Sopian Tamrin

Simbol Politik Dan Ancaman Kebertubuhan

Oleh: Sopian Tamrin*

SOSIO-KOSMIK, EDUNEWS.ID – Tubuh dan politik adalah dua hal yang menarik untuk didiskusikan. Mengapa? Karena hampir seluruhnya politik bicara soal tubuh. Politik sebagai praktik mengaktifkan tubuh untuk memperjuangkan tubuh. Jika masih ada masalah pada tubuh berarti politik masih dibutuhkan.

Gerak tubuh dalam politik menjadi satu kesatuan gestur politik. Tubuh pada dasarnya berfungsi sebagai teks dalam mengkomunikasikan pesan politis. Meskipun tubuh bagi Plato adalah eksistensi kedua yang tak lebih dari wadah dan kuburan bagi jiwa. Namun dalam politik, tubuh merupakan magnet komunikasi yang efektif.

Seorang fenomenologi Prancis, Maurice Merleau Ponty menyatakan bahwa tubuh adalah sesuatu yang mendasari setiap individu dalam mengalami kehidupannya. Tanpa tubuh maka pikiran tak berarti. Sebagaimana ungkapan Ponty bahwa “Aku bertubuh maka aku berpikir, maka aku ada”. Hal senada ditegaskan oleh Gabriel Marcell bahwa memisahkan tubuh dengan pikiran maka akan memutuskan kemampuan kita untuk memahami keseluruhan makna diri (self).

Simbol dan Penjarahannya
Hampir semua kandidat berebut simbol sebelum suara itu benar-benar diberikan masyarakat. Hemat penulis, itu isyarat kekhawatiran psikopolitik yang ditunjukkan kandidat. Olehnya itu mereka menyandera tangan para konstituen sebagai upaya meredakan gejolak psikis dari ketatnya pertarungan politik. Kondisi inilah yang penulis telisik sebagai awal ancaman bagi kebertubuhan kita.

Tubuh dijarah oleh para politisi dengan beragam model. Mulai dari melekatkan atribut tertentu pada tubuh. Akhir-akhir ini tangan kita telah direbut oleh dominasi simbol yang politis. Dari sepuluh jari-jari yang kita miliki sudah memiliki penanda politik pada politisi tertentu.

Simbol – simbol politik betul – betul menghegemoni makna tubuh kita akhir-akhir ini. Ekspresi tubuh seperti dikuasai ekspresi yang politis. Intensitas produksi tanda politik perlahan juga mengarahkan keseragaman makna. Padahal setiap gerak tubuh dan ekspresinya memiliki makna sesuai dengan konteks ruang, waktu dan aktivitas masyarakatnya.

Politik dan ASN
Kita betul – betul khawatir mengeskpresikan tangan kita akhir-akhir ini, apalagi para ASN. Begitu mudah gerak tubuh kita terdeteksi kemudian dipelintir dan dihubungan dengan politik. Tak heran, politik kini mengkomodifikasi segala sesuatu untuk kapitalisasi suara. Jika dalam ekonomi tubuh dikomodifikasi untuk akumulasi kapital maka dalam politik tubuh dikomodifikasi untuk mengakumulasi popularitas dan elektabilitas.

ASN memiliki sisi traumatik setiap pemilu menghampiri, gerak tubuh ASN begitu seksi untuk dikomodifikasi secara politis. Tak heran jika fenomena seputar simbol kini menjadi momok bagi para ASN. Meskipun regulasi mengharuskan netralitas bagi para ASN, tapi tetap saja kita percaya bahwa setiap petahana memiliki kekuatan lebih untuk memobilisasi struktur. Ini memiliki kelucuan tersendiri karena kita berpura-pura tidak tahu dan tetap mengganggap ASN selalu netral. Padahal kita percaya bahwa petahana kuat karena struktur birokrasi di baliknya.

Proses penandaan politik terbukti dominan misalnya simbol metal yang dulu populer di kalangan pemuda kini bisa saja diklaim sebagai pendukung caleg nomor urut tiga. Begitu juga pose para hakim yang mengacungkan simbol pistol kemudian dipelintir mendukung pasangan nomor urut dua. Inilah juga yang menyebabkan saya sudah jarang berfoto salam literasi karena dianggap mendukung pasangan kosong dua. Mengacungkan satu tangan sekarang dimaknai sebagai pendukung Jokowi, padahal ia bisa bermakna bersatu, atau mengekspresikan ketegasan terhadap suatu hal yang sama sekali tidak terkait dengan pilpres.

Merebut Kembali Tubuh
Jika sikap atau pilihan politik diumbar sebelum memilih, bukankah kita sedang mempermainkan kerahasiaan pilihan. Sebaliknya jika itu sekadar kemesraan yang tidak bisa dijadikan referensi pilihan maka yang kita pertontonkan tak lain adalah dusta. Olehnya itu kemesraan politik sekedar sandiwara peruntungan yang berwajah ganda. Namun kemesraan sengaja ditampilkan agar ada kecemburuan yang bisa mengganggu psikologi lawan politik.

Perjumpaan politik pada dasarnya perjumpaan tubuh dengan berbagai problemnya. Tubuh adalah identitas kekuasaan yang diperbincangkan sekaligus diperebutkan. Karena perkembangan akhir-akhir ini, ternyata tubuh dipenjara dengan berbagai simbol untuk mendukung personalitas figur tertentu. Maka dari itu kita perlu merebut kembali kebermaknaan tubuh kita dengan memilih ekspresi secara merdeka.

Hampir semua simbol bertubuh kita telah terjarah para calon di ruang publik. Independensi kepemilikan tubuh menjadi penting karena itu menandai pemenuhan mendasar tubuh untuk bergerak. Ketika tubuh terganggu maka kedirian juga bermasalah. Menurut Foucault, masalah kita, ketika tak memiliki tubuh kita sendiri. Tubuh dikendalikan dalam relasi kuasa yang perlahan mendisiplinkan. Olehnya itu tubuh harus dibebaskan untuk mencapai dirinya yang otonom.

Momentum politik tak boleh menghancur – luluh lantahkan kekayaan makna – makna tubuh dan kebertubuhan. Kita berharap bahwa setiap orang bisa merebut kebertubuhannya agar imajinasi kembali diekspresikan dalam kehidupan sehari – hari.

Semua ekspresi dan gerak kebertubuhan kita memiliki maknanya sendiri – sendiri dan politik hanya satu bagian di antara makna yang lain. Kita tak boleh terlalu mudah memprovokasi dan terprovokasi setiap kali ada ekspresi tubuh karena bisa jadi memang tidak ada kaitannya dengan politik.

Sopian Tamrin, S.Pd., M.Pd., Staf Pengajar FIS UNM, Direktur Eksekutif Education Corner.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!