Sulhan Yusuf

Intoleransi = Iliterasi

Oleh: Sulhan Yusuf*

PARADIGMA, EDUNEWS.ID – Geliat literasi, khususnya di Kota Makassar mulai menggetarkan jagat pikiran. Dan, salah satu komunitas terdepannya adalah Komunitas Literasi Makassar, yang salah seorang punggawanya, Irmawati Puan Mawar, yang akrab disapa Imhe, mantan pengasuh kolom literasi di koran Tempo Makassar. Banyak sudah yang dibikin oleh komunitas ini, selain menyelenggarakan kelas menulis, pun yang paling mengemuka adalah menerbitkan buku. Hingga di kekinian, telah terbit empat buku, masing-masing: Esai Tanpa Pagar, Ruang Sadar Tak Berpagar, Telinga Palsu, dan Sepi Manusia Topeng.

Pada hari Kamis, 23 Februari 2017, Komunitas Literasi makassar, bekerjasama dengan Tempo Institute, Koran kampus Identitas Unhas, dan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unhas, bertempat di Aula Prof. Mattulada Unhas, menyelenggarakan diskusi yang bertajuk, Anak Muda Membaca Bangsa, yang dirangkaikan dengan peluncuran buku, Telinga Palsu. Hadir selaku pembincang, Andi Faisal (Mahasiswa Doktoral KBM-UGM), Mardiyah Chamim (Direktur Tempo Institute), Wahyuddin Halim (Dosen UIN Alauddin Makassar), dan Harry Isra (Kotributor buku “Telinga Palsu”). Persamuhan itu, dipandu oleh Faisal Oddang, seorang penulis muda Makassar, yang namanya lagi moncer di jagat kepenulisan nasional.

Dari arena diskusi inilah, saya mendapatkan judul esai ini. Gegara Wahyuddin Halim, yang memulai pemaparannya dengan hentakan kalimat pada layar sajian , Intoleransi = Iliterasi. Saya langsung meraba jalan pikir yang bakal disajikan, seolah Wahyuddin ingin segera menyatakan, bahwa penyebab intoleransi adalah iliterasi. Apatah lagi, ia memiringkan huruf I pada kedua awal kata tersebut. Dan, benar saja adanya, ia langsung tancap gas dengan memetakan penyebab intoleransi, yang belakangan ini tumbuh subur, di negeri yang memang amat subur ini.

Menurut Wahyuddin, ada 3 kepicikan, yang menyebabkan seseorang, sekaum, dan sekolompok manusia jatuh dalam terungku intoleransi. Pertama, kepicikan georafis. Gegara seseorang terisolir dalam wilayah geografis tertentu, atau tidak pernah melakukan perjalanan, jarang piknik, maka semua yang tidak sama dengan apa yang dialaminya, dianggap sebagai perbedaan, yang berujung pada kesalahan. Singkatnya, setiap yang berbeda adalah serupa dengan ancaman bagi keberadaannya.

Kedua, kepicikan ideologis. Jenis kepicikan ini bisa terjadi, disebabkan oleh tertutupnya pandagan dunia yang dianut, termasuk pandangan keagamaan. Sesiapa saja yang hanya menganggap pandangannya saja yang sah, maka di sinilah benih intoleransi berkecambah. Dapat dibayangkan, bila saja ada seorang yang kukuh begitu rupa, dan tidak mau tau pandangan dunia lainnya, maka pastilah terjadi benturan pendapat. Sangat sulit menumbuhkan suasana dialogis pada orang yang ditawan oleh kepicikan ideologis. Padahal, kesegaran suatu pandangan dunia, dapat diperoleh dengan cara membuka diri, berdialog secara setara.

Ketiga, kepicikan literasi. Pola kepicikan ini bisa mengada, jikalau orang membatasi dirinya pada bacaan tertentu, atau terbatas aksesnya terhadap bahan bacaan. Pola yang pertama lebih sulit mengurai kepicikannya, sebab terkait langsung dengan sikap eksklusiv. Hanya mau membaca bacaan yang sesuai dengan kepentingan diri dan kelompoknya. Sementara pola kepicikan yang kedua, lebih mudah menyelesaikannya, sebab dengan memasok bahan bacaan, maka akan terurailah benang kusut permasalahannya.

Semua kepicikan di atas, geografis, ideologis dan literasi, dapat diselesaikan dengan mendorong gerakan literasi. Maksudnya, tindakan literasi yang paling praktis, mengkampanyekan budaya baca. Sebab, kepicikan geografis, bisa diatasi dengan cara membaca. Orang boleh berdiam di suatu wilayah tertentu, dan tidak pernah meninggalkan wilayah itu, namun dengan bantuan bahan bacaan, bisa saja melakukan pengembaraan, perjalanan dan piknik ke dunia lain. Bukankah kata-kata bijak sudah menabalkannya, bahwa buku adalah jendela dunia? Dan, membaca buku sama dengan membuka jendela dunia?

Pun juga dengan kepicikan ideologis. Melalui tindakan membaca, berarti mencoba mendialogkan pandangan-pandangan yang dianut. Satu hal yang pasti, jika pandangan ideologis terbuka, atau pandangan keagamaan bersifat inklusif, maka akan ada jaminan, bahwa pandangan ideologis keagamaan itu akan makin kaya. Keragaman pandangan adalah kekayaan keagamaan. Bahkan doktrin keagamaan, pun telah menjaminnya sebagai sebuah rahmat, bagi yang mengamalkannya. Dan, pada konteks ini, tindakan membaca menjadi sangat penting. Tradisi literasi yang kuat, berpengaruh langsung dengan keluasan pandangan.

Sementara itu, kepicikan literasi, sungguh-sungguh merupakan wujud nyata dari keadaan iliterasi. Bila ingin terbebas dari kepicikan literasi, tidaklah cukup sekadar melakukan tindakan membaca. Tetapi haruslah menerjemahkannya ke dalam gerakan literasi dalam pengertian seluas-luasnya. Gerakan literasi tidak boleh eksklusif. Kampanye literasi harus mempu menyentuh seluruh lapisan komunitas di luar komunitas-komunitas literasi itu sendiri. Apalagi, perkembangan gerakan literasi di masa kiwari ini, telah memasuki fase, bahwa gerakan literasi mesti harus digandengkan dengan segala macam bentuk ikon budaya pop.

Menarik bila saya ajukan klasifikasi komunitas, yang diajukan oleh Harry Isra, yakni komunitas: asli, lingkungan dan organisasi. Penjelasan sederhana dari komunitas asli, dipendapatkan sebagai komunitas yang diperoleh, atau bergabung dalam komunitas dikarenakan bawaan, turunan. Maksudnya, sebagai misal, komunitas keluarga. Setiap orang punya keluarga, sesederhana apa pun model keluarga yang dimaksudkan. Berikutnya, komunitas lingkungan. Pada komunitas lingkungan sosial yang menjadi pengikatnya. Orang berkomunitas karena bentukan lingkungan. Dan terakhir, komunitas organisasi. Komunitas yang muncul di sini adalah karena setiap orang mencari karena kesamaan visi dan misi. Inilah sejenis komunitas yang diupayakan.

Dari kesemua klasifikasi komunitas itu, mestilah dijadikan sasaran gerakan literasi. Gerakan literasi yang paling mutakhir harus merangsek masuk ke keluarga, sehingga dalam keluarga itu tumbuh tradisi literasi. Begitu juga, gerakan literasi harus menumpangkan gerakannya pada apa saja yang merupakan potensi pada lingkungan sosial, sehingga dari sinilah bakal tumbuh budaya literasi. Demikian pula, segala macam organisasi bentukan, haruslah gerakan literasi menyata di setiap organisasi, sehingga setiap organisasi sosial, sekaligus berfungsi sebagai ajang tumbuhnya gerakan literasi.

Keluarga yang di dalamnya hidup tradisi literasi, lingkungan sosial yang padanya ada budaya literasi, dan organisasi sosial yang sekaligus menjadi kendaraan gerakan literasi, bakal merupakan cikal bakal pengentasan suasana iliterasi, yang sudah barang tentu bermuara pada pembebasan dari keadaan intolerasi. Jadi, singkat cerita, intoleransi yang merajalela itu disamakan dengan iliterasi yang subur, maka hanyalah gerakan literasi, yang jadi jalan keluar buat menciptakan toleransi. Benarlah apa yang ditabalkan Wahyuddin, “Intoleransi = Iliterasi”, yang karena tindakan gerakan literasi akan mewujud, “Toleransi = Literasi”. Dan, saya percaya itu.

Sulhan Yusuf. Koordinator Kelas Inspirasi Sulsel.

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close