TJOKRO CORNER

Tan Malaka dan Lima Bulan yang Tak Biasa

Oleh: Muhammad Kasman, SE., M.Si.*

TJOKRO CORNER – “…Pintu Sarekat Islam selalu terbuka buat Saudara. Itu kata perpisahan yang diucapkan oleh Saudara Tjokroaminoto kepada saya.” Ungkap Ipie sebagaimana disitir oleh Anhar Gonggong. Ipie atau bernama lengkap Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka, pertama kali bertemu dengan Tjokroaminoto awal Maret 1921.

Adalah R. Soetopo, seorang guru pada Sekolah Pertanian di Purworejo yang menjadi jembatan pertemuan singkat tersebut. Bekas redaktur kepala surat kabar Boedi Oetomo tersebutlah yang mengenalkan Ipie kepada Tjokroaminoto, Darsono, dan Semaoen. Pertemuan ini pun dikonfirmasi oleh Harry A. Poeze dalam bukunya, Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik Indonesia 1897-1925.

Pertemuan singkat itu, berlangsung di saat 57 delegasi Sarekat Islam lokal bertemu di Yogyakarta. Central Sarekat Islam menggelar kongresnya di kota itu, 2-6 Maret 1921. Meski sekilas, bagi Ibie, Tjokro dan SI telah meninggalkan kesan tersendiri dalam jiwa mantan siswa Rijks Kweekschool di Harleem, Belanda.

Ibie, sebagaimana Tjokro, berusaha menjaga agar front Islam dan Komunis jangan sampai berpecah. Namun saat itu, posisi Tjokro dan SI dalam kondisi goyah akibat krisis kepemimpinan Tjokro sebagai efek dari serangan Darsono dan Baars. Tjokro didakwah korup. Meski pada akhirnya tidak terbukti, posisi Tjokro terlanjur goyah.

Situasi ini diperparah dengan renggangnya hubungan faksi Islam dan faksi Komunis di dalam SI akibat gerakan anti-Komunis yang digerakkan oleh Agoes Salim, Abdul Muis, dan Fachruddin. Bahkan, ketegangan ini berujung pada kebijakan disiplin partai pada Oktober 1921, dengan tersingkirnya group Semaoen dari SI.

Ibie tak punya waktu banyak untuk berdiskusi perihal ini dengan Tjokro. Dua bulan sebelum disiplin partai diterapkan, atau lima bulan sejak mereka bertemu untuk pertamakalinya di Yogyakarta, awal Maret 1921, Tjokroaminoto akhirnya ditahan oleh Belanda, tepatnya pada 30 Agustus 1921.

Meski demikian, Ibie tetap berusaha menjaga komunikasi antara kedua faksi yang terbelah, demi menjaga fokus pada kemerdekaan bumiputera. Ibie menggungat sikap kaum pergerakan komunis yang terkesan tak peduli dengan penahanan Tjokro. “…Tatkala Tjokroaminoto ditangkap, tidak sepatah kata pun terucap sebagai tanda protes.”

Ibie juga menunjukkan sikapnya tersebut pada saat mengganti Semaoen membuka kongres Partai Komunis Indonesia, 24 Desember 1921, kongres yang kemudian memilihnya menjadi ketua partai. Ungkapnya, “Perlawanan itu telah tumbuh dalam bentuk yang luas sekali, bahkan sampai bidang pendidikan. Ingatlah apa yang terjadi dengan sekolah Sarekat Islam di Semarang.”

Tragisnya lagi, saat Tjokro dibebaskan dari tahanan pada April 1922, dua bulan sebelumnya, tepatnya 13 Februari 1922, Tan Malaka bersama gurunya, Pieter Bergsma ditangkap dan diasingkan ke luar Hindia. Saat Tan Malaka kembali ke Indonesia pada 11 Juli 1942, Tjokro telah wafat sewindu sebelumnya, 17 Desember 1934.

Ibie begitu menghormati Tjokro, “Pemimpin-pemimpin SI, seperti Samanhoedi, Tjokroaminoto, dan Semaoen, harus kita hormati karena mereka membangunkan rakyat yang sudah tidur sekian abad lamanya.” Demikian tulis Ibie dalam artikelnya yang berjudul ‘Sovjet dan Parlement’ yang dimuat di koran Soeara Ra’jat tahun 1921.

Namun tak segan Ibie juga mengkritik kepemimpinan Tjokro. Menurutnya, Tjokro tidak punya pandangan yang baik mengenai analisis kelas rasial di Indonesia. Tjokro juga lemah dalam masalah propaganda dan perihal manajemen keuangan. Maka impilkasi bagi SI yang dipimpinnya, “Aksi mereka gagal semua karena rakyat tidak memiliki kekuatan ekonomi.”

Tapi Ibie adalah orang yang berintegritas. Pada tanggal 12 November 1922, saat berpidato di depan peserta Kongres ke-IV Komunis Internasional (Komintern) di Petrograd, Rusia, Ibie terang-terangan menentang tesis yang disusun oleh Lenin, yang menekankan perlunya sebuah “Perjuangan Melawan Pan-Islamisme”.

Ibie merasa perlu ‘membela’ Pan-Islamisme, ide yang juga disokong penuh oleh Tjokro. Pada kesempatan tersebut, Ibie juga menceritakan perihal kerjasama yang apik antara komunisme dan Islam dalam menentang kolonialisme dan kapitalisme di Hindia.

“Di Jawa kita memiliki sebuah organisasi yang sangat besar dengan banyak petani yang sangat miskin, yaitu Sarekat Islam. Antara tahun 1912 dan 1916 organisasi ini memiliki sejuta anggota, mungkin sebanyak tiga atau empat juta. Itu adalah sebuah gerakan popular yang sangat besar, yang timbul secara spontan dan sangat revolusioner.” Seru Ibie.

Keberpihakannya pada persatuan faksi Islam dan Komunis dalam perjuangan di Hindia, bukan hanya soal strategi dan taktik belaka. Lebih dari itu, Ibie tak pernah menanggalkan keislamannya, meski dia telah menahbiskan dirinya sebagai pejuang yang berideologi Komunis.

Seperti pengakuannya di depan sidang Komintern, Ibie berteriak lantang, “Kami telah ditanya di pertemuan-pertemuan publik: Ya, saya katakan, ketika saya berdiri di depan Tuhan, saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan seorang Muslim, karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara banyak manusia!”

Maka pantaslah Yang Utama Tokroaminoto berucap, “…Pintu Sarekat Islam selalu terbuka buat Saudara.” Buat dia yang meninggal di tangan anak bangsa yang dengan gigih dia perjuangankan. Dia ditembak mati oleh Suradi Tekebek, tepat pada 21 Februari 1949, dan tak sempat mengetuk pintu Sarekat Islam yang baru saja mengakhiri keadaan uzur.

Muhammad Kasman, SE., M.Si. Ketua II Pimpinan Besar Pemuda Muslimin Indonesia Masa Jihad 2014 – 2019.

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close