TJOKRO CORNER

Tjokroaminoto, Sosialisme dan Kemerdekaan Sejati

Oleh: Muhammad Kasman*

TJOKRO CORNER, EDUNEWS.ID – “Tuan-tuan jangan takut, bahwa kita dalam rapat ini berani mengucapkan perkataan zelfbestuur atau pemerintahan sendiri…” Suara berat bariton menggema dengan kalimat yang berapi-api, membakar semangat hadirin yang memenuhi Gedung Pertemuan Concordia (sekarang Gedung Merdeka), Kota Bandung.

Pemilik suara itu adalah Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, Ketua Central Sarekat Islam (CSI). Tokoh pergerakan yang oleh Belanda digelari De Ongekroonde Koning van Java (Raja Jawa yang Tak Dinobatkan). Dialah Jang Oetama, sang Raja Tanpa Mahkota.

Pagi itu, 17 Juni 1916, Tjokroaminoto sedang menyampaikan pidato pada pembukaan National Indisce Congres (Natico) atau Kongres Nasional Pertama CSI, yang dalam catatan Rambe (2008:82) dihadiri oleh utusan dari 80 Lokal Sarekat Islam (SI) yang mewakili 360.000 anggota Sarekat Islam di seluruh Indonesia.

Natico Pertama CSI yang berlangsung 17–24 Juni 2015 ini merupakan sebuah peristiwa yang patut diapresiasi, sebab inilah kegiatan besar pertama di era pendudukan Belanda yang dengan berani menyebutkan kata natie (kebangsaan) dan zelfbestuur (pemerintahan sendiri). Menghimpun kaum pergerakan bumi putra dari seluruh nusantara: Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali dan Sulawesi.

Dalam bukunya Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia (1980:6), AK. Pringgodigdo mencatat bahwa pada tahun 1916, saat Natico Pertama CSI digelar, anggota SI sudah mencapai 800.000 orang. Sementara Korver (1985:195) menyebut angka 700.000 orang dengan jumlah Lokal SI sebanyak 180.

Dengan dukungan rakyat yang besar, pada hari kedua Natico, Tjokroaminoto berani berteriak lantang, “…bilamana kita memperoleh zelfbestuur yang sesungguhnya, artinya bila tanah air kita, kelak menjadi suatu negara dengan pemerintahan sendiri, maka seluruh lapisan masyarakat semuanya akan menuju ke arah dan bersama-sama memelihara kepentingan kita bersama…”

Memasuki tahun 1917, gerakan SI semakin radikal dan berani menentang berbagai kebijakan pemerintah kolonial dan kian lantang menyuarakan zelfbestuur (pemerintahan sendiri). Pada saat yang sama, pemikiran sosialis diapresiasi secara positif oleh kader-kader SI, terutama di Semarang yang diketuai oleh Semaun, aktivis muda SI, yang sering disebut-sebut sebagai salah satu murid Tjoroaminoto.

Pada Natico Kedua CSI, 20-27 Oktober 1917 di Jakarta, selain menegaskan Islam sebagai landasan perjuangan untuk mewujudkan zelfbestuur, radikalisasi gerakan SI mengkristal dalam program azas SI, “Sarekat Islam senantiasa berjuang melawan segala tindasan kapitalis yang terkutuk (berdosa) itu”. Ini juga tak lepas dari kian kerasnya kaum kolonial melakukan kesewenang-wenangan di berbagai onderneming, terutama di pabrik-pabrik gula.

Kongres juga menegaskan, perjuangan SI melawan segala tindasan kapitalis. Tjokroaminoto dalam sambutannya menegaskan posisi SI sebagai organisasi kaum yang tertindas. “Sarekat Islam sebagai pelindung anak kromo…. Jika onderneming masih tetap bertindak seperti yang sudah-sudah, maka kita hendak mempertahankan hak kita sampai kepada titik darah yang penghabisan.”

Mengomentari ini, dua orang penulis Soviet, Kapitsa M.S. dan Maletin N.P. dalam Soekarno: Biografi Politik (2009:23) menulis, “Pada musim gugur 1917 dalam Kongres Sarekat Islam yang ke-2, bersamaan dengan tuntutan dibentuknya suatu dominion untuk Indonesia, telah tercantumkan juga semboyan untuk dicapainya kemerdekaan.”

Pada tahun 1918, sebagai respon atas radikalisasi gerakan bumiputera, pemerintah kolonial membentuk Volksraad (Dewan Daerah), sebuah pseudo-parlemen yang diisi oleh 19 anggota yang diangkat oleh pemerintah, dan 19 orang yang dipilih oleh rakyat. Tjokroaminoto merupakan salah satu anggota Volksraad karena diangkat.

Menanggapi kondisi ini, internal SI mengalami perbedaan pendapat, faksi yang lebih sosialis menolak keberadaan volksraad dan meminta Tjokroaminoto untuk tidak menerima pengangkatan tersebut, sementara faksi yang lain merasa penting untuk berada di dalam sebagai upaya memaksimalisasi fungsi volksraad.

Menurut Soe Hok Gie dalam Dibawah Lentera Merah (1999:24), Semaun sebagai Ketua Lokal SI Semarang yang terang-terangan menentang volksraad mengatakan, “Hanya Tjokroaminoto seorang saja yang wakil kromo”. Bahkan menurutnya, terdapat lima orang kapitalis yang jelas merupakan musuh kaum kromo.

Dalam upayanya meradikalisasi fungsi volksraad, Tjokroaminoto bersama anggota volksraad dari unsur SI, Budi Utomo, ISDV, Insulinden dan Pasundan membentuk badan federasi dengan nama Radicale Concentratie pada 16 Nopember 1918. Namun kehadiran badan federasi ini tak juga membuahkan hasil. Melihat hal ini, rakyat dan terutama anggota-anggota SI mulai menunjukkan kemarahan.

Pada Natico Keenam CSI di Surabaya, 6 – 10 Oktober 1921, friksi antara kubu Sosialis dan kubu yang lebih moderat kiat menguat. Ketidakhadiran Tjokroaminoto dalam Kongres karena ditahan Belanda, membuat SI terbelah karena kebijakan disiplin organisasi. Faksi sosialis yang dimotori Semaun ‘dipaksa’ memilih tetap di SI atau keluar.

Perpecahan, ditambah dengan masih ditahannya Tjokroaminoto, membuat gerakan SI melemah. Tjokroaminoto ditahan dari Agustus 1921 – April 1922. Sekeluarnya dari penjara, dalam Kongres Al Islamdi Cirebon, 31 Oktober – 2 Nopember 1922, Tjokroaminoto memperkenalkan ide Sosialisme Islam dan program tandhim (perjuangan).

Sosialisme Islam, Sosialisme yang ber-Ketuhanan ala Tjokroaminoto kemudian menjadi ideologi SI pada Natico Ketujuh di Madiun, 17 – 23 Februari 1923. Menurut Ohan Sudjana (1999:31), pada Kongres tersebut, Tjokrominoto menegaskan bahwa SI sedang mendapat sakit, dan obatnya yang paling manjur hanyalah Sosialisme.

Sosialisme Tjokroaminoto adalah sosialisme yang berlandaskan pada ajaran Islam. Dalam Islam dan Sosialisme (1924:22), Tjokroaminoto menegaskan, “Bagi kita, orang Islam, tak ada sosialisme atau rupa-rupa ‘isme’ lain-lainnnya, yang lebih baik, lebih indah dan lebih mulus, selain dari sosialisme yang berdasar Islam.”

Pilihan ideologis Tjokroaminoto ini dipuji oleh Kapitsa M.S. dan Maletin N.P. (2009:20), bahwa hal ini menunjukkan, “Tjokroaminoto merupakan wakil dari kaum inteligensi yang mencerminkan kesadaran nasional Indonesia dan yang telah menciptakan ideologi dari aliran yang lebih radikal dalam gerakan nasional.”

Bagi Kapitsa M.S. dan Maletin N.P. (2009:21), Tjokroaminoto berhasil membaca perkembangan dasar-dasar obyektif yang ada menuju perjuangan pembebasan nasional Indonesia secara menyeluruh, yaitu: adanya suatu bahasa perhubungan antar suku –bahasa Melayu, serta kesamaan agama dari penduduk yang 90% adalah muslim.

Analisa ini diperkuat oleh Nasihin dalam Sarekat Islam Mencari Ideologi 1424-1945 (2012:152) yang menjelaskan bahwa bagi Tjokroaminoto, sosialisme bukan sebuah hal yang harus ditentang, selama sosialisme tersebut adalah sosialisme yang berlandaskan pada agama yang mayoritas dipeluk oleh penduduk bumi putera.

Sosialisme menurut Tjokroaminoto mempunyai tiga anasir: kemerdekaan (vrijheid-liberty), persamaan (gelijkheid-equality) dan persaudaraan (broedeschap-fraternity). Sebelum dunia Barat mengibarkan hal ini, “Semenjak lahirnya, dengan senyata-nyatanya Islam telah mengajarkan dan melakukan tiga perkara yang menjadi anasir (element) sosialisme yang sejati itu”. Tulis Tjokroaminoto dalam Program Azas (1934:59).

Nasihin (2012:217) menjelaskan bahwa Program Azas adalah sebuah aturan dan tuntunan yang ditulis oleh Tjokroaminoto bagi Sarekat Islam dalam mengusung perjuangannya menuju Indonesia Merdeka. Merdeka yang dimaksud di sini adalah kemerdekaan sejati yang mencakup kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan yang diwujudkan berdasarkan Sosialisme Islam.

Kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan dalam perspektif sosialisme Islam merupakan manifestasi dari ajaran tauhid. Kondisi tidak merdeka, penuh dengan ketimpangan, serta hilangnya kesetiakawanan sosial adalah situasi kufur, dzulman dan syirik yang harus lesap dan mesti dilenyapkan.

Tentang kemerdekaan, Tjokroaminoto (1924:32) menulis, “Tiap-tiap orang Islam tidak harus takut kepada siapa atau apapun juga, melainkan diwajibkan kepada Allah saja”. Ini berarti, tak boleh ada ketundukan dan penghambaan oleh manusia atas manusia lain, sebab ketundukan hanya kepada Allah. Ini juga menegaskan tak bolehnya penindasan dan penjajahan.

Dalam Sosialisme Islam, kesetaraan manusia sangat dijaga, yang menjadi pembeda di hadapan Allah hanyalah kualitas takwa. Keadilan gender antara laki-laki dan perempuan juga menjadi hal yang harus ditegakkan. Begitupun kesetaraan antara suami dan istri dalam rumah tangga, kedua belah pihak harus menjaga rasa keadilan.

Soal persaudaraan, Tjokroaminoto (1936) menjelaskan, “Persaudaraan di antara orang-orang Islam satu sama lain adalah sangat bagus. Rasa cinta di antara mereka seperti rasa cinta di antara saudara yang sebenar-benarnya”. Umat Islam dipersaudarakan oleh ikatan iman, dan mereka ibarat satu tubuh.

Bagi Tjokroaminoto, implementasi ketiga anasir ini  di tengah masyarakat, itulah kemerdekaan sejati, terutama bagi kaum muslimin. Untuk mewujudkannya dibutuhkan sebuah model pemerintahan yang bersifat sosial demokrat

Saat Soekarno membaca proklamasi 70 tahun yang lalu, Tjokroaminoto –aktivis pergerakan yang lahir 16 Agustus 1882, tepat ketika Krakatau meletus, di sebuah daerah bernama Bakur, Madiun, Jawa Timur ini, telah marhum sebelas tahun, Tjokroaminoto meninggal 17 desember 1934. Meskipun demikian, kemerdekaan sejati masih saja menjadi arah perjuangan.

Mungkin seruan untuk membasmi kapitalisme sampai ke akar-akarnya, atau semboyan Bersatulah wahai kaum melarat yang menggema dalam Natico Keempat CSI di Surabaya pada tahun 1919 patut dikobarkan kembali untuk merebut kemerdekaan sejati dari kaum neo-imprealis dan neo-kolonialisme.

Muhammad Kasman, S.E., M.Si., Ketua II Pimpinan Besar Pemuda Muslimin Indonesia 2014 – 2019.

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!