Sopian Tamrin

Revolusi 4.0 Dan Masalah Sosialnya

Prawacana Menyambut Revolusi Gelombang Keempat

Oleh: Sopian Tamrin*

SOSIO-KOSMIK, EDUNEWS.ID – Revolusi gelombang keempat atau populer dengan 4.0 tak mungkin dihindari sebagai sebuah proses perubahan sosial yang sedang menyejarah. Fenomena ini adalah lanjutan dari gerak perkembangan pengetahuan manusia. Ia adalah bagian dari episode revolusi industri sebelumnya.

Istilah ini pertama kali digelorakan oleh Klaus Schwab di tahun 2017 dalam The Fourth Industrial Revolution. Ditandai dengan lompatan dan percepatan di berbagai aspek kehidupan. Era di mana digital sebagai patron aktivitas masyarakat.

Situasi ini perlu dibaca sebagai tantangan kemanusiaan bukan semata perubahan teknologi. Ini adalah fase sosial yang mengguncang sisi psikis. Mengapa tidak, pekerjaan jasa konvensional dengan tenaga kasar perlahan akan menepi bahkan mati karena jasa digital. Saat transportasi online datang dengan basis servis digital seakan menampar jasa transportasi konvensional. Inilah era nyata tentang gejala disrupsi.

Revolusi pertama saat penemuan mesian uap dilanjutkan penemuan listrik kemudian komputer dan saat ini digitalisasi. Revolusi terakhir ini yang saat ini populer dengan gelombang keempat.

Gelombang digital telah mencapai puncaknya. Masyarakat berangsur-angsur terperosok dalam kecanggihan teknologi khususnya bidang komunikasi, produksi, jasa dan konstruksi. Gagap teknologi bermakna penyakit akut abad ini. Kita dipaksa latah terhadap segala bentuk penggunaan teknologi.

Modernisasi terus memperlihatkan kuasanya dengan hadirnya teknologi sebagai instrumen untuk pencapaian efisiensi dan efektivitas.
Perkembangan digitalisasi semakin memperkokoh kembali asumsi Marshall Mcluhan tentang terbentuknya kampung global.

Dengan adanya internet dan digitalisasi, kita langsung terhubung dengan siapapun di permukaan bumi. Menghadirkan perasaan dan kegelisahan yang sama. Misalnya kegelisahan atas kerusakan lingkungan dan pemanasan global dll.

Kondisi ini yang curigai oleh Alvin Tofler sebagai future shock, yakni kegoncangan psikis atas perubahan pola kerja masyarakat dari konvensional ke digital. Ketidakmampuan masyarakat menerima perubahan dianasir Ogburn sebagai fenomena cultular lag (ketimpangan mental).

Cultural lag adalah reaksi yang sering kali muncul atas perubahan mendasar di tengah masyarakat. Sebenarnya itu fenomena biasa dalam perspektif sosiologis. Reaksi semacam itu alami dalam tubuh sosial. Panik terhadap kebaruan karena adanya perubahan mendasar ditengah masyarakat.

Tenaga robotik sebagai salah satu bukti ancaman terhadap pendayagunaan manusia sebagai tenaga dan jasa kerja. Singapura sudah memberikan ruang si manusia besi pada beberapa jasa perhotelan. Mulai dari tenaga bersih-bersih sampai pelayan restoran.

Konstruksi printing 3D yang dirancang dan mulai dioperasionalkan di Dubai. Kecerdasan manusia akan berhadapan dengan dirinya sendiri. Seakan akal telah menunjukkan keaktualannya di hadapan penciptanya. Letupan kecerdasan dalam sains dan teknologi sepertinya belum lelah berevolusi.

Tak menutup kemungkinan, perubahan radikal akan terjadi kemudian hari dan muncul episode baru dengan revolusi gelombang kelima.

Sopian Tamrin, S.Pd., M.Pd., Staf Pengajar FIS UNM, Direktur Eksekutif Education Corner.

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!