TJOKRO CORNER

Haji Misbach: Sejawat Tjokro yang Bersimpang Arah

Oleh: Muhammad Kasman, SE., M.Si*

TJOKRO CORNER – Haji Mohammad Misbach, tak banyak yang mendarasnya secara serius, meski namanya cukup populer di kalangan aktivis pergerakan kontemporer yang mencoba mendalami perselingkuhan Islam dan Komunis dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Padahal, bila ditilik ide dan pemikiranya, dia layak disandingkan dengan Cak Nur dan Gus Dur, terutama pada soal pluralisme beragama. Atau di eranya, Misbach punya pemikiran mentereng perihal Islam dan Komunisme yang tak kalah cemerlang dari sejawatnya, seperti Tjokroaminoto, Soekarno, Semaun, Darsono dan Tan Malaka.

Terlahir dengan nama Achmad di Kauman Surakarta pada tahun 1876 dari keluarga pedagang batik yang sukses namun tidak memiliki dasar keagamaan yang kuat. Pemahaman agama Achmad kecil diperoleh karena bentukan pesantren dan lingkungan Kauman yang dihuni para pejabat keagamaan keraton.

Menurut Nur Hiqmah dalam Pertarungan Islam dan Komunisme; Teologi Pembebasan Kyai Kiri Haji Misbah (2011:20), Achmad muda tidak memamah pemikiran dari pustaka berbahasa Belanda, dia lebih akrab dengan bahasa Arab. Intelektualitas dan kesadaran tercerahkannya terbentuk melalui pergaulannya dengan Mas Marco Kartodikromo dalam Inlandsche Journalisten Bond (IJB).

Saat menikah, Achmad sempat menukar namanya menjadi Darmodiprono, sebelum akhirnya menetapkan hati menyandang nama Haji Mohammad Misbach seusai menunaikan ibadah haji. Hal mana juga dilakukan oleh Tjokroaminoto yang menghilangkan gelar radennya dan memilih melekatkan identitas haji di depan namanya.

Misbach bergabung ke Sarekat Islam (SI) sekira tahun 1914. Pada tahun di mana dia juga bergabung di IJB. Pada awal tahun 1915, tepatnya 15 Januari, pengaruh SI dan IJB pada diri Misbach mengejawantah dengan dia menerbitkan surat kabar bulanan, Medan Moeslimin. Melalui surat kabar inilah, Misbach menebarkan pemikiran islamnya yang bercorak progresif revolusioner kepada khalayak.

Saat itu, Misbach masihlah pendukung setia ide-ide SI dan Tjokroaminoto. Bahkan ketika kasus penistaan nabi Muhammad yang dipicu oleh artikel Djojodikoro di surat kabar Djawi Hisworo pada edisi Januari 1918, dan memicu Tjokroaminoto membentuk Tentara Kandjeng Nabi Moehammad saw. (TKNM) pada tanggal 17 Februari 1918 di Surabaya, Misbah masih di barisan Tjokroaminoto, menjadi donatur TKNM.

Namun di penghujung tahun 1918, Misbah malah lebih dikenal sebagai propagandis Indische Partij yang saat itu sudah bersalin baju menjadi Insulinde. Kerasnya gesekan internal antara faksi Islam dan faksi Komunis dan perbedaan pandang mengenai kapitalisme menjadi alasan kuat bagi Misbach untuk hengkang dari SI.

Kalau Tjokroaminoto adalah intelektual muslim pertama yang secara konseptual dan jernih menemukan suatu harmonisasi antara cita-cita sosialisme dan agama Islam itu sendiri, maka berbeda dengan Tjokro yang lebih moderat, Hadji Misbach juga terlibat dalam gerakan anti pemerintah kolonial secara radikal (Nur Hiqmah, 2011:5-6)

Selama masa di Insulinde (1918 – 1920), Misbach membawa warna Islam ke sana, slogan ‘Jangan Takut, Jangan Bersedih’ yang dikutip dari ayat al Quran, surah Yunus (10) : 62, “Sekarang sesungguhnya sahabat Allah, mereka itu tidak akan takut dan tidak bersedih”, menjadi ciri khas Misbach. Karena itulah, menurut Nor Hiqmah (2011:24), Misbach dikenal sebagai seorang aktivis pergerakan sekaligus muballigh.

Saat SI menerapkan disiplin partai pada tahun 1920, dan memaksa faksi Komunis pimpinan Semaun hengkang, Misbach memilih ikut ke SI ‘Merah’. Karena giatnya pemogokan yang diinisiasinya melalui Sarekat Hindia, Misbach diseret ke penjara di akhir 1920 dan baru dibebaskan dua tahun kemudian, tepatnya 22 Agustus 1922.

Sejak itu, Misbach total meninggalkan organisasi berbasis Islam. Setelah meninggalkan SI di tahun 1920, menyusul dia membelakangi Muhammadiyah di penghujung 1922. Seperti ditulis Zahroh (1997:320), bagi Misbach, organisasi Islam pada waktu itu dianggap mandul dan bersikap kooperatif dengan pemerintah.

Karena bagi Misbach, organisasi Komunislah yang mampu bersikap radikal anti kooperatif dengan pemerintah kolonial (Zahroh, 1997:320), maka sejak Mei 1923, Misbach dikenal sebagai propagandis PKI dan mulai berbicara serius tentang relasi positif antara Islam dan Komunisme. Sementara di saat yang sama, Tjokroaminoto sedang mematangkan ide Islam dan Sosialisme yang terbit pada tahun 1924.

Ketika Tjokroaminoto menampilkan Islam sebagai ajaran moral untuk mengritik kapitalisme dan bahwa musuh kaum pergerakan bukanlah kapitalisme, melainkan kapitalisme yang berdosa, maka sebagaimana Semaun yang tak mengenal kapitalisme yang baik, Misbach menyebut bahwa kapitalisme adalah ajaran haram yang menjadi penyebab penindasan manusia, sehingga umat Islam wajib menghapusnya (Nur Hiqmah, 49).

Walau demikian, secara garis besar ide Tjokro dan Misbah tidaklah terlalu bersimpang jauh. Dalam Islam dan Sosialisme, Tjokroaminoto (1924:22) menulis, “Bagi kita, orang Islam, tak ada sosialisme atau rupa-rupa ‘isme’ lain-lainnya, yang lebih baik, lebih indah dan lebih mulus, selain sosialisme yang berdasar Islam.”

Coba bandingkan dengan uraian Misbach salam artikelnya ‘Islam dan Komunisme’ (Dimuat di surat kabar Medan Moeslimin II tahun 1925), “Orang jang mengakoe dirinja Islam tetapi tida setoedjoe adanja Kommunisme, saja berani mengatakan bahoewa ia boekan Islam jang sedjati, atau beloem mengerti betoel tentang doedoeknja agama Islam.”

Bila Tjokroaminoto (1924:32) menegaskan bahwa anasir-anasir sosialisme telah termaktub dalam sebanyak-banyaknya peraturan-peraturan Islam dan di dalam persatuan hidup bersama yang telah dijadikan oleh Nabi yang suci, Muhammad Saw., maka bagi Misbach (1925:3), yang tak mengakui komunisme hanyalah mereka yang tak mengerti Islam.

Yang menarik, dalam hal ketauhidan sebagai prinsip dasar Islam, Misbah berkeyakinan, “Toehan jang bersifat keowasa itoe hanja satoe sadja, dari itoe sesoenggoehnja agama jang sedjati itoepoenbdjoega tjoema satoe.” Tjokroaminoto pun demikian adanya, bahwa gerakan SI yang dipimpinnya bersandar pada sebersih-bersih tauhid.

Mereka juga punya hasrat yang sama untuk mengawinkan Islam dengan Sosialisme/Komunisme dalam upaya menentang Kapitalise dan Kolonialisme Belanda. Cuma memang jalur yang mereka pakai bersimpang arah. Tjokroaminoto memilih cara moderat melalui SI, sementara Misbach bergerak secara radikal bersama PKI.

Namun sayang, ikhtiar Misbach kandas di tengah jalan. Radikalitas gerakannya tidak ditopang oleh progresivitas massa rakyat, sehingga gerakannya mudah dipatahkan Belanda. Pada 20 Oktober 1923, Misbach kembali ditahan karena kasus pemogokan buruh dan petani.

Misbach dibuang ke Manokwari bersama istri dan anak-anaknya (dua orang putra dan seorang putri). Sayang, anak-anaknya harus pulang dalam keadaan yatim-piatu ke Solo,26 Juni 1926. Perjuangan Misbach berakhir di Manokwari saat nyawanya melayang pada 24 Mei 1926 karena penyakit yang menyerang, menyusul istrinya yang lebih dulu berpulang.

Meski demikian, apa yang dirintis oleh Misbach untuk mengawinkan Islam dan Komunisme tak ikut mati. Meski Tjokroaminoto kemudian menjadi lebih kental nuansa keislaman dibanding Sosialismenya, namun murid dan menantunya, Soekarno, kembali menggelorakan upaya itu.

Muhammad Kasman, SE., M.Si. Ketua Umum Pimpinan Wilayah Pemuda Muslimin Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan 2014 – 2018.

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close