Sopian Tamrin

Uang Panai: Refilosofi Makna Perempuan Pada Relasi Sains, Budaya dan Agama

Oleh: Sopian Tamrin*

OPINI, EDUNEWS.ID – Berangkat pada teksnya secara etimologi Ia berasal dari kata “Empu” kemudian mendapatkan awalan Per- dan akhiran -an yang berarti ahli atau tuan. Namun dalam buku yg ditulis saituna subhan empu diartikan sebagai hal yang dihargai. Hal ini cukup ngonteks pada pemaknaan perempuan dalam bugis makassar. Perempuan menjadi simbol kehormatan keluarga. Kesucian perempuan adalah nadir martabat keluarga.

Dalam pepatah bugis kita sering mendengar bahwa orangtua lebih mudah menjaga dan mengembalakan seribu kambing  daripada satu perempuan. Ini menandakan bgtu berat menjaga dan memiliki anak Perempuan. Pertanyaannya mengapa demikian? Mengapa perempuan begitu dimuliakan.

Secara kosmologi, perempuan sebagai simbol ketuhanan dalam kasih dan sayang. Ia adalah pintu menuju rumah Tuhan. Sedangkan kajian biosains melihat kelembutan perempuan karena estrogen yang ada dalam tubuh. Dalam usia delapan minggu bagi mamali kita semua adalah perempuan namun pada akhir minggu kedelapan kromoson yang membawa hormon menentukan volume estrogen dan testosteron pada anak perempuan maupun laki-laki.

Baca juga :  Nelayan dan Pentingnya Kesadaran Ekologi

Jadi dalam pendekatan ini sifat dasar manusia tergantung kombinasi dua hormon tersebut. Ini juga menjawab bahwa mengapa ada laki-laki kecewek-cewek-an karena hormon femnya/estrogen lebih dominan begitupun sebaliknya. Kombinasi acak pada kadar hormon bisa mempengaruhi orientasi seksual sehingga terkdang ada laki-laki senang dengan jenisnya atau perempuan senang dengan sesama perempuan. Gejala ini banyak digalakkan oleh feminisme sebagai perjuangan hak asasi.

Lebih ekstremnya lagi gelombang radikal bahkan menolak untuk menikah karena dianggap menyerahkan kuasa tubuhnya pada laki-laki. Hal semacam ini tentu mengguncang normatifitas nilai yg banyak dianut masyarakat Indonesia khusunya bugis makassar. Tentu terbatas menjelaskan pada tulisan pendek ini.

Kembali pada tema uang panai sebagai salah-satu syarat pernikahan bugis makassar tentu mengundang perhatian. Dalam Islam sendiri tidak mengenal istilah panai melainkan hanya mahar. Mahar pun tidak selamanya berbentuk materi, putri Nabi Muhammad dinikahkan dengan Ali dengan baju besi milik Ali Ra. Tidak hanya itu nabi pernah menikahkan seorang laki-laki hanya dengan hafalan ayat. Kisah ini menunjukkan bahwa dalam Islam sendiri tidak pernah mempersulit dalam mahar pernikahan apalagi uang panai.

Terus bagaimana dengan uang panai dalam Bugis Makassar. Dalam kisahnya uang panai sebagai penjaga anak gadis agar tidak dinikahi sembarang lelaki dan tingginya perceraian pada masa kolonial menjadi pertimbang penting kala itu. Namun perkembangannya uang panai sekarang menjadi Prestise keluarga. Pernikahan menjadi ajang perlombaan gengsi. Uang panai tidak lagi sebagai penjaga melainkan memenuhi citra populer di masyarakat.

Baca juga :  Citra; Kenikmatan dan Derita Manusia Modern

Pernikahan semakin hari menjadi klise seremonial dan uang panai yg tinggi dihabiskan untuk memeriahkan eforia resepsi. Sehingga pernikahan bukan lagi perjalanan spiritual laki dan perempuan menuju Tujan. Melainkan pengguguran kewajiban dan tendensi besar image dalam masyarakat. Ia tidak lagi dimaknai kedalam melainkan termaknai oleh citra luar. Sehingga kebahagian pernikahanpun diukur dari penerimaan masyarakat terhadap proses seremonial.

Nah pertanyaannya, di mana relasi tingginya panai terhadap pencapaian subtansi pernikahan? Hemat penulis, uang panai perlu direfilosofi dan didialogkan dengan subtansi pernikahan terlebih lagi dengan kesesuaiannya dengan fitrah manusia. Ketiganya mesti satu kesatuan yang saling menguatkan. Budaya hadir sebagai aktulisasi kemanusiaan yang tentu tidak bertolak dwngan fitrah. Begitupun agama hadir tidak memberangus hasrat melainkan menawarkan metodologi yang mendudukan fitrah pada saluran yang memanusiakan.

Baca juga :  Sarkasme Bahasa Politik dan Kampanye

Dengan jalan seperti itu maka baru dimungkinkan pernikahan bisa menjadi resolusi penyaluran hasrat yang bermartabat sekaligus membedakannya dengan binatang. Wallahu a’lam bissawab.

Sopian Tamrin, S.Pd., M.Pd. Staf Pengajar FIS UNM, Direktur Eksekutif Education Corner.

To Top
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com