Sosok

In Memoriam Kalmuddin

Oleh: Syafinuddin al Mandary

Tanggal 10 Oktober 1992 dua orang tamu dari Makassar (saat itu masih dinamakan Ujungpandang) tiba di kampus Politeknik Pertanian Universitas Hasanuddin (saat ini dinamakan Politeknik Pertanian Negeri Pangkep). Keduanya memperkenalkan diri kepada saya. “Kami pengurus HMI Cabang Ujungpandang, ini Nasution dan saya Kalmuddin,” kata salah seorang dari keduanya.

Sore hari itu juga kedua senior saya itu pulang ke Ujungpandang menumpang kendaraan angkutan antar kota dari Parepare seusai memberikan pengarahan tentang pengembangan program HMI Komisariat Politeknik Pertanian Unhas. Saat itulah pertama kali saya mengenal Kalmuddin yang membidangi pembinaan aparat organisasi bersama rekannya itu.

Saya biasa menyapa beliau dengan panggilan, “kak” sebagaimana senior saya yang lain. Pembawaannya tenang dan kutu buku. Meski demikian, Kalmuddin tidak kehilangan selera humor. Beliaulah yang mempopulerkan panggilan “Kanda Tion” untuk kawan karib yang bersamanya ke kampus Politeknik Pertanian tempo hari.

Setahu saya, satu-satunya senior yang kami panggil “kanda” adalah Nasution Hidayat, mahasiswa dari Komisariat Fakultas Teknik Universitas Muslim Indonesia (UMI). Seluruh senior kami sapa “kak” saja sebelum menyebutkan namanya. Kalmuddin mengkhususkan sapaan “Kanda Tion” sebenarnya sebagai bentuk humor dan tanda akrabnya beliau berdua.

Tiga tahun kemudian, Kalmuddin terpilih sebagai Ketua Umum HMI Cabang Ujungpandang menggantikan Hasbi Al-Ghiffary dari IAIN Alauddin Ujungpandang. Saat itulah kuliahnya di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Ujungpandang (sekarang: Univesitas Negeri Makassar) harus terhambat karena kesehariannya dihabiskan untuk mengurusi perkaderan dan pengembangan organisasi HMI Cabang Ujungpandang yang dipimpinnya.

Baca juga :  Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, Menteri Pendidikan Indonesia Pertama

Sepekan setelah dipilih sebagai Ketua Umum HMI Ujungpandang Periode 1995-1996, beliau menunjuk saya menjadi sekretaris umum bersama saudara Amrin Massalinri dari IKIP Ujungpandang sebagai bendahara umum.

Saya hanya sempat membantu beliau dalam posisi sebagai sekretaris umum selama setahun sebab setelah Rapat Pleno II, saya memilih aktif di perkaderan. Beliau mengangkat Aris Muhammad (HMI Komisariat Pertanian UMI) menggantikan saya sebagai sekretaris umum.

Mengendara Sepeda Motor

Kira-kira awal Juli 1995 untuk pertama kalinya saya berani dibonceng oleh Kak Kalmuddin menggunakan sepeda motor. Cerita yang saya tahu dari rekan-rekannya yang tinggal serumah dengan beliau, bahwa beliau tidak berani menyetir motor. Di luar dugaan saya, beliau ternyata bisa memacu gas sepeda motor sangat cepat daripada yang saya perkirakan sebelumnya.

Kami berangkat dari Sekretariat HMI Cabang Ujungpandang, Jalan Maccini Gusung, selepas shalat Maghrib berjamaah menuju “Rumah Blok D”. Setengah cemas di belakang beliau, kami sudah kembali masih sempat shalat berjamaah Isya di Maccini Gusung, itupun sudah sempat singgah di Sekretariat Lembaga Dakwah Kampus IKIP Ujungpandang; Lembaga Kajian Islam Mahasiswa Bertakwa (LKIMB), sebelum ke Blok D.

Beliau hanya tersenyum saat saya nyatakan rasa kagum, sekaligus semacam ungkapan syukur tidak jatuh di jalan, “E dede, palla’na pale Kak Kalmuddin palari motor!” Ia masuk ke ruangan sekretariat sambil mencandai rekannya di IKIP yang sudah lebih dahulu bekerja di PT. Bosowa, Nasruddin. Untuk merayakannya kami singgah di warung coto milik Daeng Odde’ dekat sekretariat.

Baca juga :  Persinggungan Soeharto dengan Para Pahlawan Revolusi

Kaca Mata Hitam dan Kabbulampe’!

“Demikianlah sambutan Ketua Umum HMI Cabang Ujungpandang, Kanda Kalmuddin, sekaligus menutup acara. Selanjutnya kita ikuti pembacaan doa oleh Kanda Nasruddin, S.Pd.,” kata Master of Ceremony (MC). Sebenarnya panitia Basic Training Komisariat Tarbiyah IAIN Alauddin Ujungpandang malam itu sudah menyiapkan pembaca doa dalam acara penutupan. Namun, tiba-tiba Nasruddin, S.Pd. harus maju ke depan karena telanjur disebut namanya oleh MC. Tentu saja Nas, panggilan akrabnya, sangat terkejut. Dia terpaksa memenuhi panggilan MC karena juga kami desak untuk maju. “Naik moko, Nas! Ndak enak sama peserta besik,” kata salah seorang dari kami yang semula bersenda gurau bersama Nas di belakang forum Basic Training.

Kakinya menghentak lalu melangkah ke depan forum. Terlihat raut kesal dari tatapannya, walau tetap berusaha tersenyum. Lantai papan Aula Masjid Alauddin Jl. Racing Centre Kompleks Perumahan Dosen UMI Ujungpandang, mengeluarkan bunyi keras. Nasruddin duduk tepat di sisi kanan, Sang Ketua Umum  Cabang, Kalmuddin. Kami tidak dapat menahan tawa melihat bahu Kalmuddin bergetar naik turun menahan tawa sambil menundukkan wajah.

Baca juga :  Ismail 'Ma'ing' Marzuki, Sang Maestro Musik Indonesia

Sang pembaca doa sempat melirik ke kiri, dan mulai curiga bahwa ini lantaran provokasi Ketua Umum Cabang itu. Itu sebabnya, sebelum mulai baca doa, ia menoleh dan mendekatkan wajahnya ke pelipis kanan Kak Kalmuddin sambal setengah menghardik. “Kabbulampe’!”, kata Nasruddin. Tentu saja para peserta Basic Training merasa heran menyaksikan situasi itu. Kami tidak dapat menahan tawa meskipun seharusnya khusyu’ mendengarkan doa.

Saya yang menyaksikan peristiwa itu bisa memahami mengapa tiba-tiba Kak Kalmuddin menyuruh MC menyebut nama Kak Nas sebagai pembaca doa. Begini! Saat sambutan sedang berlangsung, sekonyong-konyong Nas datang lalu berdiri berkacak pinggang sembari memasang kaca mata hitamnya menghadap ke depan forum. Tentu saja maksudnya mau “menggoda” sahabatnya yang sedang ceramah di depan  itu. Seketika itu juga sang Ketua Umum Cabang itu tak dapat menahan tawa dan memangkas sambutannya. Padahal, kami yang di belakang serta semua peserta nampak masih mengharapkan uraian beliau. Kami tahu juga bahwa pidato beliau tidak pernah singkat. Sebelum mengakhiri sambutannya itulah, beliau membisikkan sesuatu kepada MC, yang semula kami tidak tahu apa isi pesannya. Rupanya, beliau menyampaikan agar yang membacakan doa adalah sahabatnya yang tadi menggodanya dengan kaca mata riben itu. Bahkan, ternyata beliau mendiktekan kalimat yang harus diucapkan MC. “Bilangko, pembacaan doa oleh Kanda Nasruddin, S.Pd.,” perintah beliau.

Advertisement

Usai baca doa, Nas turun lalu melangkah ke belakang bergabung bersama kami. Tawa meledak. Draw, skor satu sama!” Kalmuddin terganggu oleh orang berkacak pinggang berkaca mata riben namun berhasil memaksa pengganggunya itu membaca doa di depan forum tanpa persiapan apapun.

Kembali ke “Blok D” lalu berkhadijah

Selama memimpin HMI Cabang Ujungpandang, beliau lebih banyak tidur di sekretariat dan di lokasi pelatihan HMI. Beliau nyaris meninggalkan tempatnya di bilangan Gunung Sari belakang IKIP Ujungpandang yang lebih dikenal dengan “Blok D”. Usai serah terima jabatan kepada Tajuddin Noer, Ketua Umum HMI Cabang Ujungpandang berikutnya (Periode 1996-1997), beliau segera menyelesaikan kuliah.

Salah satu hal yang juga menonjol dari karakter beliau adalah sangat berhati-hati atau cenderung pemalu tatkala harus terlibat dalam diskursus pernikahan. Suatu hari, Amiruddin Sijaya, rekannya di IKIP Makassar mengajaknya silaturrahim ke Muhammad Thalib, Sekretaris Umum HMI Cabang Ujungpandang saat Herman Pabau menjabat Ketua Umum HMI Cabang Ujungpandang Periode 1993-1994. Sesampai di tempat Thalib, mereka segera tahu bahwa rekannya yang sudah lama tidak muncul itu ternyata sudah menikah. Kalmuddin dengan akrab menyesalkan, mengapa diam-diam thalib menikah, tidak memberitahukan rekannya yang lain. Sepontan Amiruddin Sijaya memotong pembicaraan dengan gaya jenakanya. “Kenapakah? Cemburuko? Mau tongko?”, sergahnya tanpa pertimbangan. Hanya wajah merah padam yang diperlihatkan oleh Kalmuddin tanpa bicara sepatah katapun menanggapi ocehan Amiruddin Sijaya. Beliau mengalihkan pembicaraan.

Tidak lama kemudian terdengar berita bahwa beliau telah melamar Mantan Ketua Kohati Cabang Ujungpandang, Rosmini Amin dari IAIN Alauddin Ujungpandang. Sayang sekali saat itu saya tidak sempat mengikuti walimah beliau berdua. Hanya menitip ucapan selamat dan doa. Kalmuddin akhirnya “berkhadijah” setelah lama “bergua hira” di HMI Cabang Makassar. Ini meminjam istilah para muballigh di yayasan Al-Bayan dan kampus Pondok Pesantren Hidayatullah.

Usai tugas strukturalnya di HMI, beliau lebih banyak aktif gerakan dakwah melalui KOMPAK DDII yang menangani bantuan kepada korban kerusuhan Ambon, dan tetap lanjut di Forum Ukhuwah Islamiyah yang saat itu dipimpin oleh Prof. Dr. Abdurrahman A. Basalamah (almarhum). Setelah reformasi politik tahun 1998, beliau termasuk paling gencar berbicara tentang peluang penegakan syariat Islam di wilayah Sulawesi Selatan. Tak pelak, bersama beberapa kawan dan senior di HMI seperti Ustadz Abdul Azis Qahhar Mudzakkar beliau ikut mendeklarasikan berdirinya Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam (KPPSI), dan selanjutnya menjadi Komite Penegakan Syariat Islam (KPSI).

Aktivitas intelektualnya tetap tidak pernah hilang dari riwayatnya hingga akhir hayat beliau. Setelah menjadi dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Watampone beliau kemudian berpindah kembali ke ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar. Menjadi dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar membuat beliau kembali menekuni dunia akademik. Beliau lulus pada program pasca sarjana Universitas Hasanuddin Makassar dan tengah menyelesaikan program doktoralnya.

Beberapa hari setelah lebaran Idul Fitri 1437 H, WA Group Obrolan Alumni Hijau Hitam memberi pesan bahwa Kakanda Kalmuddin sedang membutuhkan pertolongan pertama akibat serangan penyakit yang tiba-tiba dirasakannya dini hari. Stroke, begitu salah satu jawaban ketika saya bertanya penyakit yang diderita beliau. Kami mengirimkan doa, namun Tuhannya lebih mencintai beliau dan Maha tahu yang terbaik untuk hambanya itu. Beliau berpulang di RS Pelamonia setelah tidak sadarkan diri selama bejam-jam. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Putra Bulukumba itu telah berpulang dalam kasih sayang Tuhannya, menyusul Almarhum Nasution Hidayat, karibnya, yang lebih dahulu wafat 2005 lalu. Selamat jalan, sahabatku!

Jakarta, 16 Juli 2016

Syafin Al-Mandari, Sekjen DPP Syarikat Islam

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com