Syifa Amin

Melampaui Taṣwīb dan Takhṭi’ah: Landasan untuk Menghargai Perbedaan Pendapat

CAKRAWALA, EDUNEWS.ID – Terkait dengan status ijtihād dalam perkara maẓnūnāt (hal-hal yang ẓannī), ada dua mainstream posisi yang berbeda. Posisi pertama disebut sebagai taṣwīb. Posisi ini prinsipnya memandang bahwa Allah SWT tidak memberi keputusan hukum yang pasti (hukm muʿayyan)  dalam perkara maẓnūnāt sehingga mujtahid diberi keleluasaan untuk melakukan ijtihād.

Seorang mujtahid hanya dituntut untuk melakukan penalaran yang dapat menghantarkannya pada keyakinan bahwa pendapatnya kemungkinan besar benar (ghalabat al-ẓann). Apabila ada dua orang mujtahid berselisih pendapat karena mempunyai dua hasil ijtihād yang berbeda, keduanya tetap dianggap benar karena sama-sama sudah mencapai ghalabat al-ẓann. Dua-duanya mendapat ganjaran. Posisi ini diwakili oleh Abū Bakr al-Bāqillānī.

Posisi kedua disebut sebagai takhṭi’ah  yang dipelopori oleh Abū Isḥāq al-Isfarā’īnī. Posisi ini berpandangan bahwa Allah SWT mempunyai sebuah keputusan hukum yang pasti (hukm muʿayyan) sebagai sebuah kebenaran dalam perkara maẓnūnāt hanya saja tidak dapat ditangkap secara utuh oleh manusia. Manusia hanya mungkin untuk sampai pada point yang paling mendekati kebenaran saja (al-aqrab).

Seorang mujtahid yang dengan penalarannya berhasil sampai pada poin yang paling mendekati kebenaran tersebut dinilai benar dan berpahala. Namun demikian seorang mujtahid yang dengan ijtihadnya tidak berhasil sampai pada poin yang paling mendekati kebenaran tersebut, maka dia dan ijtihadnya dinilai salah tapi kemudian kesalahannya tersebut dimaafkan.

Menengahi dua posisi di atas, dimana yang satu membenarkan semua pendapat (taṣwīb) meskipun saling bertentangan dan yang lain menilai bahwa satu dari dua pendapat yang bertentangan adalah salah (takhṭi’ah), Imām al-Ḥaramayn al-Juwaynī mengajukan posisi intelektual alternatif.

Baca juga :  Gerakan Islam Indonesia: Mengurai Belenggu, Membangun Peradaban*

Di satu sisi, dia mengkritik al-Bāqillānī  yang menganggap tidak ada hukum yang pasti (sebagai  poin kebenaran) dalam urusan maẓnūnāt dan mengambil pendapat al-Isfarā’īnī yang menyatakan adanya keputusan hukum yang dikehendaki Tuhan sebagai poin kebenaran. Di sisi yang lain, Imām al-Ḥaramayn juga mengkritik pendapat  al-Isfarā’īnī berkaitan dengan mujtahid dan ijtihād yang salah sebagai pendapat yang tidak tepat seraya mengadopsi pendapat al-Bāqillānī  tentang pentingnya ghalabat al-ẓann  sebagai basis bagi sebuah amal.

Singkatnya, bagi Imām al-Ḥaramayn al-Juwaynī, yang dituntut dari seorang mujtahid itu adalah menyampaikan penalaran agar mencapai titik terdekat dengan kebenaran (al-aqrab atau al-ashbah) hingga tingkat yang meyakinkan (ghalabat al-ẓann). Selama seorang mujtahid berhasil mencapai tingkat ghalabat al-ẓann dalam berijtihad dan beramal selaras dengan hasil ijtihadnya tersebut, maka dia dinilai benar dan berpahala.

Misalnya dalam hal penentuan awal Ramadan. Anggap saja awal Ramadan yang benar menurut Allah SWT bertepatan dengan 6 Juni 2016. Namun, kebenaran tentang tanggal masehi awal Ramadan tersebut tidak dapat diketahui dengan pasti.  Dalam hal ini, tugas seorang mujtahid bukanlah untuk mengetahui kebenaran tanggal tersebut dengan pasti, melainkan, untuk sampai pada keyakinan yang tinggi (ghalabat al-ẓann)  bahwa ijtihadnya mendekati kebenaran tersebut.

Baca juga :  Reorientasi Pemikiran Pendidikan dalam Islam: Beyond Ideology*

Yang kemudian harus dilakukan oleh seorang mujtahid adalah menggunakan metode tertentu, baik ru’yah maupun hisab, untuk menghantarkan ijtihadnya kepada poin yang paling mendekati kepada kebenaran, yakni awal Ramadan menurut Allah SWT. Jika seorang mujtahid dengan metode ru’yah menyimpulkan dengan keyakinan yang tinggi (ghalabat al-ẓann) bahwa awal Ramadan adalah 6 Juni 2016 dan dia mulai berpuasa hari itu maka dia dinilai benar. Benar dalam dua pengertian, yaitu bahwa dia beramal sesuai dengan ijtihadnya dan sekaligus sampai pada kebenaran tanggal yang sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Demikian pula dengan mujtahid lain yang dengan metode hisab sampai pada kesimpulan yang meyakinkan (ghalabat al-ẓann) bahwa awal Ramadan adalah 7 Juni 2016 dan lalu mulai berpuasa pada hari itu. Dia juga dianggap benar. Benar dalam pengertian bahwa dia telah mengamalkan hasil ijtihadnya meskipun salah dalam hal menemukan tanggal yang tepat menurut Allah SWT.  Hal yang sebaliknya bisa terjadi, misalnya jika awal Ramadan yang benar menurut Allah SWT bertepatan dengan 7 Juni 2016.

Maka, yang menggunakan metode ru’yah dinilai benar karena mengamalkan hasil ijtihadnya meskipun salah dalam hal menemukan tanggal awal Ramadan yang sebenarnya. Sementara yang menggunakan metode hisab dinilai benar dalam dua pengertian sekaligus, mengamalkan hasil ijtihadnya dan menemukan tanggal yang sebenarnya.

Dalam hal ini, yang dianggap salah dari seorang mujtahid adalah apabila dia mempunyai ijtihād tersendiri hingga mencapai tingkat ghalabat al-ẓann namun pada praktiknya dia tidak mengamalkan hasil ijtihadnya dan malah mengamalkan hasil ijtihād orang lain. Kesalahannya terletak pada inkonsistensi dan inkoherensi antara keyakinan intelektual dan praktik dalam amalan. Kecuali, tentu saja jika mujtahid tersebut  pada satu titik menemukan kesalahan pada metode dan hasil ijtihadnya sendiri sehingga mengadopsi metode dan hasil ijtihād orang lain untuk diamalkan.

Baca juga :  Ramadan dan Kesalehan Sosial

Posisi intelektual yang seperti ini memberikan jalan bagi kita untuk dapat menghargai pendapat orang lain dengan lebih mudah dan lapang hati. Meskipun pendapat orang lain itu kita anggap salah, meleset dari kebenaran sejati, tapi jika pendapat tersebut didasarkan atas penalaran yang lurus dan jujur, kita patut untuk menghormati dan menghargainya.

Yang menjadi titik kritis bukan pendapat akhirnya, tapi cara bernalarnya. Kalau penalarannya tidak lurus dan jujur, maka penalaran orang tersebut musti diluruskan sesuai dengan kaidah penalaran yang benar dan diterima (baik penelaran logis maupun tekstual). Tapi kalau yang dianggap salah adalah pendapatnya sedangkan penalarannya sudah lurus dan jujur, maka posisi orang tersebut harus dihargai dan dihormati. Walahu aʿlam bi al-ṣawāb.

Refleksi atas Kitab al-Burhān fī Uṣūl  al-Fiqh karya Imām al-Ḥaramayn al-Juwaynī (paragraph 1461-1481)

Mohammad Syifa Amin Widigdo, Ph.D  Indiana University, USA. Sekjen PB HMI MPO 2001-2003

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!