Sopian Tamrin

Wisata; Patron Ekonomi dan Ruang Adaptasi Sosial

Oleh: Sopian Tamrin*

SOSIO-KOSMIK, EDUNEWS.ID – Masyarakat modern semakin sulit terpisah dengan wisata. Rutinitas seakan menenggelamkan masyarakat pada pola hidup yang kaku. Kekakuan semacam ini menimbulkan gejolak psikis, kejenuhan bahkan memicu stres. Olehnya itu diperlukan ruang sosial yang relaktatif untuk menetralisir tekanan pekerjaan yang mekanis.

Terlahir di Indonesia, kita cukup bersyukur jika hidup di abad 21 dengan model mekanis pekerjaan seperti sekarang ini. Mengapa tidak, begitu banyak tempat wisata yang bisa kita pilih sebagai destinasi rekreatif. Salah satunya adalah Gilitrawangan yang ada di Pulau Lombok.

Setiap tempat wisata tentu memiliki keunikan dan kekhasan masing-masing. Keterbukaan masyarakat Gilitrawangan menerima kultur dari luar tak lantas mencerabut akar tradisi. Justru aktivitas wisata ini menjadi arena masyarakat dalam mengeksplorasi corak budaya mereka. Kadatangan turisme tak semata berkonstribusi ekonomi bagi masyarakat setempat melainkan menghidupkan kekhasan budaya.

Pulau Gilitrawangan menjadi Bali kedua turisme. Selain karena jarak yang dekat juga memiliki ruang yg menarik. Pepohonan masih terjaga di sepanjang pinggiran pantai juga menjadi pilihan bagi wisatawan lokal yang tak berjemur.

Pulau ini tak kenal sepi karena sepanjang hari terus kedatangan wisatawan. Hampir tak ada waktu yang lengah dari pagi sampai malam. Hal ini sudah pasti menjadi penggerak ekonomi bagi masyarakat.

Kontak sosial dengan berbagai ragam kebudayaan mereproduksi praktik adaptasi. Proses adaptasi berlangsung alami melalui dialog kebudayaan dan bahasa adalah medianya. Olehnya itu tak mengherankan jika masyarakat dipulau ini mengusai sampai 7 (tujuh) bahasa.

Sekilas melihat bahwa wisata di daerah ini bekerja semacam patron yang mengkoneksikan seluruh struktur sosial. Mengapa tidak? Konsep wisata ini setidaknya menghidupkan usaha penyeberangan. Bukan hanya penyebarangan dalam pulau Lombok melainkan membangun jejaring dengan pulau luar khususnya Bali.

Permukaan laut seakan tak lelahnya menopang beban kapal-kapal yang bersaliweran tak ada hentinya. Membawa wisatawan, guide, pegawai restoran, pejual dan berbagai macam pekerjaan lainnya.

Selama beberapa jam di sana sama sekali tak berjumpa dengan sudut kotor yang merusak eksotisme. Tak bermaksud terburu-buru membangun konklusi bahwa mereka tak sekadar membangun basis struktur melainkan telah meletakkan suprastrukturnya (kesadaran ekologis).

Konsep wisata benar-benar hadir sebagai primadona bagi setiap daerah. Wajar jika setiap daerah berambisi mengeksplorasi ruang dan kekayaan budaya. Mengapa tidak betapa konstributif wisata menggerakkan struktur sosial dalam satu siklus besar ekonomi. Wisata telah membentuk jejaring sosial sekaligus bekerja sebagai patron proses sosial.

Jika berkeinginan hatamkan sampai ke ujung pantai di tempat ini disediakan sepeda dan kereta kuda (bendi). Jangan heran jika pengemudinya lengkap dengan id card layaknya pegawai kantoran. Kebijakan pemerintah dalam layanan transportasi tidak hanya menarik tapi juga tanpa polusi. Inilah konsep pengembangan wisata ptoduktif tapi ramah lingkungan.

Terakhir, meski daerah ini dikunjungi banyak turis tapi itu di antara mereka tak ada yang terusik dengan lantunan azan. Memang tak semerdu kidung tapi cukup mengayun kita karena berirama bersama angin pantai.

Gilitrawangan, 09 Mei 2018

Sopian Tamrin, S.Pd., M.Pd., Staf Pengajar FIS UNM, Direktur Eksekutif Education Corner.

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!