungan inilah yang nantinya bekerja dalam saluran reproduksi konsumerisme pada anak.

Cinta yang ada pada diri nenek adalah fitrah yang sudah semestinya ada. Hanya saja perlu mendudukkan fitrah tersebut pada pembentukan pribadi anak yang hemat. Kampung dengan segala macam kuliner lokal bisa menjadi opsi konsumsi seorang anak.
Disinilah peran nenek dalam membangun kebiasaan konsumsi terhadap cucu daripada belanja camilan di gardu (kareddu).

Kebiasaan konsumsi bagi anak kecil lambat laun mereproduksi menjadi kebiasaan dan akhirnya jadi penanda tradisi relasi. Tidak bisa membedakan mana kebutuhan mana keinginan. Selain itu memang pemahaman awam perihal proses sosialisasi menjadi kendala membangun pola pembentukan pribadi yang hemat.

Selain karena model relasi kekerabatan sebagai pola interaksi sekaligus saluran perilaku konsumsi. Struktur kebiasaan masyarakat desa juga menjadi pemantik yang tak bisa dihiraukan. Kesempatan menikmati iklan media televisi di kampung justru cukup intens dibanding masyarakat kota. Hampir semua keluarga mengisi waktu aktivitas malam di ruang keluarga dengan menonton televisi.

Memenuhi kebutuhan biologis adalah fitrah yang tak bisa dihindari. Kecenderungan tersebut hanya bisa meminimalisir melalui pola asuh dari orang tua dan kerabat. Sekiranya kita perlu membangun model pola asuh hemat sejak dini untuk meminimalisir perilaku konsumtif di kemudian hari.

Kita tidak mungkin menghilangkan satu fitrah dalam diri manusia. Yang bersoal adalah polanya, sehingga target juga ada pada pendidikan pola asuh. Kita hanya perlu mengarahkan sebagaimana mengelola kebiasaan sebagai dasar dalam proses sosial pembentukan disiplin konsumsi.

Bukan tidak mungkin bahwa kita saat ini memiliki kecenderungan konsumsi yang tinggi karena dibentuk oleh pola konsumsi di masa kecil. Proses sosialisasi di masa kecil sedikit banyak mewarnai kepribadian kita saat ini. Kecenderungan terhadap jenis makanan tertentu dan intensitas konsumsi itu tidak lepas dari bentukan dimasa lalu. Kecuali kita menolak bahwa tidak pernah menjadi anak kecil, namun itu hal yang mustahil.

Dalam sosiologi keluarga, kita belajar bahwa tahap sosialisasi pertama dan utama ada di lingkungan keluarga. Sehingga hal mendasar yang membentuk anak adalah sesuatu yang berpola sedemikian rupa di lingkungan keluarga. Namun masalah ini tentu tidak bisa digeneralisir karena amat tergantung pada pola relasi yang terbangun. Toh mungkin saja ada nenek yang tidak memperlakukan cucunya demikian manja sehingga tidak juga menjadi cucu yang cengeng, manja dan konsumtif.

Agar tulisan ini tidak menjadikan nenek sebagai tersangka perilaku konsumsi pada cucu. Olehnya itu penulis ingin mengungkap sisi lain dari relasi kedekatan nenek dengan cucunya. Tidak sedikit anak yang sukses karena keterlibatan nenek dalam keluarga sebagai aktor. Ada banyak nenek juga yang sukses menyekolahkan cucunya karena ketidakmampuan orang tua membiayai anaknya.

Tulisan ini saya persembahkan untuk nenek Paki tercinta yang sejak kecil mengais tabungannya demi cucunya yang bernama Sopian Tamrin. Tak ada badai yang bisa menghapus namamu di ingatanku. Jasamu adalah kesucian keringat yang membentuk garis diraut wajahmu. Akan terkenang dalam sadar dan lupaku. Cucumu.

Sopian Tamrin, S.Pd., M.Pd., Staf Pengajar FIS UNM, Direktur Eksekutif Education Corner.

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!