Sosok

Cerita Komandan Kopassus Saat Dikudeta Mahasiswa Dari Gubernur Riau

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Kegarangan Kolonel Kaharuddin Nasution sebagai prajurit pasukan khusus dan pernah menjabat sebagai Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), tak mempan dalam membendung gelombang unjuk rasa dilakukan oleh para mahasiswa serta pelajar tergabung dalam Angkatan 66.

Gelombang unjuk rasa ini merupakan buntut dari pecahnya Gerakan Tiga Puluh September (Gestapu) 1965 yang menculik enam jenderal kemudian dibunuh di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Kaharuddin Nasution, ketika itu sebagai Penguasa Pelaksanaan Dwikora Daerah (Pepelrada) dan Gubernur Riau, tak merespon dan mengabaikan tuntutan para pelajar, mahasiswa dan pemuda di Riau.

Tuntutan mereka antara lain Pembubaran PKI beserta ormas-ormasnya, perombakan kabinet Dwikora dan Turunkan harga sembako, kemudian dikenal dengan Tritura. Suwardi MS dkk dalam bukunya Sejarah Perjuangan Rakyat Riau 1942-2002 dan buku lainnya, Sejarah Lokal Riau, menceritakan bagaimana tuntutan kaum terdidik itu tak digubris oleh Kaharuddin Nasution.

Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) di Riau, didirikan pada 7 Oktober 1965 di Kantor Jawatan Sosial. Rapat tersebut dihadiri tokoh-tokoh dari PII, HMI, Ansor, IMM, PMII, SEMMI, SEPMI, PI Perti dan Mapancas.

Baca juga :  Pemuda Muslimin Indonesia Kecam Represivitas Aparat terhadap Aktifis Mahasiswa

KAMI periode awal ini dipimpin Harun Ghazali (HMI) yang pernah menjabat sebagai pimpinan Yayasan Ibnu Sina, membawahi RS Ibnu Sina, Aripin DS (PMII), ayah dari Wakil Bupati Rokan Hulu, Hafith Syukri, Ibrahim Ajad (IMM), Sulaiman Adam (Dema FKIP) Buchari Syarif (HMI).

Sedangkan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI) Riau, dipimpin Agus Marzaini ((PII), Asmar Saleh (SEPMI) dan Muslim Chatib (IPM), serta tokoh lainnya. Aksi organisasi-organisasi tergabung dalam KAPI dan KAMI ini kemudian diikuti GMKI dan PMKRI.

Angkatan Muda Riau ini selain berdemonstrasi menuntut pembubaran PKI beserta ormas-ormasnya, juga mengambil alih kantor-kantor PKI, Baperki dan sekolah-sekolah berafiliasi ke partai tersebut. Aksi anak muda Riau ini semakin kuat usai ditopang dan didukung oleh ABRI, ketika itu, kini TNI, terutama dari Kodam Siliwangi, ditempatkan di Pekabaru untuk Konfrontasi dengan Malaysia.

Baca juga :  Beasiswa Mahasiswa dan SMA di Kaltara Sepi Peminat

Berbagai aksi yang dilakukan generasi muda tersebut, ternyata tak mendapat dukungan dari Kaharuddin Nasution, Komandan RPKAD tahun 1959 tersebut. Kaharuddin tidak serta-merta memihak Angkatan 66.

Karena sikap penguasa Riau tersebut tak memihak Angkatan 66, maka pada tanggal 24 Mei 1966, pelajar dan mahasiswa tergabung dalam IPMR-Jakarta, Badan Kerja Sama Pelajar Mahasiswa se-Jawa, dan Badan Musyawarah Besar Nasional Masyarakat Riau se-Indonesia, mengirimkan surat kepada Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Mayjen TNI Basuki Rachmat, isinya menuntut agar Gubernur Kaharuddin Nasution di-retool dari posisinya.

Generasi muda Riau menuntut Kaharuddin Nasution karena ketiadaan sikap dan tindakan yang tegas dari prajurit khusus tersebut dalam membersihkan aparatur pemerintahan di bumi lancang kuning dari oknum-oknum PKI, kaum plin-plan dan golongan vested interest.

Sebulan kemudian, 28 Juni 2016, Pimpinan Missi Ampera, seperti Thamrin Nasution (beberapa periode jabat anggota DPRD Riau dari Golkar, dosen FISIP Unri), Thamrin Yahya, T Abdul Manan, Syed Abdullah Ghazali (dosen FISIP Unri dan jabat anggota DPRD Riau dari Golkar), Arsyad Bhawan dan Mustafa Noor, diterima Peperalda Riau, Kaharuddin Nasution.

Baca juga :  UMY Bagi Sembako Gratis ke Mahasiswa tak Pulang Kampung

Missi Ampera meminta Kaharuddin Nasution untuk melepaskan M Nazar Muhammad yang ditahan di TPU (kini jadi Plaza Citra Jalan Pepaya). Tak hanya itu, mereka juga meminta tokoh-tokoh Riau yang ditahan, seperti Dt Wan Abdurrachman, Tubagus Ishak M, T Machmud Anzam, T Rasmy Saleh, Buchari Syarif, dan Dahlan Abdullah.

Mendapat perlawanan seperti itu, seorang anggota Missi Ampera menjawab, mereka tidak suka Orde Lama, sekarang sudah masa Orde Baru. Sejak saat itu, usai pertemuan, Missi Ampera gerak-geriknya dimata-matai orang.

Kemudian pernyataan yang sama dikeluarkan oleh KAMI, KAPI dan Kesatuan Aksi Pengganyangan Nekolim dan Gerakan PKI, 21 Juni 1966. Di seberang pelabuhan terlihat dengan jelas berjarak 2 meter, telah dijaga pasukan keamanan bersenjata lengkap.

Advertisement

Missi Ampera tak takut dan gentar. Sekali lagi, kakak kandung Angkatan 66, Kodam Siliwangi dibawah pimpinan Kapten Sukatma melindungi aksi mereka dengan mengawal dan membawa rombongan Missi Ampera ke pemondokan Stadion Dwikora (dulu Stadion Hangtuah, kini jadi bagian Masjid Agung An-Nur).

Tujuh hari berselang, Missi Ampera diterima audiensi oleh Peparalda, Kaharuddin Nasution. Mereka meminta para tahanan yang berseberangan dengan Kaharuddin Nasution, untuk dibebaskan dati TPU.

Di antaranya, M Nazar Machmud, pimpinan KAMi dan KAPI Riau, Datuk Wan Abdurrahman (Mantan Wali Kota Pekanbaru), Tubagus Ishak M, T Mahmud Anzam, Rasmy Saleh, Bushcari Syarief dan Dahlan Abdullah.

Pada 15 Juli 1966, mengalirlah massa KAMI dan KAPI dari pelosok Riau, termasuk Kepulauan Riau, ke Pekanbaru dengan mendatangi DPRD-GR menyampaikan Nota Politik. Sayang, ketika itu meletus bunyi tembakan gencar dari aparat keamanan.

Sebanyak 15 anggota KAPI berjatuhan usai mendapat sodokan keras dari popor senapan aparat, tendangan dan terjangan. Mereka kemudian dilarikan ke RS Caltex di Rumbai. Tak hanya itu, sejumlah aktivis juga ditahan, di antaranya Mustafa Noor, Leonard Kaligis, M Arifin, Fauzi Suherman. Agus Jun Batuah, dari Missi Ampera dan Imran, Asman, serta Juliaman dari KAMi/KAPPI Riau.

Para aktivis yang ditahan itu kemudian dibawa ke Markas Arhanudse di Kubang, berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat kota. Dampak dari peristiwa tersebut, dibentuklah Tim Pencari Fakta dari KAMI Pusat dan mereka ke Pekanbaru selama 6-14 Agustus 1966, dipimpin Elyas dan Imran Said Alan.

Elyas kemudian melakukan reorganisasi pimpinan KAMI Riau yang baru terdiri dari Darubani Lahasy, Khaidir Kadir, Darul Arief (kini pimpinan Tiki di Riau), Thaher Assey dan lain-lain, ditandai dengan pelantikan mereka 10 Agustus 1966.

Berselang 18 hari kemudian, 28 Agustus 1966, 50 tahun silam, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat Riau di Jakarta, mengeluarkan dua pernyataan. Isinya, untuk menciptakan stabilitas politik dan ekonomi di Riau, perlu secepat mungkin dilakukan pergantian Gubernur Riau serta mengusulkan Kolonel Inf Ariffin Achmad (ketika itu itumenjabat Asisten II KOanda Sumatera di Medan) sebagai Gubernur Riau.

Keinginan tersebut dikabulkan oleh pemerintah pusat dan Arifin Achmad, perwira TNI AD yang berperang dan besar di Riau dilantik sebagai Gubernur oleh Mendagri, 15 November 1966.

Kaharuddin Nasution sendiri dilantik sebagai Gubernur Riau tak terlepas dari perannya meredam Pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Indonesia (PRRI). Ia mendarat di Pekanbaru, Lapangan Udara Simpang Tiga (kini Sultan Syarif Kasim II) pada 12 Maret 1958, sebagai Komandan RPKAD.

Ia merupakan perwira komando berdarah batak yang lahir pada 25 Juli 1925 dengan masa tugasnya sebagai tentara dihabiskan di luar Sumatera Utara. Walau akhirnya ia menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara, media 1983-1988.

Karir militer Kaharuddin Nasution dimulai di masa pendudukan Jepang. Setibanya di Tokyo, sebagai balatentara Jepang, 1945, ia menerima berita Indonesia telah Merdeka. Langsung Kaharuddin meninggalkan pasukan dan berlayar menumpang kapal kargo sampai di Syo Nan To (Singapura). Secara diam-diam, kemudian ia melanjutkan berlayar ke Jakarta.

Mula-mula, Kaharuddin bergabung di TRI sebagai Komandan Mobil dan seterusnya mejadi Komandan KMKB Jakarta Raya (1954-1955), Komandan RPKAD (1956-1959) dan Komandan RTP I/Operasi Tegas 17 Agustus di Riau Daratan (1959-1960).

Kaharuddin kemudian ditugasi oleh Presiden Soekarno menjadi Gubernur Riau kedua usai SM AMin, mulai 1960-1966. Banyak prestasi diukir dan kini masih bisa dinikmati Kaharuddin Nasution.

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com